Semarak Imlek Kota Singkawang

>

 pesta kembang api menandai masuknya tahun baru cina
 lampion raksasa

Sebenarnya saya lagi malas bikin blog, tapi tidak tahu kenapa hari ini seperti ada tangan tak tampak yang menuntun hati saya untuk membuat tulisan ini. Well, saya terinspirasi sekali dengan foto foto teman saya di situs sebelah tentang perayaan Imlek. Saya pernah merasakan sekali hingar bingar penyambutan tahun baru cina. Kejadian ini saya alami ketika saya bekerja  di kota Singkawang. Kota yang sebenarnya pada awalnya masih asing bagi saya-walaupun akhirnya ternyata saya juga bisa menginjakkan kaki saya disana ketika mendapatkan mutasi kerja. Awal awal bekerja di kota singkawang selalu bawaannya homesick, kangen rumah di jawa maklum baru pertama kali jauh dari orang tua. Tidak mau terjebak di kosan terus, saya mencoba mengusir kebosanan saya dengan melanglang buana alias ngebolang seantero kota singkawang. U know, Singkawang is the hidden paradise city for me. Tidak hanya memiliki pantai dan kuil kuil, tetapi juga bukit bukit yang mengelilingi kota singkawang yang membuat kota ini selalu tampak adem bin sejuk meski dilalui garis khatulistiwa. Hal semacam ini tentunya membuat saya betah bertempat tinggal di kota singkawang dan sedih sekali ketika harus meninggalkan kota  ini karena mendapatkan tugas belajar di Jakarta. Saya beruntung mempunyai teman kantor yang hobi jalan jalan terutama bang yadi . Mungkin kalau tidak ada bang Yadi, saya mungkin tidak akan terlalu hafal dengan seluk beluk kota ini. Apalagi dengan suka relanya dia meminjamkan motornya ketika saya masih belum memiliki cukup duit untuk membelinya. Banyak sekali momen yang membuat saya selalu terkenang akan kota Singkawang. Dalam blog ini saya ingin berbagi kisah tentang perayaan imlek dan Festival Cap Gomeh di kota Singkawang yang pernah saya alami.

     me dengan lampion lampion

Hiasan Lampion di Pohon Beringin

Well, ketika perayaan imlek tiba, semua sudut kota berparaskan lampion-lampion. tidak hanya ditemukan di jalanan saja, Rumah rumah penduduk seakan tidak mau kalah menyambut gema imlek. biasanya selain lampion, di teras rumah juga digantung kertas-kertas berwarna merah nan cantik dengan gambar gambar yang lucu dan dihiasi kerlap kerlip lampu aneka warna dengan warna merah sebagai warna dominasi. rumah satu dengan rumah sekitarnya berlomba-lomba menampilkan wajah terbaik dalam menyambut imlek. Bagi mereka Imlek adalah puncak perayaan  kota singkawang yang sebagian besar penduduknya didiami hampir 80% etnis tionghoa hokkian.

Barongsai Jalanan

biasanya sekali pertunjukan barongsai, mereka bisa mendapatkan pendapatan sebesar 1 juta. Rezeki benar benar nomplok ketika perayaan imlek. Mereka biasanya mengincar perumahan juragan juragan cina yang kaya dan melakukan pertunjukan di sekitar jalanan tersebut. ide yang brilian.

Festival LaguMandarin

kue keranjang terbesar untuk memecahkan rekor muri

antrean warga yang ingin merasakan kue keranjang

Kue keranjang (sering disingkat Kue ranjang) yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee (甜棵) , yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang , adalahkue yang terbuat dari tepung ketan dan gula , serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaantahun baru Imlek. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek)

                             kue keranjang

Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (玉皇大帝,Yu Huang Da Di). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Pawai Lampion

    Tatung Menjadi dayak tarik Festival Cap Go Meh

Atraksi “tatung” dalam memeriahkan perayaan Cap Go Meh (15 hari Imlek menurut penanggalan China) merupakan salah satu ritual dalam membersihkan suatu kota dari gangguan roh-roh jahat. Tatung sendiri adalah seorang dukun yang kerasukan arwah leluhur atau roh setelah menjalani ritual. Setelah kerasukan roh seorang tatung tersebut melakukan berbagai atraksi di luar kemampuan manusia sadar, seperti berdiri di atas sebilah pedang tajam, Menusuk pipinya hingga tembus ke pipi sebelahnya dengan Jarum / Potongan kayu yang ujungnya sudah diruncingkan  bahkan tidak segan-segan menggigit seekor binatang hidup, seperti, anjing, ayam dll. Mereka diarak di sepanjang jalan kota singkawang dan tempat perhentian terakhir setelah pawai Cap Go Meh adalah di kelenteng yang terletak di jantung kota. Keberadaan kelenteng ini tidak bisa dilepaskan dari bagian sejarah kota singkawang, karena disinilah peradaban kota singkawang hidup. toko toko pedagang bermunculan di sekitar kelenteng ini dan menjadi pusat sentra strategis perdagangan rakyat. Kelenteng ini biasanya sangat ramai diziarahi oleh masyarakat tionghoa pada hari hari suci umat khonghucu. Umumnya penduduk kota singkawang menyebutkan kelenteng ini dengan kata “pekong”.


Me dengan Tatung Yang Belum Kerasukan Roh.

Kelenteng di Jantung Kota
sebagian foto dibawah ini saya ambil dari album teman saya.
 
mbak Deny sangat  menikmati perayaan imlek
narsis di depan replika kelinci
Patung Kelinci menyambut tahun kelinci
serasa di negeri sakura

Buat teman teman blogger yang masih penasaran, anda bisa bikin rencana jalan-jalan ke kota singkawang untuk menyaksikan pesona Imlek disana. Saya menjamin,teman teman blogger tidak akan kecewa dan bakal mendapatkan kepuasan tersendiri. Karena saya  sendiri pernah mengalaminya. biasanya ketika mendekati imlek, hampir semua kamar hotel sudah di boking. turis turis berdatangan dari segala macam penjuru seperti sarawak,sabah, jakarta maupun taiwan. Tapi jangan khawatir, karena masih banyak rumah penduduk yang disulap jadi kosan harian ketika imlek. Ongkos penginapan semalam sekitar 80 rb/hari untuk satu kamar. Well, tunggu apalagi !!

First Time I Love Badminton

Dulu ketika Indonesia berhasil mengawinkan Piala Thomas dan Uber pada tahun 1994, sejak saat itu demam bulutangkis melanda keluarga kami. Fenomena ini dimulai ketika Mia Audina berhasil memenangkan pertandingan penentuan Uber saat kedudukan imbang 2-2 melawan china. Mia Audina yang saat itu masih berumur 14 tahun menjadi  Hero of the Match. Kami biasanya menyebut Mia sebagai bocah ajaib. Usianya yang masih bau kencur mampu mengalahkan  Wang Chen yang umurnya masih di atas Mia. Rata-rata pemain bulutangkis biasanya memiliki masa keemasannya di atas umur 20 tahun tetapi Mia di usia yang belia telah mengukir sejarah. Pada tahun 1995 dia berhasil menjuarai piala dunia bulutangkis (badminton World Cup). Di era tahun 90-an, Sosok Mia Audina masih berada dibawah bayang bayang Susi Susanti, Sang Mantan Ratu Bulutangkis. Tetapi Mia tetaplah Mia. Mia Audina bagi saya adalah pemain berbakat yang menginspirasi saya pertama kali untuk bermain bulutangkis. Kualitasnya tidak diragukan lagi. Permainan bola bolanya benar benar tak terduga dan tidak mampu dibaca lawan. Memiliki cita rasa seni sendiri. Kalau Susi Susanti terkenal dengan Ratu Lob, maka Mia bagi saya adalah Ratu “the crazy shot”. Belum lagi kepiawaiannya melakukan pukulan overhead, bikin benar benar gak nahan. Bola bola yang seharusnya diambil dengan pukulan backhand, tapi Mia justru berakrobatik meliukkan punggungnya dalam mengambil bola. So, jangan salah kalau permainan saya juga mengadopsi gaya pukulan overhead ala Mia Audina. Saya masih ingat waktu itu, setelah pergelaran piala Thomas uber, ayah saya membelikan dua raket untuk mas saya dan saya sendiri. Pas main pertama kali bulutangkis di lapangan sepakbola dekat rumah, saya sering sulit mengambil bola shuttlecock. Hopeless. Bolanya sering luput mengenai raket. Saya sering dimarahi mas saya karena tidak cepat bisa bermain dan beradaptasi dengan permainan bulutangkis. Sejak saat itu saya males bermain bulutangkis lagi. Ternyata benar benar susah main bulutangkis.

Pada tahun 1996, 14 tahun yang lalu, saya yang masih umur delapan tahun sempat menyaksikan  stasiun TVRI pertandingan final Olimpiade Bulutangkis antara Mia Audina versus Bang Soo Hyun dari Korea Selatan. Sebenarnya keluarga kami sangat terpaksa menyaksikan channel TVRI karena cuma stasiun televisi ini yang bisa ditangkap oleh antena saya. Hal ini bisa dimaklumi karena kami tinggal di pelosok di Pulau Madura. Apalagi di jaman itu, SCTV, Indosiar, RCTI adalah hal yang langka di daerah kami. Padahal sudah tiga tiang ditancapkan sehingga antenna kelihatan tampak tinggi, tetap saja tidak menerima sinyal stasiun televisi swasta. Kalaupun menangkap sinyal, itu tidak akan bertahan lama karena gambar televisi akan menjadi kabur berbintik-bintik, beuh. Kembali ke pertandingan Olimpiade Mia Audina tadi, saya benar benar takjub. Gaya permainannya sangat sabar dan mentalnya telah terasah dengan matang. Meski harus kalah 3 set dan mendapat medali perak, saya tetap salut dan bangga. Sejak saat itu saya mencoba kembali menekuni dunia bulutangkis yang awalnya saya sempat tinggalkan. Cita-cita saya tercipta dalam satu malam pasca menonton penganugerahan medali olimpiade yaitu menjadi atlet bulutangkis. Yeah, sebuah cita-cita yang tidak pernah kesampaian. Meski begitu saya tetap mencintai dunia bulutangkis dan tidak pernah melewati perkembangan  bulutangkis dunia. Saya juga masih menyaksikan turnamen yang disiarkan oleh stasiun televisi mulai dari Uber Cup, Thomas Cup, Piala Sudirman, All England dan Turnamen Super Series lainnya. Saat ini di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, saya masih rutin bermain bulutangkis setiap hari sabtu. Dulu ketika masih SD, mas saya sering menjadi sparring partner. Saya biasanya main di Jalan Raya di depan rumah. Well, Jangan bedakan antara Jalan Raya di kampong dengan Jalan Raya di kota. Arus lalu lintasnya biasanya sepi dan tidak banyak orang berlalu-lalang. Saya akan berhenti sejenak bermain kalau ada kendaraan lewat, lalu bermain lagi setelah kendaraan tersebut telah melintasi jalan di tempat kami bermain. Kalau boleh dibilang, saya dengan mas saya adalah generasi pertama yang mempopulerkan bulutangkis di kampong kami. Gara-gara kami, teman teman saya di kampong ikut-ikutan beli raket.

My Journey On The Deep Blue Java Sea

Mudik adalah tradisi yang sudah mendarah daging dalam nadi keluarga saya. Mama  asli Ngawi dan papa asli mojokerto. Semua jawa tulen. Saya sendiri bungsu dari dua bersaudara, lahir dan besar di madura sejak kecil. Mama, Papa dan kakak saya sekarang tinggal di Sumenep tepatnya di kalianget, sebuah desa kecil di ujung timur pulau madura. Bertemu kakek, nenek, saudara papa dan mama pada hari lebaran adalah waktu yang dirindukan saya. Tradisi sungkeman, bertemu dengan sepupu sepupu, dan jalan-jalan ke tempat wisata di kota kakek dan nenek saya tinggal. Dan yang membuat saya bersemangat menyambut lebaran  apalagi kalau bukan angpau dari kakek dan nenek . Perjalanan mudik selalu lancar. bebas hambatan dari rumah kami dengan naik bus. Mudik dari madura menuju jawa tidaklah seramai mudik dari arah jawa ke madura yang antreannya menuju kapal kadang sampai 1 km , terutama bagi mereka yang membawa mobil atau naik angkutan bus. Populasi Orang Madura yang hidup diperantauan jumlahnya cukup banyak. Kondisi tanah pulau yang tidak subur dan kurang produktif dengan barisan pegunungan kapur di sekelilingnya menyebabkan suku bangsa madura mencari nafkah di negeri orang adalah pilihan tepat memperbaiki taraf kehidupannya. So jangan heran begitu musim lebaran, pulau madura serasa ramai  dan sesak karena berdatangan orang-orang madura dari perantauan.

Di bulan Agustus Tahun 2006 saya diterima tes yang mengharuskan saya kuliah di balikpapan. Saya bersyukur bisa bersekolah di balikpapan, karena saya bisa merasakan untuk pertama kalinya naik pesawat dan pertama kalinya saya menjejakkan kaki di tanah orang. Setelah selama dua bulan mengenyam ilmu di bangku kuliah, tibalah saatnya mudik Lebaran. Saat itu saya bingung hendak pulang dengan menggunakan transportasi apa. Ongkos pesawat begitu mahal untuk ukuran kantong saya yang anak kos-kosan saat itu. Apalagi mendekati lebaran, tiket pesawat melonjak gila-gilaan mencapai 7oo ribu. Saya mencoba mencari alternatif lain dengan mudik menggunakan kapal. Saya berhasil memperoleh tiket kapal KM Nggapulu yang tarifnya cuma 200 ribu. Kapal milik PELNI buatan Jerman ini kaya akan fasilitas dan sarana. Ada restoran KFC, bioskop, ruang musala, ruang kabin yang memadai dan lain lain. Alhamdulillah saya tidak sendiri, semua teman saya lebih memilih mudik naik kapal ke pulau jawa dari pulau kalimantan. Kami bersembilan. Saya sendiri, Tufeil, Sigig, Priyo,  Tian, Surya, Zaki, Eko dan Mita, personel wanita satu-satunya di grup kami. Yeah, hitung hitung dengan perjalanan panjang  ini, kami bisa mengenal seperti apa sesungguhnya Selat Jawa yang sebelumnya hanya kami tahu dari atlas jaman esde dulu. Terlebih lagi melewati perairan masalembo (segitiga bermudanya indonesia) yang menjadi tempat tragedi tenggelamnya kapal tampomas II di taon 80-an yang terkenal itu dan  pesawat Adam Air juga diperkirakan tenggelam di kawasan ini. hi…that’s scary, bro.


KM Nggapulu

saya bertolak dari pelabuhan Semayang Balikpapan menuju Tanjung Perak, Surabaya sekitar pukul 12.00 WITA. Kapal yang saya tumpangi bertingkat sampai lantai tujuh. Mirip kapal pesiar dan cukup megah. Kapal ini besar dan lebih besar dari yang pernah saya lihat sebelumnya,  Maklum kalau menyebrangi madura ke jawa, saya sekeluarga naik feri yang ukurannya  tidak  seberapa dengan kapal ini. Do u know my prend? Kapal ini ternyata membawa penumpang dari  Jayapura, Tidore , Kendari, Pare-Pare, Balikpapan dan akhirnya akan membuang sauh terakhir di Surabaya. Wow, can you imagine berapa massa berat yang harus ditanggung kapal ini? ketika saya menaiki tangga dari dermaga menuju kapal, yang lebar tangganya cukup untuk dua orang, terjadilah aksi dorong-mendorong antar penumpang. Mereka berdesak-desakan cepat masuk. Muka saya terkena tamparan kardus kardus barang bawaan penumpang dan kacamata saya nyaris hampir pecah. Semua penumpang tidak sabar masuk ke kapal karena siapa yang berhasil duluan masuk kapal bisa mendapat tempat dan posisi bagus di kapal. Saya yang memegang tiket kelas ekonomi TANPA KABIN, mau tidak mau saya berebut harus mencari tempat yang nyaman dan menghamparkan tikar. Buritan kapal menjadi pilihan saya dan teman-teman karena bisa melihat alam dengan bebas. Saya sangat menikmati perjalanan dengan kapal ini. Hari itu sangat indah dan cerah. Meski matahari saat itu bersinar terik, angin laut yang bertiup kencang segera menggantikannya dengan kesejukan, sehingga panas tidak terasakan oleh saya. Pakaian dan rambut saya berkibar kibar tanpa henti. Berada di atas lautan membuat saya merasakan sebuah euforia. ketika berada jauh di tengah lautan dan daratan tidak tampak oleh mata, saat itulah saya merasakan keindahan sebuah lautan. Ombak ombak seakan tidak pernah lelah menari. Begitu dinamis. Ikan ikan bermunculan dan meloncat di atas permukaan laut seolah alam telah memiliki ritme kehidupannya sendiri, seperti di lautan ini.

Ketika malam tiba, sesuatu yang menjadi kecemasan saya akhirnya menjadi kenyataan. Saya harus tidur di buritan kapal malam itu karena tidak mungkin bagi saya untuk masuk ke dalam lorong lorong kapal yang sudah berjubel penuh dengan penumpang dan tentunya sangat susah untuk mencari area kosong yang dapat dijadikan sebagai tempat peristirahatan atau sekedar menggelar tikar. Seandainya saya memiliki tiket kabin atau VIP, mungkin malam itu saya bisa merasakan enaknya tidur di atas kasur yang empuk dan private room sendiri. Alhasil seperti saya duga sebelumnya, selama satu malam itu saya tidak bisa tidur menahan dingin dan terus terjaga sampai sahur. Tapi tak apalah semua penderitaan saya toh terbayar. Di ruang yang bebas terbuka tanpa atap ini, saya jadi leluasa melihat sunset dan rembulan yang menggantung di perairan jawa.

Suasana malam di lautan begitu hening. Temaram cahaya lampu yang berderet di sepanjang tepian buritan  mencipta syahdu. Angin malam berhembus kencang. Lautan di mata kami bagaikan kuburan yang siap menerkam siapa saja. Dengan dibantu sinar bulan kami melihat ombak begitu besar memecah kesunyian. Sesekali terdengar teriakan penumpang dan suara pengeras dari nakhoda memberitahukan posisi kami di laut dalam koordinat. Setelah hampir 15 jam kapal membelah selat jawa, suara pengeras anak buah kapal kembali memecah keheningan. Awak kapal menginformasikan bahwa makanan sahur bisa dibeli di restoran milik kapal. Waktu itu saya dan teman-teman memesan ayam Fried Chicken KFC dan minuman botol Aqua. Perut terasa keroncongan maklum sejak magrib hanya makan buah-buahan, snack dan roti selai. Tak lama kemudian Azan subuh menggema dari speaker dan aktivitas sahur kami terhenti. Kami solat subuh berjamaah di musala yang cukup menampung 500 0rang. Ada pengalaman lucu ketika salat duhur berjamaah di kapal waktu siang tadi. Saya hendak menunaikan sholat empat rakaat duhur tetapi imamnya ternyata solat duhur dan asar dengan jama qasar. So, saya terpaksa mengulangi salat saya.
Setelah selesai salat subuh, saya melanjutkan dengan aktivitas mengaji. Hari masih pagi. Ketika saya keluar dari musala menuju buritan, sudah banyak orang dari dalam kapal berbondong bondong keluar. Sekedar menikmati sunrise yang sebentar lagi tiba. Kabut tipis fajar berganti mega merah. burung burung laut meliuk-liuk di kaki langit. Pagi terasa indah ketika Matahari mulai mengintip di balik horizon. Cahayanya berpendaran di penjuru lautan. Sinarnya yang jingga dalam sekejap menyulap permukaan lautan serasa ladang emas. Banyak orang yang mengabadikan momen ini. hape saya yang waktu itu tidak dilengkapi dengan fitur kamera hanya bisa menatap kagum hikzz..

Tak lama kemudian gugusan pulau tak berpenghuni menyembul dari dasar lautan menemani kami saat tiga jam akan tiba di tujuan. Sebagian pulau ada yang berpenghuni  dengan satu rumah dengan tiang pemancar di sebelahnya. Entahlah untuk apa tiang-tiang itu. Di sepanjang pulau pulau itu juga terdapat banyak kilang minyak. Kapal Patroli Angkatan Laut melewati kapal kami dari arah berlawanan.  Beberapa tentara sedang bersiaga di atas kapal patroli. Benak saya kemudian membayangkan film Pirates of Carribbean yang dibintangi si Johny Deep “kapten Jack Sparrow”. Sungguh bukan pilihan yang mudah bagi mereka, Para prajurit Angkatan Laut ataupun awak buah kapal yang bekerja di kapal komersial/pesiar untuk menjadi manusia lautan seperti si kapten Jack Sparrow, yang mengabdikan seluruh hidupnya di Lautan.


KM Nggapulu

Paginya saya mencoba masuk ke dalam kapal, niatnya mau mandi pagi di lantai bawah tetapi saya malah memasuki kabin dan bangsal-bangsal orang yang masih tertidur. Banyak lukisan suku asmat, ukiran patung, dan foto-foto bertemakan Papua seperti foto puncak Jayawijaya dengan salju abadinya di dinding sepanjang lorong kapal. Ternyata saya baru menyadari, nama kapal ini (nggapulu) diambil dari nama sebuah puncak di Pegunungan Jaya Wijaya. Nuansa Indonesia Timur sangat kental memenuhi interior kapal. Setelah muter-muter akhirnya saya menemukan juga toilet untuk mandi. Sayang fasilitas mewah dan wah yang terdapat di dalam kapal ini tidak bisa membuat saya merasa nikmat. WC kadang belum sempurna disiram oleh orang-orang, keran air juga belum dimatikan.belum lagi semrawutnya orang orang di kapal membuat pemandangan di dalam kapal menjadi jorok. puntung rokok,tisu dan ingus serta ludah berjejalan di lantai. Apalagi kapal ini bukan kapal yang mengangkut ternak, tetapi penumpangnya malah yang menjadi ternak. Orang Indonesia setidaknya harus bisa bersikap manusiawi terhadap fasilitas umum seperti toilet dengan selalu menjaga kebersihannya. apa iya, masyarakat Indonesia jorok seperti itu. tentu tidak khan. Sedikit kekecewaan  kembali saya rasakan karena awak buah kapal tidak menginformasikan pada kami ketika mencapai perairan masalembo. Kata ayah saya yang waktu muda berpengalaman naik kapal dari surabaya ke banjarmasin, biasanya kapal akan membunyikan sirine begitu tiba di perairan ini. Sehingga bisa mengheningkan cipta bersama. kadang ada awak kapal yang memberi buket bunga yang diberikan secara cuma cuma pada penumpang untuk ditaburkan ke lautan sebagai bentuk untuk mengenang korban tragedi tenggelamnya Kapal Tampomas II.

Jam 10 pagi tak terasa kami tiba di pelabuhan Tanjung Perak. Saya segera bergegas. Lagi-lagi tangga yang belum sempurna mencapai dermaga, orang-orang sudah berkerumunan di pintu keluar. Kali ini saya menunggu sampai penumpang tidak berdesak-desakan. Saya dan teman-teman kemudian turun dan berpisah di dermaga pelabuhan. Tak lupa kami berfoto dengan latar KM Nggapulu untuk mengenang perjalanan kami dengan hape milik Sigig. Sayang sekali foto ini tidak bisa diupload disini karena filenya hilang entah kemana. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke dermaga arah madura yang tidak jauh dari dermaga kapal  KM Nggapulu turun. Dan Sekilas tampak oleh saya, kapal Fery Joko Tole sedang berlabuh ke tepian menyambut kedatangan saya. Sementara itu di seberang tampak membentang Pulau Madura yang akan siap memeluk jiwa raga saya. Pulau yang telah membesarkan saya dengan kesahajaannya dan membuat saya selalu tetap cinta. Dalam suasana penuh kerinduan ini, rasa kangen terus membuncah bersama seberkas raut wajah papa mama yang hadir di benak saya. Menyemangati langkah saya untuk segera menyebrang. Madura, I’m coming.

Museum Bank Indonesia : Not Just another Museum

Ini enaknya jadi mahasiswa, selalu mempunyai waktu libur selain hari minggu yaitu hari sabtu. Seperti biasa, sesuai dengan hobi saya yang menyukai dunia keluyuran, pada hari sabtu kemarin saya berkesempatan menjelajahi Keeksotisan Kota Tua Batavia. Sebenarnya sabtu kemarin saya sedang menganggur di kosan. Karena kaki saya gatel gak bisa diajak kompromi terpaksalah saya menuruti ego, bahwa tiada hari libur tanpa jalan-jalan.

Saya biasanya sedikit males kalau harus ber-solo turis sebab mau foto sendirian mesti pake self timer. Lama-lama saya bisa masuk Rumah Sakit Jiwa. So, terpaksalah dengan sedikit rayuan bin ancaman, saya berhasil mengajak teman saya, Tosa, untuk ikut bernapak tilas ke kota tua. Berawal dari browsing sono sini, baca blog sono sini, ngaskus sono sini, ngopi sono sini, baca buku sono sini sebelumnya, akhirnya saya mendapat spot spot menarik di kota tua yang bakal saya sambangi.

buku wisata kota tua (a must read book)

Sebagai penganut paham low cost travelling, tentu saja menghemat ongkos dan menghemat waktu perjalanan adalah mutlak bagi saya. Yang terpenting esensi mendapat kepuasan jalan jalan yang maksimal merupakan sesuatu hal yang saya utamakan. Belum lagi sabtu ini si Tosa, sahabat saya yang kebetulan hari itu sedang naas alias bokek, terpaksalah saya meminjamnya fulus dengan jaminan wesel tagih no interest, beuh.

Dari kosan saya berangkat naik angkot D09 menuju simpang empat bintaro. Kemudian dilanjutkan jalan kaki sekitar lima menit menuju arah stasiun Pondok Ranji. Dari stasiun ini, saya naik KRL ekonomi AC Ciujung pukul 09.18 WIB menuju stasiun Tanah Abang. Disini saya merogoh kocek sebesar 4500 rupiah, beuh. Kebiasaan menggunakan kereta api ini sudah menjadi langganan atau semacam fardhu ain kalau hendak berpergian ke Jakarta Pusat ataupun Jakarta Utara. Saya selalu mencatat dan menyimpan baik baik semua brosur jadwal kereta api. Semua berawal  dari pengalaman saya yang tidak menyenangkan dengan makhluk bernama angkot, bis PPD atau kopaja, metromini dan semacamnya. Belum lagi kebiasaan supir yang ugal-ugalan (belom lagi kalau supirnya abis selesai teler) dan suka ngetem yang tidak mengenal ampun banget, beuh. So, pilihan berangkat dengan kereta api ekonomi ber-AC, I think it would be better. Saya tidak perlu merasa berkeringat, tidak perlu takut macet di jalanan, tidak perlu menunggu lama di setiap stasiun (paling lama cuma semenit) benar benar menambah kualiatas kepuasan saya. Perjalanan ini hanya menempuh waktu sekitar 15-20 menit ke tanah abang. Dari tanah abang saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Tua dengan angkot 08. Perjalanan dengan angkot ini hanya menempuh waktu sekitar 20 menit dengan tarif 5000 rupiah, beuh.

Tempat pertama yang saya Jelajahi adalah Museum Bank Indonesia. Memasuki Pelataran Museum, kita telah disuguhi dengan bangunan bergaya klasik eropa, Perpaduan gaya Victorian dan Renainsance. Mulanya Gedung Kantor Pusat Bank Indonesia ini adalah bekas bangunan rumah sakit dan De Javasche Bank yang didirikan pada tahun 1828. Dalam perjalanannya, bangunan ini mengalami berbagai renovasi hingga akhirnya diambil alih menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953. Memasuki Pintu Masuk Museum Bank Indonesia, Wow..wow..wow, saya serasa memasuki istana Buckingham. Saya sangat takjub dengan Kaca Patri yang menghiasi dinding bangunan serta Keindahan arsitektur di dalamnya yang tidak bisa saya lukiskan kekaguman saya. Desain interiornya benar-benar memikat. Museum ini memiliki fasilitas AC (baca: air conditioner), sehingga saya tidak perlu khawatir berkeringat di dalam museum ini. Saya jadi membayangkan sendiri seandainya ruangan ini disulap menjadi TPT, WP pasti betah berleha-leha menunggu antrian kalo pas tanggal 20. Di Museum Bank Indonesia, Pengunjung tidak ditarik karcis sepeser pun alias GRATIS. Sebelum kita memasuki lebih dalam ruangan ini, kita akan diberikan selembar kertas berisi pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda oleh receptionist. Setiap Pengunjung wajib mengisi jawabannya dan memberikan hasilnya untuk dinilai sebelum keluar dari museum. Untuk mengisi jawabannya, kita harus membaca berbagai diorama atau panel informasi yang berada di dalam museum ini. Panel ini tersedia dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Menarik khan. Jadi disini  kita berwisata sambil belajar sejarah.

mandi koin

   

—Tv Touchscreen———-Kapal Dagang————-Rempah Rempah—-

Museum Bank Indonesia berbeda dengan museum yang sudah sering saya temui. Kesan kuno tidak akan anda temui disini. Konsep Museum ini menggunakan media peraga multimedia sehingga terkesan atraktif. Nuansa Hi-Tech begitu mendominasi di setiap sudut ruangan. Setelah melewati pintu receptionist kita akan dikenalkan tentang informasi sejarah BI serta bentuk organisasinya dengan menggunakan monitor touchscreen yang dapat dioperasikan sendiri. Setelah itu, kita akan memasuki ruangan Pemandian Uang yang begitu gelap. hm kamu pasti bingung khan membayangkan seperti apa bentuk ruangan ini. Justru di tempat inilah sensasi petualangan mulai terasa. Disini kita akan menangkap koin koin yang berterbangan di layar. Begitu kita menggenggam koin koin ini, akan bermunculan bermacam informasi tentang uang di layar. Mainan dengan menggunakan proyektor istimewa ini merupakan salah satu area paling meriah dan seru. Kita serasa berada di dalam dunia khayalan dengan hujan penuh koin koin. Ruangan ini sebenarnya “No Camera” . Jadi semua pengunjung sudah dilarang mengambil gambar disini. Dasar badung, ternyata banyak pengunjung yang tidak mematuhi rules-rules ini, termasuk saya ;-p . Saya tidak tahu apa kamera saya kurang canggih, ternyata susah ngambil gambar disini, beuh.

Penampakan pertama layar koin jadi putih. Kemudian saya coba matikan lampu flash, hasil yang ketangkep kamera malah burem. kaburrrr. Jadi ngiri lihat pengunjung yang pake DLSR, gambarnya malah nangkep T.T

 

Setelah cukup bersenang senang di ruangan pemandian uang, kemudian saya berlanjut ke tempat bioskop mini. Ruangan ini mungkin cukup menampung sekitar 50 orang. Disini nantinya akan disuguhi film tentang sejarah BI dan perkembangan moneter dari tahun ke tahun dengan durasi sekitar 30 menit. Sayangnya, ketika saya memasuki ruangan bioskop ini, tidak ada penonton sama sekali, Sehingga filmnya tidak diputar. Setelah bioskop mini, saya kemudian memasuki lorong lorong dimana di dindingnya terdapat peta perdagangan kuno di masa lampau. Di situ juga akan dikenalkan dengan repliKa perahu dagang serta bermacam komoditas rempah rempah seperti lada hitam,lada putih, pala dan lain lain. Selain itu disini juga terdapat pigura pigura tentang tokoh tokoh terkenal di zaman perdagangan dahulu seperti alfonso albuqurque, Marcopolo, Laksamana Cheng Ho dan lain sebagainya. Lagu lagu nasional dari speaker mengalun membahana di ruangan ini, Seolah mencoba membangkitkan rasa tanah air setiap pengunjung. Televisi televisi dalam bentuk LCD berbaris rapi di dinding dengan menampilkan berbagai display secara otomatis.

   

Lorong lorong ini kemudian terus berlanjut dengan bermacam panel informasi di setiap dindingnya. Panel ini kalau tidak salah dibagi dalam empat periode sesuai dengan kronologis kehidupan ekonomi politik di masa lalu. Periode sebelum zaman kemerdekaan seperti di masa hindia belanda, masa pendudukan jepang hingga setelah di era kemerdekan seperti di masa RIS sampai masa krisis moneter. Melalui panel informasi ini kita akan membaca sejarah terbentuknya Bank Indonesia pertama kali, Mempelajari Struktur Kelembagaan Bank Indonesia, juga memahami fungsi serta peran Bank Indonesia.

            

                             metamorfosa logo BI

Tidak hanya tentang informasi mengenai BI, panel ini juga berisi informasi tentang masa masa krusial di zaman presiden Sukarno. Pengambilan Kebijakan moneter seperti menaikkan nilai mata uang atau devaluasi misalnya uang Rp 1000 dipotong 90% nilainya sehingga kursnya berubah terhadap dolar. Disini kita juga akan mengenal mengapa di zaman nenek kita dahulu, uang kertas digunting menjadi dua meski dengan potongan tersebut masih sah sebagai alat pembayaran. Saya merasa beruntung tidak hidup di masa Sukarno, karena di zaman tersebut inflasi begitu tinggi. Nilai mata uang berubah ubah bak jamur di musim hujan. Mungkin kalau saya menjadi sebagai pedagang di zaman itu, pasti akan bingung, karena begitu seringnya kebijakan pemotongan nilai mata uang.

Ketika memasuki lorong zaman krisis moneter, saya menjumpai banyak pesawat telepon tersusun berderet deret rapi. Ternyata di masa krismon, Kantor BI sering mendapat telepon bertubi tubi dari rakyat yang panik menanyakan apakah banknya termasuk bank yang ditutup. Di dalam lorong ini juga saya menyaksikan televisi televisi LCD berukuran raksasa yang menampilkan secara audiovisual kejadian di masa krismon, seperti pergolakan antara tentara dan rakyat maupun pergerakan revolusi oleh mahasiswa di masa itu. Suasananya mirip home teather.

Ruang Pamer Batangan Emas dan Numismatika

Banyak ruang pamer yang menjadi tempat favorit pengunjung. Salah satunya ketika memasuki ruang pamer emas batangan. Disini kita akan melihat tumpukan batangan emas yang dilindungi dengan kaca transparan. Tampak begitu berkilau dan mengundang mata setiap pengunjung. Batangan emas ini memiliki kadar emas 99,99% dengan ketebalan 4 cm dan berat sekitar 13,5 kg.Wow. saya sendiri sempat mencoba memegang benda tersebut. terasa begitu berat di tangan saya.

Tidak jauh dari ruang pamer ini, terdapat ruang numismatika. Ruangan ini mewajibkan setiap pengunjung mematikan lampu flash kamera. Disini, saya menyaksikan bentuk bentuk uang yang beredar mulai dari zaman kerajaan sampai zaman kolonial belanda, spanyol, portugis maupun jepang. Yen, Gulden, Peso sampai  mata uang rupiah satu sen, satu rupiah hingga seratus ribu rupiah.

Koin Logam Kerajaan Sumenep

Uang Token

Saya baru menyadari kalau di zaman Soekarno masih mengenal mata uang rupiah berdasarkan konsep kedaerahan. Ada uang rupiah Irian Barat, Uang Rupiah Kepulauan Riau dan Uang Rupiah Lampung. Jadi di masa tersebut, mata uang rupiah belum seragam. Selain itu, di ruangan ini terdapat koleksi mata uang dari berbagai Negara eropa, asia, afrika maupun amerika yang ditata rapi dalam sebuah lemari kaca yang bisa digeser. Tidak kalah menarik, koleksi mata uang kerajaan kerajaan di nusantara pun tersimpan baik di museum ini. Ternyata dahulu kala, Kerajaan Sumenep punya mata uang sendiri lho. So, that means  masyarakat sumenep telah memiliki peradaban yang maju di zaman dahulu, right? telah membuka hubungan dagang dengan dunia luar dan menerapkan sistem perekonomian terbuka. Saya sendiri jadi bangga sebagai putra kelahiran sumenep.

Destiny

DESTINY

Six years ago, I still remembered this moment. Moment that would be unforgettable memory in my life. I and Jaka went to town from my village. The distance is so far, maybe it is about 30 kilometres. We took bus in early morning, after praying at dawn. We wanted to see a new in newspaper about the result of university entrance exam. We really hoped that we would be accepted to study in Gajahmada University, Our dream university. After we reached at bus station, we dropped in magazine shop near station. So crowded inside. I encountered  teens buying the same newspaper as we did. We bought Jawa Post. Jaka opened pages of newspaper in curiosity and impatient.

“ Look!! Here is your name… Congratulation” Jaka exclaimed

“ What’s university?” I asked

“ Gajahmada University. You are student at Civil engineering. Finally your dream comes true, Indra”

I am still not believed what I just heard. Suddenly I felt out of confusion turn to happy.

“ how about You, Jaka?” I asked him while he was looking for his own name.

Then he replied ” I am not lucky today”. His face looked so down. I felt pity to him. “ If I had studied harder, I would have passed this test” he took deep breath

“ You can go to study at local university here. There are few of remarkable university in this town” I tried to comfort him. Jaka is my childhood friend. We always have the same class from elementary school until senior high school. And of course, we always go to school and back home together. So you can guess how close we are. We have the same hobby in travelling, interest in culture and we always being together in up and down. Yogyakarta is our study destination dream since we knew many alumnus graduated there being successful person in their life.  That’s what made me sad  when I knew that he failed on his test.

We went back home. On bus trip, we didn’t talk each other. Jaka was enjoying a farmland scenery in outside of the bus. I knew, Jaka was still disappointed. That can not be hidden by looking at his face. Full of great sorrow. Suddenly, I broke up the silence.” Jaka, I think I couldn’t go to Yogya. If I were rich boy, I would continue my study. You know, Abah is still struggling of his lung cancer. He needs more money for his medical treatment. Also my brother is still finishing his majority in medical faculty. I couldn’t imagine what happen next. I don’t want my brother suddenly cutting up his class.  Maybe, next year I will continue my study”

“ that’s bad idea, Indra. Your Father disagree with you surely. I know your father more than you think”

“yeah. but you know, Ibnu’s father needs an employee in his shop.  I can save my money before I go to study to Yogya next year”

“Stop talking nonsense. Your Father would be disappointed of you. You have to take this opportunity. You can take a spare time there if you want to work. You could be private lecturer for elementary school student”.

“Okay, but it will be better waiting the result of STAN entrance exam. I hear from everybody, this college pays free for its student”.

“the announcement will be informed two months later. How if you fail on this test. You’ll get looser” his voice sound angry  a little bit

After that, We kept in silence. We were still busy to think of our own world.

*******

I arrived home.

“How about your test?? “ Abah asked while sitting in his wheel chair.

“I failed, Abah? “ I lied

“You are kidding. Jaka’s Father just called me in telephone.he said that you was successful in exam”

At that time, I can not talk bullshit again in front of Abah. “ Abah, I think I want searching for a job in this town. We all know that we have financial problem”.

“Don’t worry about that” Abah tried to convince me. “What can you do with a senior high school diploma. You will get nothing”.

I said, “No, Abah, you don’t need to do this for me. I know Abah loves me, but…”

“Shh, my son, let your Abah keep his promise.”Abah insisted ,“ it is my obligation to make my son being successful person. Just be happy, that’s the only thing you ought to do,” he said touching at my shoulder, and smiling broadly. I said nothing and my mother could only shrug her shoulders. we all knew that nobody in this home could protest in his way.

“Don’t make stupid mistakes there. You must study hard. And then don’t go home before you are graduated.

“Abah…”

“I will try to attend your graduation ceremony” Abah replied cutting my words. Don’t worry about home”.

 *******

 Two months Later.

My handphone made noise when I had a class.

Indra, Now I am student at State Accountancy College.

A message was sent by Jaka. I smiled slightly. Sometimes, God always make us surprised by His design. Unpredictable.

 ******

 Four years later

After trying to survive in Yogya, Finally  I could finish my study. It was kind of a very tough effort  if I remembered how hard being student even living alone and  far away from my homeland. Although I was not a cumlaude,still  I could smile happily. I passed my study on time with excellent mark Suddenly,.I felt a rush myself.  I wanted to make a call to my parent in home. Giving a joyful news about my graduation.

“Assalamualaikum …..” I started conversation

“Wa alaikumussalam. what brings you to call me up, Indra?”

“Oh, mom, I … I …I just miss you. I’d like to talk a little to Abah, please. Is he there? Mom, could you …?

I heard a deep sigh at the end of the line. Mom kept silent.

“Mom, I am engineer now. Abah must be proud of me” I continued my words

“Abah had died four years ago. Seven days later after you was boarding at Selaparang Airport. hm…He ordered me not inform to you when he was dying. But don’t be sad, Indra. Now Abah is smiling at you in heaven”

Akhirnya Mimpi Kugapai

Kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu, ketika saya mudik ke kampung halaman saya. Waktu itu saya tengah menikmati senja bersama adik sepupu saya di pantai dekat rumah saya. Tak lupa juga saya mengambil beberapa gambar disana.Tiba-tiba ada seseorang memanggil saya dari kejauhan. Sekejap saya langsung menoleh ke arah suara.Seseorang berlari menghampiri ke arah tempat saya berdiri. Sepintas dari wajahnya, saya mengetahui kalau dia adalah kawan masa kecil saya di kampung, panggil saja namanya mariyana.

‘Hai friend bagaimana kabarmu?’ sapanya dengan ramah

‘Hei kamu’ ucapku seraya mengeluarkan tanganku dari saku jaket untuk berjabat hangat dengan dia.

“lama tidak berjumpa kawan. Saya baik baik saja”kataku

“wew, baru pindah ke singkawang. Sudah dapat amoy belum?.” aq tertawa simpul mendengar pertanyaanya.

“kok kamu tahu saya bekerja di kalimantan?” “ibumumu banyak cerita kepadaku. ibumu tidak pernah menyangka kalau kamu harus berkerja di kalimantan”

‘Oooo…

…………………………..

Ceritapun terus mengalir dari bibir kami. kami bercerita tentang apa saja yang telah kami lewati di tahun tahun sebelumnya.sesekali kami tertawa lepas mengingat kelucuan kami di masa lalu. Sementara itu, di kejauhan Matahari membenamkan tubuhnya di permukaan pantai. ombak terus berkejar-kejaran mencipta buih. Menyanyikan sebuah simponi indah di Langit sore.

Kuajak dia menikmati secangkir teh di kedai yang tak jauh dari tempat kami. Saya berkawan baik dengan kawan saya ini ketika saya masih SD. Sebenarnya Sudah tujuh tahun kami tidak pernah berjumpa dan menjalin komunikasi, terutama ketika saya pindah sekolah ke kota waktu SMA. Dulu di kampung saya, mayoritas banyak anak laki-laki daripada perempuannya. Jumlah anak perempuannya masih bisa dihitung dengan jari tangan. Mau tidak mau kawan saya yang wanita ini ikut bergaul dan bermain bersama anak laki-laki. Kawan saya ini cukup mahir bermain permainan pria sebut saja layang- layang, panjat pohon, kelereng, kaleles, sepak bola, kejar-kejaran, naik sampan, bahkan berkelahi. Pokoknya tomboy abis. Dia juga bisa berlari cepat layak umumnya pria. Hal ini yang membuat dia selalu jadi juara lomba lari di kota saya dari tingkat SD sampai SMA. Dia menguasai semua jenis lomba lari mulai dari jarak 100 meter sampai maraton. Dia memang memiliki bakat dalam olahraga, tapi dari sisi akademis, tidak terlalu mengecewakan dan tidak bodoh amat. Begitu yang saya tahu dari kawannya. Dia pun juga tidak pernah ketinggalan kelas.

Ada momen yang masih membekas dalam hati saya sampai sekarang. Pernah Suatu hari saya dan kawan kawan beristirahat duduk di atas pohon mangga di dekat pantai sembari memandang langit sore yang cerah. Waktu itu kami baru saja selesai bermain petak umpet. Lazimnya anak kecil, kami membicarakan film film dan pemainnya yang kami tonton di televisi. Film Power Rangers menjadi topik pembicaraan kala itu. Lalu tiba-tiba diantara kami mengalihkan pembicaraan tentang cita-cita kami andai dewasa nanti. Saya masih ingat, waktu itu saya menjawab ingin menjadi dokter. Maklumlah waktu itu, ibu saya seorang bidan dan satu satunya di kampung saya. Tenaga medis begitu sedikit sekali. Ini juga yang membuat saya migrasi dari tanah jawa, berpisah dengan kakek-nenek karena ibu mendapat tugas pengangkatan PNS sebagai bidan di kalianget, sebuah desa kecil di Madura yang kelak menjadi kampung di mana masa kecil saya dihabiskan. Cita-cita kawan kawan saya bervariasi mulai dari menjadi superman, robin hood, pilot, tentara dan lain lain. Yang Unik cita-cita kawan saya yang wanita ini (mariyana). Dia ingin menjadi seperti pak Saleh , tetangga dekat rumah yang berprofesi sebagai guru olahraga di Sebuah Sekolah Dasar di kampung kami. Anak-anak langsung tertawa begitu mendengarnya. Maklumlah perempuan kok menjadi guru olahraga bukannya perawat, bidan ataupun guru dan di kampung kami saat itu memang tidak ada guru olahraga wanita. Sebagian besar penduduk di kampung kami bermata pencaharian sebagai nelayan. Tanah kampung kami tidak cocok menjadi lahan bercocok tanam karena tanahnya yang tandus dan dekat pantai, paling paling cuma bisa ditanami tembakau atau jagung. Saya sendiri berasal dari orang tua kalangan terdidik dan ini yang membuat saya mengerti tentang pentingnya pendidikan. Ibu saya seorang bidan dan Papa saya pegawai di sebuah balai pertanian.

Kebanyakan dari kawan kawan saya di kampung hanya sanggup menyelesaikan studinya hingga jenjang SMP atau paling tinggi SMA. setelah lulus, ikut orang tuanya berkerja menjadi penangkap ikan di laut, atau buruh pengasinan ikan ataupun kuli bangunan di kota. begitulah potret kemiskinan di kampung kami. Sekolah tinggi hanya bisa menjadi impian utopia bagi anak anak di kampung. Saya sendiri hanya bisa nelangsa melihat kawan saya putus sekolah. Tidak bisa berbuat banyak. kadang keadaan begitu menyakitkan bagi mereka yang tidak pernah mereguk manisnya kehidupan. ortu saya selalu bilang “kamu harus bersyukur lahir dari keluarga ini dan kamu jangan menyiakan kesempatan yang ada,kamu saya sekolahkan tinggi tinggi untuk masa depan dan kebaikan kamu”.kata kata ibu saya ini masih terus terngiang di telinga hingga saya dewasa.

Pada Suatu Malam hari ibu mariyana datang ke rumah karena sakit. Waktu itu ibu saya masih membuka praktek untuk pasien. Sambil disuntik, ibu mariyana bercerita ke ibu saya kalau anaknya tidak mau makan karena permintaannya melanjutkan sekolah SMA tidak dikabulkan. Ibu saya waktu itu hanya bisa memberi saran agar sekolahnya tetap dilanjutkan dam orang tua harus bisa mencari biaya buat tambahan buat anaknya bersekolah. Sesekali juga ibu saya mengkritik ibu mariyana agar ikut KB, Maklumlah anaknya sudah enam.

Ibu saya memandang bahwa gairah kawan saya ini untuk mengenyam bangku sekolah belumlah padam. Berbeda dengan kawan saya yang lain yang hanya bisa pesimis untuk bersekolah tinggi begitu melihat orang tuanya miskin. Ibu saya sering juga mengatakan bahwa paradigma ini yang membuat orang orang di kampung kami kehilangan motivasi. Setelah mendapat saran dari ibu saya, akhirnya bapak-ibu mariyana memberi izin kepada anaknya.

Keesokan harinya, Saya masih ingat waktu itu Mariyana membuatkan nasi jagung dan sayur daun maronggi, makanan favorit keluarga saya sebagai tanda terima kasih. Sejak saat itu dia bersekolah di SMA negeri di desa kami, sedangkan saya bersekolah di kota karena NEM saya lolos dari daftar pagu yang ada. Sejak itu kami tidak pernah tahu kabar yang terjadi diantara kami. kabar terkahir yang kudengar, dia menjuarai POPDA di kota kami dan masuk seleksi PON.

tujuh tahun berlalu…kini dia menjadi PNS dan mengabdi di Sebuah SMP di kampung kami. Yeah. menjadi Guru Olahraga, Impian Masa kecilnya. Yang bikin saya heran ternyata dia menyandang sarjana keolahragaan. bagaimana mungkin dari Keluarga Pas-pasan, untuk makan saja sudah susah,tapi ia masih bisa kuliah.

“Itulah Rahasia Allah. Allah Selalu memberi kemudahan jalan bagi setiap hamba-hambanya yang ingin mengejar ilmu. Setiap kesulitan pasti selalu ada kesempatan kalau kamu menyadarinya.” Aku tertohok mendengar jawabannya. Ada Rasa haru menyelinap dalam tubuh saya. “Uang yang saya dapatkan dari lomba atletik, saya simpan di tabungan termasuk bonus lain dari guru dan bapak bupati. memang tidak seberapa. setidaknya saya bisa membayar uang kuliah pada semester awal. Untuk menjamin hidup saya selama ngekos, saya mencoba bekerja sambilan menjadi penjaga toko di dekat kampus. Saya juga mencari tambahan dengan mencuci dan menyertrika baju baju kawan saya. Berat memang pada awalnya, Tapi saya percaya Tuhan akan menggantikannya yang lebih. Di saat saya sedang terjepit dengan kondisi keuangan, Saya selalu mendapat Ilham. this like message from universe”

Sambil menahan air matanya, Ia kemudian melanjutkan “Saya juga jarang pulang kampung. Jarak yang jauh dengan kampungku dan mahalnya akomodasi jadi pertimbangan saya. kamu pasti bisa menebak dimana saya merenda hari hari ketika musim lebaran tiba. Dan kemudian tahun tahun terus berlalu, saya berhasil menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu hingga akhir tiba saatnya saya diwisuda. Saya memboyong orang tua dan adik adik saya dari kampung dengan sisa tabungan saya. Ada kebahagiaan bercampur aduk di hati saya, ketika orang tua saya menyaksikan saya diwisuda. Ini seperti tidak mungkin.” “Saya hanya bisa terharu melihat perjuangan kamu” Kata saya ketika ia menyelesaikan cerita tentang sekelumit perjalanan hidupnya.

“Tetap semangat” kata saya lagi sambil tersenyum.

“Saya berterimakasih banyak kepada orang tua kamu terutama ibu kamu. Kalau tidak,mungkin saya sudah menjadi buruh pembawa pasir laut seperti orang tua saya. Kemiskinan bukanlah penghalang dan saya telah membuktikan itu”. Well, sekarang dia menjadi inspirasi bagi masyarakat kampung kami,murid murid di sekolahnya dan juga keluarganya terutama adik-adiknya. Kini ia tengah menikmati metamorfosa hidupnya. Rumahnya yang dulu berdindingkan dengan kayu sudah berganti dengan tembok.

%d blogger menyukai ini: