Kontemplasi Perjalanan


Banyak orang bertanya, “kamu jalannya ke luar negeri terus, “kamu ga sayang duitnya? Menghambur hamburkan uang itu perilaku selatan lho”
.
Saya seorang penyandang tuna rungu. Waktu masuk sd, ibu menyekolahkan saya di sekolah dasar dengan anak normal lainnya. Berinteraksi dengan teman teman dan guru, saya biasa berkomunikasi dengan melihat gerak bibir mereka.
.
Karena punya keterbatasan secara sosial, saya biasa menghabiskan sebagian waktu saya di perpus. Disitu perkenalan saya pertama dengan nama bola peta dunia atau globe. Waktu itu ada kakak kelas bawa senter, menerangkan tentang fenomena siang malam di belahan dunia. Kemudian dia mengambil atlas membahas tentang tempat keajaiban dunia, gunung tertinggi, hewan hewan unik di belahan dunia. Disitu saya mulai tertarik dengan yang namanya geografi dan sejarah, yang kelak memberi hobi akan kesenangan jalan atau berpetualang.
.
Di kelas, saya suka melamun, “bisakah kelak saya ke negara negara yg di dalam atlas itu. Bisakah aku pergi ke kastil kastil yang ditulis eiji yoshikawa dan enid blyton. Tapi Raporku peringkat 24 dari 32 siswa”. Kata guru saya, minimal pintar kayak habibie baru bisa melancong ke luar negeri. Bikin pesawat di jerman. Ketika saya SD, habibie itu memang role model yang ditanamkan dan selalu dibicarakan ortu dan guru, tukang becak sekalipun. Tak ada orang yang tak tahu di jaman saya, yang tidak mengenal habibie. Tak salah kalau sosok pak habibie melegenda sampai kini.
.
Ketika awal ajaran masuk sekolah, saya selalu mengincar bangku tepat di depan guru saya-untuk mengejar ketertinggalan akademik saya di kelas. Tetapi gagal terus. Karena kalah datang pagi dengan teman yg lain. Karena duduk di bangku belakang membuat saya tidak bisa mendengar guru dan melihat gerak bibir guru sama sekali. Hanya kelas 6 dan SMA saja saya berhasil duduk di posisi depan.
.
Paling cemas ketika sekolah adalah saat saya datang pilek. Kalau datang pilek, bunyi sekeras apapun susah masuk ke telinga. Itu mengapa saya sangat jarang minum es dan tidak boleh kepala saya terpapar air hujan karena bisa sakit pilek.
.
Jika kaki saya sampai sejauh ke negeri biru, itu sbg bentuk kesyukuran pada diri saya. Saya merasa Tuhan tidak menyiakan saya. Dulu saya sering berpikir kekurangan ini akan membuat saya sangat keterbatasan. mengapa saya tidak diciptakan seperti orang normal lainnya. Ketika selintas pikiran tersebut datang, selekas benak saya menyuruh berpikir positif terhadap Tuhan. Selekas benak untuk mengingat masih banyak orang di luar sana yang memiliki kekurangan. Tidakkah kamu melihat kemarin ada pengemis yang tak memiliki tangan dan kakinya buntung. Bajunya lusuh. Meminta-minta. Bukankah kamu kemarin melihat anak tetangga sebelah tidak melanjutkan sekolah. Kamu bisa sekolah, memiliki ortu yang selalu perhatian di sebelahmu dan tak pernah telat bayar spp, teman teman menyenangkan di sekolah. Bukankah itu sudah lebih dari cukup yang diinginkan semua anak di dunia. Sekelebat fatwa fatwa itu melambung di hati dan memberi pijakan agar tak goyah.

.

Bukankah gurumu selalu menasihati bahwa ujian hidup selalu ada. Yang bertahan, sabar dan lulus ujian adalah orang yang kuat. Hidup tidak melulu apa yang selalu kau inginkan. Kekecewaan bukankah kadang juga mengajari bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kau butuhkan daripada sekedar keinginanmu. Jika hari ini kau mendapat ujian, bukankah Tuhan mengatakan kepadamu bahwa kamu bisa mengatasinya. Bukankah Dia memberi tahu bahwa Dia tidak membebani suatu masalah di luar kesanggupan makhlukNya. Sekelebat fatwa fatwa itu melambung di hati dan memberi pijakan agar tak goyah.

.

Kalimat kalimat itu yang sering terlintas ketika saya tiba tiba mengalami kekecewaan dan ketidakmulusan dalam hidup. Entah disebabkan karena karena kekurangan atau kelebihan pada diri ini.

.

Saya tahu bahwa jalan ke luar negeri itu menghamburkan uang. Karena itu selama 8 tahun saya menabung. Saya selalu sisihkan penghasilan buat piknik saya. Ketika uang sisihan tak cukup, saya tak pernah memaksa diri berkelana. Setiap orang memiliki corak dan condong kehiburan dan kebahagiaannya sendiri. Ada yang lebih ke material possesion, bermain musik, mengajar, piknik dll. Saya tahu bahwa tak selamanya hidup mengejar sebuah pengembaraan yang jauh jauh. Karena terkadang kesederhanaan sebuah pengembaraan, bisa juga mendatangkan kebahagiaan. Bahkan ketenangan batin bisa saja muncul bila plesiran ke pantai dekat rumah, memasak, bertemu sanak saudara, kerja sosial, melihat tumbuh kembang anak, dan menyenangkan pasangan. Sayangnya saya belum beruntung untuk poin terakhir 🙂 .

.

Jangan lupa terus mensyukuri nikmat yang nyaman, yang kau dapatkan hari ini. Tidak membandingkan nikmatmu dengan nikmat lebih orang lain. Jangan lupa menyebut namaNya ketika kau menemukan kesulitan. Bahwa kamu tidak akan sendirian mengatasi masalahmu. Jangan lupa berbuat kebaikan terhadap orang lain bahkan hanya dengan seraut senyum di wajah yang tulus. Dan Jangan lupa untuk menikmati hidup. InsyaAllah mendatangkan ketenangan hati.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kontemplasi Perjalanan

  1. Avant Garde berkata:

    beneran mau stop keliling dunia nder?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s