Destiny

DESTINY

Six years ago, I still remembered this moment. Moment that would be unforgettable memory in my life. I and Jaka went to town from my village. The distance is so far, maybe it is about 30 kilometres. We took bus in early morning, after praying at dawn. We wanted to see a new in newspaper about the result of university entrance exam. We really hoped that we would be accepted to study in Gajahmada University, Our dream university. After we reached at bus station, we dropped in magazine shop near station. So crowded inside. I encountered  teens buying the same newspaper as we did. We bought Jawa Post. Jaka opened pages of newspaper in curiosity and impatient.

“ Look!! Here is your name… Congratulation” Jaka exclaimed

“ What’s university?” I asked

“ Gajahmada University. You are student at Civil engineering. Finally your dream comes true, Indra”

I am still not believed what I just heard. Suddenly I felt out of confusion turn to happy.

“ how about You, Jaka?” I asked him while he was looking for his own name.

Then he replied ” I am not lucky today”. His face looked so down. I felt pity to him. “ If I had studied harder, I would have passed this test” he took deep breath

“ You can go to study at local university here. There are few of remarkable university in this town” I tried to comfort him. Jaka is my childhood friend. We always have the same class from elementary school until senior high school. And of course, we always go to school and back home together. So you can guess how close we are. We have the same hobby in travelling, interest in culture and we always being together in up and down. Yogyakarta is our study destination dream since we knew many alumnus graduated there being successful person in their life.  That’s what made me sad  when I knew that he failed on his test.

We went back home. On bus trip, we didn’t talk each other. Jaka was enjoying a farmland scenery in outside of the bus. I knew, Jaka was still disappointed. That can not be hidden by looking at his face. Full of great sorrow. Suddenly, I broke up the silence.” Jaka, I think I couldn’t go to Yogya. If I were rich boy, I would continue my study. You know, Abah is still struggling of his lung cancer. He needs more money for his medical treatment. Also my brother is still finishing his majority in medical faculty. I couldn’t imagine what happen next. I don’t want my brother suddenly cutting up his class.  Maybe, next year I will continue my study”

“ that’s bad idea, Indra. Your Father disagree with you surely. I know your father more than you think”

“yeah. but you know, Ibnu’s father needs an employee in his shop.  I can save my money before I go to study to Yogya next year”

“Stop talking nonsense. Your Father would be disappointed of you. You have to take this opportunity. You can take a spare time there if you want to work. You could be private lecturer for elementary school student”.

“Okay, but it will be better waiting the result of STAN entrance exam. I hear from everybody, this college pays free for its student”.

“the announcement will be informed two months later. How if you fail on this test. You’ll get looser” his voice sound angry  a little bit

After that, We kept in silence. We were still busy to think of our own world.

*******

I arrived home.

“How about your test?? “ Abah asked while sitting in his wheel chair.

“I failed, Abah? “ I lied

“You are kidding. Jaka’s Father just called me in telephone.he said that you was successful in exam”

At that time, I can not talk bullshit again in front of Abah. “ Abah, I think I want searching for a job in this town. We all know that we have financial problem”.

“Don’t worry about that” Abah tried to convince me. “What can you do with a senior high school diploma. You will get nothing”.

I said, “No, Abah, you don’t need to do this for me. I know Abah loves me, but…”

“Shh, my son, let your Abah keep his promise.”Abah insisted ,“ it is my obligation to make my son being successful person. Just be happy, that’s the only thing you ought to do,” he said touching at my shoulder, and smiling broadly. I said nothing and my mother could only shrug her shoulders. we all knew that nobody in this home could protest in his way.

“Don’t make stupid mistakes there. You must study hard. And then don’t go home before you are graduated.

“Abah…”

“I will try to attend your graduation ceremony” Abah replied cutting my words. Don’t worry about home”.

 *******

 Two months Later.

My handphone made noise when I had a class.

Indra, Now I am student at State Accountancy College.

A message was sent by Jaka. I smiled slightly. Sometimes, God always make us surprised by His design. Unpredictable.

 ******

 Four years later

After trying to survive in Yogya, Finally  I could finish my study. It was kind of a very tough effort  if I remembered how hard being student even living alone and  far away from my homeland. Although I was not a cumlaude,still  I could smile happily. I passed my study on time with excellent mark Suddenly,.I felt a rush myself.  I wanted to make a call to my parent in home. Giving a joyful news about my graduation.

“Assalamualaikum …..” I started conversation

“Wa alaikumussalam. what brings you to call me up, Indra?”

“Oh, mom, I … I …I just miss you. I’d like to talk a little to Abah, please. Is he there? Mom, could you …?

I heard a deep sigh at the end of the line. Mom kept silent.

“Mom, I am engineer now. Abah must be proud of me” I continued my words

“Abah had died four years ago. Seven days later after you was boarding at Selaparang Airport. hm…He ordered me not inform to you when he was dying. But don’t be sad, Indra. Now Abah is smiling at you in heaven”

Akhirnya Mimpi Kugapai

Kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu, ketika saya mudik ke kampung halaman saya. Waktu itu saya tengah menikmati senja bersama adik sepupu saya di pantai dekat rumah saya. Tak lupa juga saya mengambil beberapa gambar disana.Tiba-tiba ada seseorang memanggil saya dari kejauhan. Sekejap saya langsung menoleh ke arah suara.Seseorang berlari menghampiri ke arah tempat saya berdiri. Sepintas dari wajahnya, saya mengetahui kalau dia adalah kawan masa kecil saya di kampung, panggil saja namanya mariyana.

‘Hai friend bagaimana kabarmu?’ sapanya dengan ramah

‘Hei kamu’ ucapku seraya mengeluarkan tanganku dari saku jaket untuk berjabat hangat dengan dia.

“lama tidak berjumpa kawan. Saya baik baik saja”kataku

“wew, baru pindah ke singkawang. Sudah dapat amoy belum?.” aq tertawa simpul mendengar pertanyaanya.

“kok kamu tahu saya bekerja di kalimantan?” “ibumumu banyak cerita kepadaku. ibumu tidak pernah menyangka kalau kamu harus berkerja di kalimantan”

‘Oooo…

…………………………..

Ceritapun terus mengalir dari bibir kami. kami bercerita tentang apa saja yang telah kami lewati di tahun tahun sebelumnya.sesekali kami tertawa lepas mengingat kelucuan kami di masa lalu. Sementara itu, di kejauhan Matahari membenamkan tubuhnya di permukaan pantai. ombak terus berkejar-kejaran mencipta buih. Menyanyikan sebuah simponi indah di Langit sore.

Kuajak dia menikmati secangkir teh di kedai yang tak jauh dari tempat kami. Saya berkawan baik dengan kawan saya ini ketika saya masih SD. Sebenarnya Sudah tujuh tahun kami tidak pernah berjumpa dan menjalin komunikasi, terutama ketika saya pindah sekolah ke kota waktu SMA. Dulu di kampung saya, mayoritas banyak anak laki-laki daripada perempuannya. Jumlah anak perempuannya masih bisa dihitung dengan jari tangan. Mau tidak mau kawan saya yang wanita ini ikut bergaul dan bermain bersama anak laki-laki. Kawan saya ini cukup mahir bermain permainan pria sebut saja layang- layang, panjat pohon, kelereng, kaleles, sepak bola, kejar-kejaran, naik sampan, bahkan berkelahi. Pokoknya tomboy abis. Dia juga bisa berlari cepat layak umumnya pria. Hal ini yang membuat dia selalu jadi juara lomba lari di kota saya dari tingkat SD sampai SMA. Dia menguasai semua jenis lomba lari mulai dari jarak 100 meter sampai maraton. Dia memang memiliki bakat dalam olahraga, tapi dari sisi akademis, tidak terlalu mengecewakan dan tidak bodoh amat. Begitu yang saya tahu dari kawannya. Dia pun juga tidak pernah ketinggalan kelas.

Ada momen yang masih membekas dalam hati saya sampai sekarang. Pernah Suatu hari saya dan kawan kawan beristirahat duduk di atas pohon mangga di dekat pantai sembari memandang langit sore yang cerah. Waktu itu kami baru saja selesai bermain petak umpet. Lazimnya anak kecil, kami membicarakan film film dan pemainnya yang kami tonton di televisi. Film Power Rangers menjadi topik pembicaraan kala itu. Lalu tiba-tiba diantara kami mengalihkan pembicaraan tentang cita-cita kami andai dewasa nanti. Saya masih ingat, waktu itu saya menjawab ingin menjadi dokter. Maklumlah waktu itu, ibu saya seorang bidan dan satu satunya di kampung saya. Tenaga medis begitu sedikit sekali. Ini juga yang membuat saya migrasi dari tanah jawa, berpisah dengan kakek-nenek karena ibu mendapat tugas pengangkatan PNS sebagai bidan di kalianget, sebuah desa kecil di Madura yang kelak menjadi kampung di mana masa kecil saya dihabiskan. Cita-cita kawan kawan saya bervariasi mulai dari menjadi superman, robin hood, pilot, tentara dan lain lain. Yang Unik cita-cita kawan saya yang wanita ini (mariyana). Dia ingin menjadi seperti pak Saleh , tetangga dekat rumah yang berprofesi sebagai guru olahraga di Sebuah Sekolah Dasar di kampung kami. Anak-anak langsung tertawa begitu mendengarnya. Maklumlah perempuan kok menjadi guru olahraga bukannya perawat, bidan ataupun guru dan di kampung kami saat itu memang tidak ada guru olahraga wanita. Sebagian besar penduduk di kampung kami bermata pencaharian sebagai nelayan. Tanah kampung kami tidak cocok menjadi lahan bercocok tanam karena tanahnya yang tandus dan dekat pantai, paling paling cuma bisa ditanami tembakau atau jagung. Saya sendiri berasal dari orang tua kalangan terdidik dan ini yang membuat saya mengerti tentang pentingnya pendidikan. Ibu saya seorang bidan dan Papa saya pegawai di sebuah balai pertanian.

Kebanyakan dari kawan kawan saya di kampung hanya sanggup menyelesaikan studinya hingga jenjang SMP atau paling tinggi SMA. setelah lulus, ikut orang tuanya berkerja menjadi penangkap ikan di laut, atau buruh pengasinan ikan ataupun kuli bangunan di kota. begitulah potret kemiskinan di kampung kami. Sekolah tinggi hanya bisa menjadi impian utopia bagi anak anak di kampung. Saya sendiri hanya bisa nelangsa melihat kawan saya putus sekolah. Tidak bisa berbuat banyak. kadang keadaan begitu menyakitkan bagi mereka yang tidak pernah mereguk manisnya kehidupan. ortu saya selalu bilang “kamu harus bersyukur lahir dari keluarga ini dan kamu jangan menyiakan kesempatan yang ada,kamu saya sekolahkan tinggi tinggi untuk masa depan dan kebaikan kamu”.kata kata ibu saya ini masih terus terngiang di telinga hingga saya dewasa.

Pada Suatu Malam hari ibu mariyana datang ke rumah karena sakit. Waktu itu ibu saya masih membuka praktek untuk pasien. Sambil disuntik, ibu mariyana bercerita ke ibu saya kalau anaknya tidak mau makan karena permintaannya melanjutkan sekolah SMA tidak dikabulkan. Ibu saya waktu itu hanya bisa memberi saran agar sekolahnya tetap dilanjutkan dam orang tua harus bisa mencari biaya buat tambahan buat anaknya bersekolah. Sesekali juga ibu saya mengkritik ibu mariyana agar ikut KB, Maklumlah anaknya sudah enam.

Ibu saya memandang bahwa gairah kawan saya ini untuk mengenyam bangku sekolah belumlah padam. Berbeda dengan kawan saya yang lain yang hanya bisa pesimis untuk bersekolah tinggi begitu melihat orang tuanya miskin. Ibu saya sering juga mengatakan bahwa paradigma ini yang membuat orang orang di kampung kami kehilangan motivasi. Setelah mendapat saran dari ibu saya, akhirnya bapak-ibu mariyana memberi izin kepada anaknya.

Keesokan harinya, Saya masih ingat waktu itu Mariyana membuatkan nasi jagung dan sayur daun maronggi, makanan favorit keluarga saya sebagai tanda terima kasih. Sejak saat itu dia bersekolah di SMA negeri di desa kami, sedangkan saya bersekolah di kota karena NEM saya lolos dari daftar pagu yang ada. Sejak itu kami tidak pernah tahu kabar yang terjadi diantara kami. kabar terkahir yang kudengar, dia menjuarai POPDA di kota kami dan masuk seleksi PON.

tujuh tahun berlalu…kini dia menjadi PNS dan mengabdi di Sebuah SMP di kampung kami. Yeah. menjadi Guru Olahraga, Impian Masa kecilnya. Yang bikin saya heran ternyata dia menyandang sarjana keolahragaan. bagaimana mungkin dari Keluarga Pas-pasan, untuk makan saja sudah susah,tapi ia masih bisa kuliah.

“Itulah Rahasia Allah. Allah Selalu memberi kemudahan jalan bagi setiap hamba-hambanya yang ingin mengejar ilmu. Setiap kesulitan pasti selalu ada kesempatan kalau kamu menyadarinya.” Aku tertohok mendengar jawabannya. Ada Rasa haru menyelinap dalam tubuh saya. “Uang yang saya dapatkan dari lomba atletik, saya simpan di tabungan termasuk bonus lain dari guru dan bapak bupati. memang tidak seberapa. setidaknya saya bisa membayar uang kuliah pada semester awal. Untuk menjamin hidup saya selama ngekos, saya mencoba bekerja sambilan menjadi penjaga toko di dekat kampus. Saya juga mencari tambahan dengan mencuci dan menyertrika baju baju kawan saya. Berat memang pada awalnya, Tapi saya percaya Tuhan akan menggantikannya yang lebih. Di saat saya sedang terjepit dengan kondisi keuangan, Saya selalu mendapat Ilham. this like message from universe”

Sambil menahan air matanya, Ia kemudian melanjutkan “Saya juga jarang pulang kampung. Jarak yang jauh dengan kampungku dan mahalnya akomodasi jadi pertimbangan saya. kamu pasti bisa menebak dimana saya merenda hari hari ketika musim lebaran tiba. Dan kemudian tahun tahun terus berlalu, saya berhasil menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu hingga akhir tiba saatnya saya diwisuda. Saya memboyong orang tua dan adik adik saya dari kampung dengan sisa tabungan saya. Ada kebahagiaan bercampur aduk di hati saya, ketika orang tua saya menyaksikan saya diwisuda. Ini seperti tidak mungkin.” “Saya hanya bisa terharu melihat perjuangan kamu” Kata saya ketika ia menyelesaikan cerita tentang sekelumit perjalanan hidupnya.

“Tetap semangat” kata saya lagi sambil tersenyum.

“Saya berterimakasih banyak kepada orang tua kamu terutama ibu kamu. Kalau tidak,mungkin saya sudah menjadi buruh pembawa pasir laut seperti orang tua saya. Kemiskinan bukanlah penghalang dan saya telah membuktikan itu”. Well, sekarang dia menjadi inspirasi bagi masyarakat kampung kami,murid murid di sekolahnya dan juga keluarganya terutama adik-adiknya. Kini ia tengah menikmati metamorfosa hidupnya. Rumahnya yang dulu berdindingkan dengan kayu sudah berganti dengan tembok.

%d blogger menyukai ini: