September Ceria di Ranu Kumbolo

10300444_10202828470173820_4244888625761765451_n

Gunung selalu memikat siapa saja. Bagi para pendaki, setiap Gunung menaruh kesan tersendiri dan tak bisa dibanding-bandingkan dengan gunung gunung yang lain yang telah mereka daki. Dan Gunung Semeru tentu memiliki tempat spesial tersendiri di hati mereka. Menyandang status sebagai Gunung tertinggi di jawa, Membuat beberapa orang penasaran untuk menaklukan Gunung Semeru. Yeaah, Penaklukan itu ibarat sebuah Obsesi. Memantik adrenalin dan membuat jiwa bersemangat. Sejarah mencatat bahwa pemimpin di dunia merasa jumawa bila ia semakin bisa memperluas wilayahnya. Ada kepuasan duniawi tersendiri ketika seseorang telah berhasil melakukan penaklukan sebuah daerah. Bahkan tak segan-segan untuk terus menambah petak jajahannya. Begitu Juga seorang pendaki gunung. Begitu ia berhasil menaklukan satu gunung, ia akan terobsesi mencoba untuk menaklukan gunung gunung lainnya. Banyak pengalaman berharga dan pelajaran yang diambil dari setiap perjalanan tersebut. Beberapa orang ada yang tiba-tiba menjadi nasionalis. Mendadak Cinta Tanah air. Mereka yang seumur hidupnya tidak pernah jadi paskibraka, dengan bangga menancapkan tiang dan mengibarkan sang merah putih. Beberapa orang tiba-tiba bisa menjadi sosok yang religius karena mengagumi potret mahakarya Sang Pencipta. Membuat dada mereka sesak akan rasa syukur yang selama ini mungkin sering mereka lupakan secara sadar maupun tidak. Beberapa orang ada yang tiba-tiba hidupnya tercerahkan dan mendapatkan diri bisa berpikir positif tentang kehidupannya. Bahwa dibalik kesulitan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. It’s not about destination but the new seeing of things. Salah seorang peserta tur sempat berkata kepada saya bahwa sejatinya ia tak ingin menaklukan gunung tapi menaklukan ketakutan dalam dirinya. Sebab ketakutan itu sendiri yang membuat orang ragu untuk mengambil langkah. hm bijak juga. Jadi ingat sebuah pepatah inggris “All glory comes from daring to begin”

10603476_554593521335519_3579557883756589598_n

Mendaki gunung atau bukit bukanlah hal yang pertama bagi saya. Saya pernah mendaki gunung lokal di dekat homebase saya, bukit sikunir di dataran tinggi dieng, Gunung Penanjakan dan Gunung Bromo yang termasuk dalam lingkaran sabuk pegunungan Tengger. Bagi sebagian orang Pendaki, tentu gunung-gunung yang telah saya sebutkan barusan bukan termasuk kategori Gunung. Mereka berpendapat bahwa medan yang ditempuh terlalu mudah. Hanya berjalan kaki 10 menit seseorang sudah bisa mencapai puncaknya. Karena itu, teman-teman saya yang hobi naik gunung agak males kalo diajak ke gunung-gunung tersebut. Pengennya yang trekking berkilo-kilometer, bawa ransel gunung dengan segala macam persediaan untuk menyambung hidup beberapa hari di Gunung. Survivor. Sebuah pandangan yang menurut saya terlalu skeptis. Menghayati sebuah perjalanan tidak diukur hanya seberapa banyak kilometer yang kamu tempuh, seberapa banyak tempat yang kau singgahi, tetapi seberapa banyak hikmah yang dapat diambil dari sebuah perjalanan itu. Untuk kemudian direnungkan dan diresapi. Beruntunglah mereka yang menemukan makna dan inspirasi hanya dari sebuah perjalanan yang cukup singkat dan bahkan rileks. Tanpa harus pergi jauh-jauh bahkan ke luar negeri.

Well, Trip kali ini bisa dibilang tidak sengaja dan dadakan. Gara-gara buka facebook, terus baca sebuah status di timeline yang muncul di halaman facebook saya, sebuah trip organizer mengadakan open trip ke Ranu kumbolo tanggal 13 september 2014. Hm..Jujur saja saya belum pernah ikut-ikutan tur. Selain mahal juga karena sering tidak klop dengan itinerary yang dibuat trip organizer. Misal dalam sehari hanya menjelajah 2 tempat wisata, padahal kita bisa menjelajah 4 atau5 tempat wisata yang berdekatan sekaligus dalam sehari dengan tingkat kepuasan maksimal. Saya memang tipe-tipe traveler agak serakah kalo menyangkut destinasi wisata. Biasanya saya merencanakan sendiri perjalanan saya mulai dari transportasi, akomodasi, bahkan memesan penginapan. Semua tidak lain karena dampak dari kemajuan teknologi informasi. Media Sosial. Dan Rentang belahan bumi pun seakan tidak berjarak lagi. Ada beberapa situs yang menyediakan jasa pencarian tiket dan perbandingan harga beberapa maskapai. Bahkan ada yang memberi semacam bantuan kepada traveler bagiamana sebuah perjalanan yang akan direncanakan menjadi efisien dan efektif. Situs jejaring sosial seperti facebook pun telah membuat saya sering bisa menumpang gratis di beberapa rumah orang. Awas lho opsi yang terakhir ini tidak saya rekomendasikan. Kita harus selektif milih-milih. Salah-salah kamu bisa bisa besoknya muncul di headline Koran lokal hi…..

“Ayo Kapanlagi kita bisa naik semeru. Ingat lho kesempatan tidak bisa datang dua kali,” Begitulah pergulatan hati saya waktu itu. Hal yang membuat saya enggan adalah ketakutan saya selama pendakian. Sering saya membaca di Koran-koran, para pendaki hilang tersesat bahkan ada yang mati karena tidak mampu beradaptasi dengan iklim gunung. Takutnya kalo saya tiba ada apa apa di gunung malah membuat peserta tur lain berkurang kenikmatannya. Untuk trekking yang agak menanjak saya sering terkendala oleh fisik. Belum lagi bakal dapat lampu hijau dari ortu.

“Hm eksekusi saja” pikir saya. “Nanti kalo tiba tiba dapat travel warning dari ortu bilang saja sudah terlanjur bayar trip”, mendadak jadi licik hehe . Saya kemudian sms adminnya si trip ini yang bernama “Bolang Trip Organizer”. Alhamdulillah masih tersisa kuota 5 orang. Ya sudah saya ikutan saja.

Gegara kepikiran trip ini, selama 5 hari kerjaan kantor jadi sedikit terabaikan. Laporan yang bisa saya selesaikan 1 hari jadi molor gara gara sering bengong liat gambar semeru di PC. Baca-baca blog tentang pengalaman blogger yang sudah pernah kesana. Kali saja dapat tips and trik mendaki ranu kumbolo. Sampe saya baru sadar bahwa ke Ranu Kumbolo harus bawa jaket gunung, sleeping bag sama matras sendiri sama buat surat keterangan sehat.huaaaaa…….

Langsung saja saya minta anterin teman saya ke puskesmas lokal buat surat keterangan sehat. Alhamdulillah Cuma disuruh bayar 5000 saja. Khawatir kalo ada pungutan liar lagi. Tinggal sleeping bag sama matras dan jaket gunung tidak punya. Mau beli online harganya mahal mahal euy, belum lagi dalam 3 hari ke depan barangnya apa bisa langsung datang. Akhirnya Cari pinjeman ke teman sekantor yang hobi naik gunung. Alhamdulillah dapat semua.

“Yakin ndra kita naik ke ranu kumbolo. dekat-dekat bulan oktober lho. Biasanya suhu semeru agak ekstrim. Saya naik gunung oktober tahun kemaren, di ranu kumbolo, air mineral saya jadi butiran es. “

“Awas lo ndra..nanti bisa tersesat”
“Gila ndra, 6 jam perjalanan tuh ke Ranu Kumbolo dari ranupane”

Haiaaaaa..bukannya disemangatin malah sudah ditakutin sama teman teman sekantor saya.

Jumat malem saya nginap di rumah teman saya di sidoarjo, yang kebetulan rumahnya dekat terminal bungurasih. Semalem itu saya tidak bisa tidur. Insomnia. Masih Kepikiran trip besok. Mendaki gunung “yang bener-bener gunung” membuat dada ini terus berdebar-debar. Rasa cemas melebur jadi satu bersama adrenalin yang meletup-letup. “Bisa tidak yah saya naik gunung. Di bromo saja nginep di homestay saja sering bangun malam malam gara gara kedinginan”.

Akhirnya pagi pagi jam setengah enam saya berangkat ke terminal bungurasih surabaya, naik bus menuju malang. Jam 8 pagi akhirnya sudah tiba di malang. Perjalanan cukup ditempuh dua jam saja. Meeting point di stasiun Malang Baru, dekat taman di depan stasiun. Dari terminal saya naik angkot AL menuju stasiun. Rutenya tidak jauh. cukup 15 menit saya sudah sampai di stsiun. Ketika menuju taman di seberang stasiun, disitu ternyata sudah banyak bergerombol anak-anak yang mau naik gunung semeru. Kelihatan dari ransel gunung mereka. Ada seratus orang. Weitsss. Ternyata mereka yang buka usaha open trip ke semeru, biasanya meeting point disini. Akhirnya saya bergerombol dengan peserta turnya mas bolang trip organizer. Nama aslinya mas agus setiawan asli gresik. Dibandingin trip orgnanizer yang lainnya, paket turnya mas bolang boleh dibilang sangat murah. Pas di kantong. Cocok dengan kita yang pengen backpacker hemat tetapi pelayanan tetap kualitas premium.

 10649455_554593204668884_7316767668700985776_n

Kita berangkat ke Ranu Pane jam 10 pagi dari depan stasiun ke RanuPane naik angkot, Agak molor Dari jadwal itinerary, karena masih nunggu 2 orang peserta tur asal Jakarta. Kita Cuma bertujuh orang. Jauh dari estimasi semula yaitu dengan kuota 15 orang karena ada beberapa yang membatalkan perjalanannya. Awalnya saya agak sangsi dengan peserta turnya. Bayangin saaja yang muda Cuma 3 orang. Lainnya sudah bapak dan emak emak berumur 40 tahun ke atas. Kita naek angkot dan turun di desa jemplang. Disini kita sudah ditunggu dengan jeep yang akan membawa kita ke Ranupani. Berhubung dapat info dari teman sekantor, kalo pemandangan menuju ranupane eksotis, Saya memilih berdiri di bak belakang jeep. Dan beneran ternyata amazing banget landscapenya. Saya bisa menghirup udara segar banyak-banyak. Jalanan cukup sepi and I love the atmosphere here.

Karena masalah akses transportasi yang belum memadai ke semeru, hal inilah yang membuat saya ikutan nimbrung di open trip. Agak malas masih carter kesana kemari. Belum nyari temannya buat sharing cost, so ikutan open trip menurut saya hal yang paling mudah menuju semeru. Ikutan Open trip juga bisa buat nambah jaringan pertemanan. Saya saja juga baru kenal mereka semua. Modal Sok Kenal dan Sok dekat haha. Minimal saya belajar banyak bagaimana bersosialisasi dan memulai bicara. Intinya tidak usah dipikirin bakal bagaimana dengan mereka-mereka. Ngeblend saja. Macan kalau tidak diganggu tidak bakal menggigit juga. Sebuah pepatah yang saya pegang selama pendakian. Ikutan tur juga bisa mengetahui mana anggota tur yang passionnya lebih tertarik wisata gunung, pantai atau sejarah. Lumayan kalau bisa ikutan nebeng di kesempatan jalan jalan lainnya.

Jam 12 siang kita sampe di ranupane. Ranupane ini adalah sebuah desa di kaki gunung semeru sekaligus pintu gerbang bagi pendaki yang ingin masuk ke semeru. Sebelum menuju pintu masuk semeru kita akan menemukan sebuah danau cantik dengan sebuah pura yang terletak tidak jauh dari danau. Cuaca waktu itu lagi agak mendung seakan memberi kesan magis sendiri terhadap pura itu #halah. Masyarakat Ranupane ini juga keturunan suku tengger seperti halnya suku tengger di bromo. Sebagian besar hidupnya ditopang dari industri pariwisata Taman Nasional gunung Semeru.

Buat yang mau mendaki semeru atau yang mendaki sampe Ranu kumbolo, ada baiknya makan siang dulu di Ranupani. Disana ada beberapa kedai makanan. Saya juga baru tahu kalo ke Ranukumbolo jalur trekkingnya 10,5 km. Dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo hanya terpisahkan dengan ketinggian 100 m, tetapi untuk menempuhnya kita butuh berjalan 10.5 km dengan perkiraan tempuh 4-5 jam.

10616084_10205003302432996_928655856499102463_nSelama pendakian ke Ranu kumbolo kita akan melewati empat pos. Dimana setiap pos tersebut ada pondok untuk beristirahat dan ada pedagang lokal yang menjual gorengan atau buah-buahan segar, Salut dah sama pedagang ini, tiap pagi menuju pos-pos tersebut Cuma jual makanan dan minuman buat pendaki. Tidak capek yah setiap hari jalan kaki bolak balik hanya untuk mengisi perut pendaki. Sejenak saya tiba tiba merasa bersyukur karena Saya masih merasa beruntung bahwa di luar radar saya, ternyata masih ada orang yang setiap hari harus berjuang begitu kesusahan untuk sekedar menghidupi keluarganya. I feel Your blessing, God.

10626658_554593561335515_3873515968632685090_n

Kebanyakan yang baru pertama kali naik semeru akan kaget ketika menuju pos 1. jalannya agak menanjak. Disini saya sudah ngos-ngosan. Sepertinya dada ini kehabisan udara. Saya mikir ya ampun jalan menuju pos 1 saja sudah kayak gini, gimana jalur selanjutnya..haha kapok.

Saya lirik peserta tur yang lain, haha ternyata ada yang sama parahnya dengan saya. Tetapi hebatnya mereka tetap bersemangat untuk terus melangkah. Kalo kita trekking di hari sabtu atau minggu ke semeru, kekhawatiran bakal tersesat di gunung kemungkinannya sangat kecil. Karena setiap kali kita jalan, kita akan berpapasan dengan para pendaki baik yang akan turun maupun naik ke semeru. Kecuali kita nyari jalan sendiri atau jalur ayak ayak yang biasanya digunakan oleh porter yang kebanyakan warga lokal. Setiap berpapasan dengan pendaki yang lagi jalan atau istirahat, pasti selalu menyapa atau disapa “Mari mas”, “Permisi mas”, “Semangat Mas” dan sejumlah sapaan motivasi santun lainnya seolah telah menjadi mantra wajib yang senantiasa diucapkan para pendaki disini. Kata teman saya, kalo naik gunung, bisaanya akan kelihatan watak orang teman-temanmu. Banyak kasus beberapa peserta yang terpisah dari rombongannya karena tertinggal sama temannya yang jalan kakinya cepat. Hi serem khan.

10613009_554593601335511_5638695876101115499_n

Dari Pos 1 ke Pos 2 treknya lumayan panjang. agak bersabar yah kalo km masih belum nemu POS 2. Saya sering nanya kepada para pendaki yang lagi turun “Mas pos 2 nya udah dekat ga??”. Mereka pasti serempak bilang, “Jalan bentar lagi udah deket mas”.Padahal aslinya treknya masih jauh. Dari Pos 2 Landengan Dowo ke Pos 3 Watu rejeng treknya sekitar 3 km. Ga terlalu jauh amat. Sampe di Pos 3, kami yang awalnya tujuh orang, jadi sisa 3 orang. Lainnya masih tertinggal di belakang. Karena biar sampe ranu kumbolo tidak terlalu gelap, saya beserta 2 peserta tur lainnya sepakat jalan duluan. Biar tidak tersesat, kita sudah dibekali HT sama mas bolang untuk mengetahui posisi terakhir kita. Jalur pendakian Pos 3 menuju Pos 4 jalannya agak nanjak di awal awal dan licin. Banyak yang kepeleset disini. Sempat saya melihat pendaki yang digendong sama temannya karena kakinya tiba tiba kram setelah terpeleset.

Akhirnya jam 6 malam, saya tiba di Ranu Kumbolo. Disana sudah banyak orang pasang tenda. Karena saya ikutan open trip, tendanya sudah jadi duluan sebelum saya sampe di Ranu Kumbolo. Tendanya sudah dipasang sama orang suruhan trip organizer ini. Jujur saja, saya tidak bisa pasang tenda gunung, Tahunya masang tenda limas pas jaman ikut eskul pramuka SD dulu hehe. Untung dah jadi dan saya gak perlu susah-susah.

Sampe di Ranukumbolo, kita bingung nyari tenda kita. Dari HT yang terhubung dengan mas bolang, kita Cuma dapat hint disuruh teriak manggil nama seseorang yaitu mas andi. Mas Andi ini adalah orang yang pasangin tenda kita. Jadilah kita selama lima belas menit teriak-teriak “ Mas Andiiiii….”. Yang bersangkutan juga belum nyahut. Mana saya kedinginan karena belum sempat pake jaket gunung, Setelah muter muter dari tenda ke tenda lainnya, yang diteriakin belum nongol juga. Akhirnya kita menuju pondokan kayu di dekat Ranu Kumbolo. Pondokan ini bisaanya menjual gorengan ataupun kopi dan the hangat sekaligus tempat berteduh. . Akhirnya kita nemu mas andi di dekat pondokan ini. Huffff.

Di Ranu kumbolo saya kelaparan. Untungnya, mas afif, peserta tur dari magelang sudah bawa kompor dan nesting. Jadinya kita masak duluan sambil nunggu mereka yang lainnya datang. Kita bikin Pop Mie. Dan Hm ternyata makan mie di tengah gunung itu benar benar memberikan sensasi berbeda. What a moment !!!!

Setelah makan malam, saya langsung beranjak tidur karena badan ini sudah capek sekali. Menempuh jarak 10 km dengan carrier benar benar membuat kedua pundak saya menjadi linu. Kalo ditekan rasanya sakit. Dan saya pun langsung terpejam di tenda.

“Tolong…..”Tolong”……“Saya minta tolong” seseorang tiba-tiba memecah keheningan. Ranu Kumbolo sudah hampir memasuki separuh malam. Hampir selama 15 menit orang yang minta tolong berteriak kesana kemari. Tetapi tidak ada satupun orang-orang yang beranjak keluar tenda. Padahal saya masih mendengar orang-orang di tenda kejauhan masih bercakap-cakap atau main kartu di tenda mereka.

“Tolong…Tolong..”

Tiba-tiba bayangan Orang itu mendekati tenda saya.

“Mas agus..mas agus..ini ada orang minta tolong. Dibantu dunk. Kita juga ketakutan”. Teriak mbak andara dari tenda sebelah. Mas agus pun terbangun dan segera keluar tenda. Orang itu tampak menggigil kedinginan. Pucat. Sementara angin lembah terus mendesau begitu kencang. Tanpa Ampun. Mengibarkan bendera di depan tenda yang kepakannya cukup terdengar di dalam tenda

“Mas, nginap di tenda saya saja”.

Akhirnya orang itu masuk dan numpang tidur di tenda saya. Kita buatin teh hangat. Rasanya sedih kalo lihat dia sudah sangat pucat mukanya. Kita juga penasaran kenapa orang ini tiba-tiba minta tolong, di tengah malam buta. Ternyata dia adalah turis Malaysia yang nekad naik ke Ranu Kumbolo tanpa ditemani seseorang pun. Nekad bakal dapat tumpangan tenda, malah gak dapat. Menurutku sih wajar, kalo hampir di semua tenda, tidak ada satupun orang langsung beranjak merespon permintaan tolong dia, seseorang bakal mikir-mikir kalo ada stranger yang gak kita kenal. Malam itu, saya yang harus berbagi tenda bersama 4 orang, terpaksa menambah satu orang, yang akhirnya membuat jatah space tempat tidur berkurang. Malam itu sejak terjaga, saya tidak bias tidur nyenyak. Rasanya sulit memejamkan mata lagi. Entah kenapa.

 

10351237_10205010977744874_2953935895265632703_n10628125_10205003480237441_1222629718735403455_n

Besoknya ketika matahari terbit, saya keluar dari tenda. Cuaca begitu hangat. Di luar sudah cukup banyak orang.  Mereka mencoba mengabadikan sunrise di ranu kumbolo. Pemandangan sunrinse di Ranu Kumbolo cukup spetakuler. Matahari langsung muncul di tengah-tengah dua bukit. Mirip gambar matahari yang terbit dibalik gunung- yang biasa sering kita gambar waktu kecil dulu. Belum salat subuh, saya mencoba mengisi air dari danau ranu kumbolo ke botol kemasan air mineral (Ketauan kalo salatnya telat 🙂 ).

11396882_1486849754925628_2736059978341099365_o

Di ranu kumbolo ada larangan mandi atau membasuh muka langsung di danaunya. Hal ini dilakukan agar air tidak tercemar dengan bahan-bahan kimia dimana hampir semua pendaki bergantung pada air ranu kumbolo untuk mencegah kehausan ataupun juga untuk keperluan memasak. Jadi kita baru boleh membasuh setelah kita mengambil beberapa jarak dari tepi danau tersebut.

10352336_1486848884925715_6819191519200017569_n

Meski masih pagi..badai pasir tetap menerjang ranu kumbolo dari semalam. Bahkan kedatangannya tidak pamit dulu. Baru masak masak di nesting buat makan mie, eh tiba-tiba pasir datang bertebangan dan mengotori masakan. Untungnya kita waktu itu gak masak makanan, karena persediaan logistic sisa semalam masih ada. Saya yang bawa sarden, kornet, bawang putih dan cabe, tidak jadi masak. Padahal saya pengen nyoba masak masak di tengah gunung, apalagi sekarang saya lagi hobi-hobinya belajar masak :).

10671268_10205011099987930_70975507847289439_n10696447_10205011112748249_2290197233839571111_n10687052_10205003480957459_9192689623910748930_n

Kalo ke Ranu Kumbolo jangan lupa untuk pergi ke tanjakan cinta dan Ora-Ora Ombo. Tanjakannya berada di balik lembah. Mungkin biar popular dan ngangenin, tanjakan ini dibilang tanjakan cinta. Nah di balik tanjakan ini ada padang bunga edelweiss. Sayangnya waktu itu bulan September, Edelweiss kembali hibernasi ke tidur panjangnya. Padang ini biasanya akan bersemarakkan warna ungu ketika memasuki bulan Mei. Buat kamu yang lagi pacaran, bisa tuh jalan-jalan ke Ora-ora ombo, terus yang laki-laki mengambil setangkai bunga edelweiss kemudian merebahkan lututnya ke pasangan ceweknya yang lagi berdiri dan ngeluarin jurus gombal mautnya sampe bikin si ceweknya klepak klepek..So sweet hehehe.

  DSC01848

1924375_346962968804121_9069250943454926088_n     10665832_347890282044723_5240213193957686310_n   10625027_10205011096507843_6608275692149135848_n   10612613_347890338711384_4666250745928224855_n 10419590_10205003460396945_3322427308701942561_n

10616079_10205003477877382_6361215222905600918_n

Let share happiness by giving gift

Bismillahirrohmaanirrohiiim
Let recite together this powerful verse of Hadist that Al bukhari wrote it in Al-Adab Al-Mufrad 594
“Give gifts and you will love one another.” (“Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai” )

images
As we know, the practice of this amazing deed is rarely applied or implemented recently. This all started from sense of selfishness that making us to hold all treasures and unwillingly give some as gift to others. We see how many things about gift has lost its essence in our life. Gift is just described as paying debt of gratitude. Of course, we might heard some person said “ there is no need to share anything To “A” because he was stingy. But give it to B because yesterday he send kindness by bringing a cake to our house.” Astagfirulloh…I hope we are not kind of that person.

Dear All my brother moslem, why we are so cheap toward the abundant mercies that Allah bestow us. Why it should be not easy to share gift to our family, neighbor, and relatives? What something called “love” has lost in our heart. Yes because love has faded away and it becomes bigger as well as the increasing of selfishness that stayed in our heart.

Nas alulloha salaman afiyah.

So what the importance of sharing gift?
Al-Imam Zainuddin Abdur Rauf Al-Munawiy -rahimahullah- said, “ thus it, the gift will bring your heart to happiness and throw away our heart from hatred. Receiving gifts is sunnah. ”

Dear all my moslem brother, if we reflect on, there are little things that we can do as gift to your fellow. A modest example like when we borrow a book from our friend, we will return the book on good condition. It could be on a beautiful neat wrapped book. See, your friends surely must be happier and smile at that book.

All has its way. Indeed, It is depend on our need and will to share happiness by giving a gift.

West Borneo : Istana Kadriah

07122010534
Masjid Jami Syarif Abdurrahman

Permukaan sungai tampak mengkilat ditempa matahari. Bagai ladang emas disepuh senja. Riuh anak tepian kapuas berenang kesana kemari terdengar bergemuruh. Ah begitu cerianya. Tak ada pemandangan yang lebih indah di kapuas di kala sore hari. Sebuah sepit melintas lebih cepat dari sepit yang saya tumpangi. Amboi cantik nian dare melayu dengan baju kurungnya yang duduk di buritan sepit. Rambutnya tergerai berkibar ditiup angin barat. Sayangnya sepit itu mendarat jauh dari dermaga sepit yang bakal saya singgahi. Setiap kampung di tepian kapuas banyak memiliki dermaga sepit. Di Pontianak, jalur transportasi sungai memang sangat populer dan berusia lebih tua dari pada tranporatsi modern lainnya. Hal ini bisa dimaklumi, karena satu-satunya jalur yang bisa menghubungkan semua kabupaten di Kalbar adalah sungai. Terutama sungai Kapuas yang  menjadi jantung kehidupan penduduk Kalimantan Barat.

131222_1709740314074_1947006_o
Finally my dream comes true..naik sepit 🙂

rute penyeberangan yang saya lewati merupakan rute favorit warga di sekitar Masjid Jami’ –yakni kampung Arab, kampung Beting, dan kampung Bugis—yang ingin menuju pusat kota ataupun juga sebaliknya. Lewat jalur darat harus memutar jauh lewat tol kapuas sehingga tidak efisien. Disamping lebih praktis dan lebih cepat, naik sepit atau ferry juga sangat murah. Cukup dengan uang seribu rupiah penumpang bisa menikmati penyebrangan berdurasi dua sampai tiga menit dengan sampan bermotor atau dua ribu rupiah untuk yang memilih naik ferry. Meski kaya akan sungai dan sudah dialiri air bersih dari PDAM, namun untuk minum, sebagian besar penduduk Pontianak masih mengandalkan air hujan. Jangan heran, jika di halaman rumah sebagian besar penduduk akan dijumpai bak-bak penampungan air berukuran besar. Beruntung curah hujan di kota terbilang cukup tinggi.

Hiat…sekali ayun kaki, akhirnya saya mendarat di kota pontianak. Kota yang dulu katanya banyak dihuni oleh hantu kuntilanak. hi..serem. Masih jelas di ingatan saya, 2 tahun yang lalu ketika pertama kali kaki saya mendarat di kota pontianak. Supir travel yang duduk disebelah saya, yang menjemput di bandara supadio, dan hendak membawa saya ke kota singkawang – bercerita banyak kepada saya.

“Abang kan orang asli sini. Tau ga kenapa kota ini diberi nama pontianak??” Tanya saya berbasa-basi sok akrab. Setidaknya percakapan ini bisa menjadi adaptasi saya yang pertama ketika bertemu warga lokal.

“Pontianak itu nama lain hantu kuntilanak. Untungnya sultan Alqadrie kita bisa menumpas mereka. Kata orang2 jaman dulu disini memang sarang kunti.hihihi..tiba-tiba abangnya bersuara menirukan nada kikikan hantu kunti.

“Ah Abang ini leluconnya gak asik..saya baru mendarat dari bandara sudah dikasih cerita yang menyeramkan”

“hahahaha”

Dari banyak sumber yang saya baca, Kata Pontianak ini sendiri berasal dari nama hantu wanita dalam bahasa Melayu, yang di Jawa dikenal dengan Kuntilanak. Konon ketika tengah menyusuri sungai kapuas untuk membuka kerajaan baru, di suatu tempat yang kini bernama Batulayang, rombongan kapal Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu wanita tersebut. Sultan pun menghentikan rombongan dan memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Setelah kurang lebih lima malam berada di selat yang berada antara Batulayang dan pulau kecil di tengah sungai, putra Syarif Husein bin Ahmad Iftah Shiddiq Alkadrie, mufti kerajaan Mempawah, itu memerintahkan anak buahnya mengisi seluruh meriam dengan peluru. Menjelang subuh, ulama muda itu memerintahkan agar meriam ditembakkan ke tepian sungai.

Selama beberapa waktu suara dentuman meriam menghujani hutan belantara yang berada di sepanjang tepi sungai. Bersamaan dengan berhentinya dentuman meriam, hilang pula gangguan hantu pontianak dan suara-suara aneh dari hutan. Syarif Abdurrahman kemudian memerintahkan untuk menembakkan meriam sekali lagi untuk mencari lokasi pembangunan masjid. hm, Jadi kesimpulannya untuk mengusir hantu tidak perlu pasukan pemburu hantu ataupun jampi-jampi. Dengan mengandalkan suara yang berisik ala bunyi meriam, kuntilanak pun menghilang ketakutan.

Setelah matahari terbit puluhan anak buah menantu raja Mempawah yang juga menantu raja Banjar itu membabat hutan mencari peluru meriam. Ternyata peluru ditemukan dibawah sebuah pohon besar yang di salah satu dahannya terdapat ayunan bayi. Oleh Syarif Abdurrahman pohon itu lalu dibersihkan kulitnya dan dijadikan tiang utama masjid. Rombongan itu lalu bahu membahu membangun bagian-bagian masjid yang seluruhnya berbahan kayu. Usai pembangunan masjid, Syarif Abdurrahman kembali menembakkan meriam. Di lokasi jatuhnya meriam kedua itu lalu dibangun komplek istana Kadriah.

Pontianak memang begitu adanya. Yang sedikit unik, mungkin sultan alkadrie adalah satu diantara banyak pemimpin di dunia, yang berani menamakan kotanya dengan nama musuhnya. Apalagi nama horor macam hantu kuntilanak. Setidaknya nama pontianak masih enak didengar. Coba kalo ada sebuah kota yang banyak dihuni vampir, kemudian diganti namanya lampir, pasti dah banyak yang takut duluan sebelum benar-benar menginjak kotanya hehe.

MesjidJami
MesjidJami
131222_1709740194071_3615731_o
Melihat Sepit ini teringat bukunya tere liye

Karena belum salat ashar, saya singgah dulu di masjid jami yang tidak jauh dari istana kadariah. Masjid ini terletak di daerah kampung dalam bugis pontianak Timur. Lokasinya cukup strategis berada di garis pertemuan antara sungai kapuas dan Sungai Landak. Terbuat dari hampir seluruhnya kayu, bangunan ini masih bertahan hingga 300 tahun lamanya. Bercirikan khas melayu dengan atap atapnya yang tersusun bertingkat-tingkat, masjid ini juga dikenal masjid kesultanan  Syarif Abdurrahman, sultan yang pernah memerintah kota pontianak dari tahun 1770 hingga 1808 M.

132662_1709724233672_5324887_o

Setelah salat, saya pergi ke istana kadariah yang jaraknya hanya terpaut 50 meter. Begitu masuk lewat pintu gerbangnya, Pemandangan yang tersaji disana begitu memilukan. Sebuah bangunan istana seperti tak tersentuh perawatan. Warna kuning tampak mendominasi arsitektur istana yang berbentuk panggung ini seperti halnya rumah khas orang melayu. Model rumah berbentuk panggung ini bisa ditemukan juga di Taman Mini Indonesia Indah di anjungan Kalimantan Barat. Rumah adat kalbar di TMII memang persis adanya dengan istana kesultanan Kadariah. Sayangnya kemegahan istana tak sebanding dengan kondisi bangunannya yang mulai rapuh. Terbuat dari kayu belian , catnya banyak yang kusam dan luntur disana sini.

gapura istana kadriah kesultanan pontianak
Pintu Gerbang istana kadriah kesultanan pontianak

p472fde547c709

Pintu istana kadriah

Di teras, saya ditemui oleh salah satu kerabat istana. Kemudian kerabat itu mempertemukan saya dengan Ratu Perbu Wijaya, putri sultan abdurrahman yang masih hidup berumur 100 tahun. Wow. Meski sudah renta, ingatan sejarah nenek ini dibilang cukup jempol. Semua jawabannya sama persis dengan catatan sejarah yang dibingkai di dinding istana.

travel_aci_155439

p48917fb052ec5
http://www.wisatamelayu.com

Photo0132

Di dalam Istana ini terdapat banyak peninggalan-peninggalan kuno dari zaman kesultanan ini berdiri hingga sekarang seperti kursi singgasana, pakaian, cermin pecah seribu, foto keluarga,keris, meja giok, meriam dan hadiah dari Negara lain atau tetangga. Ada satu barang yang dipajang di keraton yang membuat saya tertarik, yakni cermin seribu atau a thousand mirror. Cermin seribu ini tidak lain Dua cermin yang sama diletakkan berhadapan di ruang lobi keraton, jika kita bercermin, maka bayangan kita akan terpantulkan oleh cermin dibelakang kita sehingga akan nampak banyak bayangan. Inilah alsan mengapa cermin itu disebut cermin seribu. Berdasarkan informasi yang tertulis di bawahnya, cermin ini merupakan hadiah dari perancis sebagai hadiah untuk sang Sultan.

135793_1709729233797_2297731_o

135793_1709729273798_4216124_o

135075_1709737634007_5664152_o
Cermin Seribu

Didalam Istana Kadriah juga ada catatan sejarah mengenai Sultan Hamid II. Sultan Hamid II merupakan keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (pendiri kesultanan / kota Pontianak). Sultan Hamid II ini adalah orang yang pertama mendesain lambang negara Republik Indonesia, yaitu lambang burung Garuda versi awal/asli. Astaga, dari sini saya baru sadar ternyata menteri Negara RIS Sultan Hamid II berasal dari pontianak. Padahal dulu ngiranya berasal dari Sumatra.

Sultan-Hamid-II
Sultan-Hamid II

Photo0128

Sayangnya, walaupun pernah diangkat sebagai Menteri oleh Presiden Soekarno dalam kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), keterlibatan Sultan Hamid II dalam pemberontakan dan percobaan kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) pada tahun 1950 membuatnya pernah ditahan dan semasa orde baru kiprahnya dalam merancang lambang negara pun jarang diekspos..

135075_1709737674008_6564890_o
Meriam pengusir Kuntilanak

West Borneo : Nyebrang Pontianak Pake Pelampung

Setelah melihat tugu khatulistiwa, saya beranjak naik angkot menuju dermaga pelabuhan sungai Kapuas. Meski sungai Kapuas yang membelah kota Pontianak telah terhubung dengan jembatan, naik sepit masih menjadi primadona masyarakat lokal pontianak.  Pergi ke sekolah, berangkat kerja, maupun pergi ke kondangan. Sepit begitu istimewa.

07122010470

Seperti halnya Banjarmasin, kota Pontianak juga kota sungai. Transportasi air telah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan warga lokal. Kata bang yadi, teman saya yang anak asli suku melayu, zaman dulu orang yang memiliki sepit dibilang orang kaya. Apalagi kalo sepitnya terbuat dari kayu yang sangat mahal. Sudah Selevel seperti memiliki mobil mewah. Tetapi sejak kehadiran jembatan penghubung, sedikit banyak mengurangi kehebatan sepit. Jembatan yang semula hanya di angan, menyebrang kota dalam hitungan detik seperti bukan mimpi lagi. Meski kabar baiknya, jembatan ini dibangun di dekat hulu, bukan di tengah kota sehingga Sepit tetap menjadi transportasi air yang sangat penting. Jika penduduk kota Pontianak hendak menyebrang ke kota dengan bus atau kendaraan, mereka terpaksa memutar jauh ke arah hulu sehingga tidak efisien.

Namun di luar jembatan ini, masih saja ada pesaing sepit. Apalagi kalau bukan kapal fery.

“Ndra kita naik pelampung saja” kata bang yadi berubah pikiran. Rencana awal saya pengen naik sepit

“Eh yang bener saja naik pelampung. Emang kita nyebrang pake life vest atau ban pelampung?”saya mendelik kaget.

“Pelampung itu kapal fery”. Ajaib. Orang Pontianak dalam bahasa sehari-hari biasa menyebut kapal dengan nama pelampung. Mendengarnya saya ketawa.hihi

“Tapi pulangnya kita naik sepit ya”

“it’s okay”

07122010474
ini lho yang dibilang pelampung

Tujuan kita kali ini adalah bertandang ke Istana Kadariah. Mungkin karena di bumi borneo yang sejak zaman dulu bentuk pemerintahannya kesultanan, maka sebutan rumah sultan lebih identik dengan menyebut istana daripada keraton. Saya saja baru ngeh kalo Pontianak dulu adalah daerah kesultanan. Saya ga begitu mendengar nama-nama pahlawan bergelar sultan dari Kalimantan barat. Taunya kalo Kalimantan tuh pahlawannya yah Pangeran Antasari. Atau kalo di Sulawesi ada Sultan Hasanuddin. Di banten ada sultan Ageng tirtayasa. Atau sultan Agung yang lebih tersohor namanya di bumi mataram. Gara-gara pelajaran sejarah dan geografi, saya ngiranya mataram tuh terletak di daerah Lombok atau nama ibukota Nusa tenggara Barat. Makanya saya sering bingung sendiri dan terkagum-kagum sama sultan agung dari mataram. Dulu kalo ga salah ada bacaan kalo sultan agung dari mataram berhasil mengusir kompeni belanda di Solo. Apa pentingnya coba sultan agung jauh jauh dari mataram pergi ke solo buat menyerang pasukan belanda. Dan semakin banyak membaca, saya akhirnya jadi tahu kalo mataram itu tidak lain adalah nama jogja tempo dulunya. duh

07122010534
Istana Kadariah dari kejauhan

 

West Borneo : Tugu Khatulistiwa

Gara-gara abis baca bukunya Tere Liye yang judulnya “Kau, Aku dan Sepucuk Angpao merah, kembali membangkitkan kenangan saya ketika merantau di kalimantan. Bagi yang belum baca buku ini, recommended banget untuk dibaca. reviewnya bisa dibaca disini dan disana.

Saya masih ingat. Waktu itu masih tersisa satu bulan lagi saya masih berada di singkawang, sebelum meninggalkan singkawang untuk selama-lamanya. Tapi masih banyak hal yang belum saya wujudkan selama di Bumi Enggang khatulistiwa. Salah satunya mengunjungi Tugu khatulistiwa dan naik sepit. Norak yah. btw dari dulu ketika masih ada tontonan serial anak seribu pulau, saya ngimpi pengen bisa naik rakit di sungai kapuas. Secara sungai kapuas kan sungai terpanjang di Indonesia. Pasti ada sensasi tersendiri bagi siapa saja yang pernah menyebranginya. Gara-gara keinginan ini, akhirnya saya ngajak bang yadi, teman satu kantor untuk jalan-jalan ke pontianak dari Singkawang. kita naik bus. Moda transportasi yang tidak pernah saya coba selama saya merantau di kalimantan barat. orang lokal di kalimantan barat biasa menyebut bus dengan nama oplet. Oplet ini seperti bus jaman taon 70-an dan sebagian besar oplet di kalbar tidak dilakukan peremajaan lagi sehingga kondisinya sangat mengenaskan. Perjalanan singkawang-pontianak memakan waktu 3 jam dan cuma 25 ribu beuh. kalo naik travel mobil avanza, singkawang pontianak bisa 75 ribu. tiga kali lipatnya.

Di dalam Oplet ini, semua beragam etnis di kalimantan barat : Melayu, Dayak dan Cina menyatu menjadi satu. Suatu pemandangan yang jarang saya lihat. Di jawa saya jarang melihat etnis cina naik bus, apalagi rongsokan macam gini. Yang gak dapat tempat duduk, yah berdiri. Untungnya saya dapat tempat duduk. Naik oplet membuat serasa saya hidup di jaman jadoel tahun 70-an. Mungkin begini yah kalo bokapku dulu waktu kecil ke sekolah naik bus. Serunya naik oplet disini, kamu bisa mendengar orang china ngomong bahasa china beraksen hakka. Duh kalo orang china singkawang ngomong, macam meracau saja. Begitu juga logat orang melayu dengan bahasa indonesia yang hampir semua huruf a jadi huruf e. lucu dengernya. Tapi ya ampun oplet disini seperti bukan barang publik yang tergolong manusiawi. Macam moda transportasi kayak mau pindahan rumah. Sudah di dalam penuh sesak orang, eh di atas oplet berjejalan karung, ember, sepeda motor, lemari kursi, atau hewan ternak. Jadi keingat teman bule backpacker asal rusia yang tas backpacknya harus ditaruh di atas oplet dan ga boleh dibawa masuk ke dalam karena barangnya gede. Mana tasnya kena hujan sehingga terpaksa nyuci baju di kosan saya.

Karena saya belum mengunjungi Tugu Pontianak, saya menyetop bus oplet di depan pintu masuk  Tugu Khatulistiwa. Tugu titik nol. tugu yang menjadi ikon kebanggaan warga pontianak. Belum lengkap pergi ke pontianak tetapi belum mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Daya tarik tugu ini terlihat saat peristiwa kulminasi, yakni matahari tepat berada di garis Khatulisti­wa. Pada saat itu, bayangan tugu “menghilang” beberapa detik, meskipun diterpa sinar matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya se­lama beberapa saat. Titik kulminasi matahari itu terjadi dua kali setahun, yakni antara 21-23 Maret dan 21-23 Sep­tember. Bagi masyarakat Kaliman­tan Barat, peristiwa alam ini men­jadi tontonan menarik.

foto diambil di http://sriyantoalwinahandayani.wordpress.com/
foto diambil di http://sriyantoalwinahandayani.wordpress.com/

Ban­gunan ini dibangun pada tahun 1928. Terdiri dari empat buah tonggak atau tiang dari kayu be­lian atau kayu ulin (kayu langka khas Kalimantan). Masing-masing tonggak berdiameter 0,30 meter. Pada tahun 1990 kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pem­buatan duplikat tugu dengan uku­ran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli.  Dan untuk mem­perindah bangunan, dibuatlah kawasan taman hingga ke pinggir Sungai Kapuas.

Dua tonggak bagian depan ting­ginya 3,05 meter dari permukaan tanah, sedangkan dua tonggak ba­gian belakang, tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah, tingginya 4,40 meter. Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR sepanjang 2,11 meter.

Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metoda terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi. Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur

Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia. Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.

Tugu Khatulistiwa
Tugu Khatulistiwa

Berada di Bumi khatulistiwa, pagi seolah terasa seperti siang saja. Padahal masih jam 10 pagi tapi teriknya sudah terasa membakar di kulit. Sayang sekali Monumen Tugu khatulistiwa sedang tutup. Hari libur tapi kenapa tutup. tanya kenapa?? Akhirnya saya pergi ke gerai suvenir yang tidak jauh dari Tugu khatulistiwa. Disana saya beli kaos yang tulisannya berbahasa melayu. Lumayan buat oleh-oleh pamungkas sebelum benar-benar meninggalkan kalimantan barat.

West Borneo : Menyatu bersama Alam Sungai Hangmui

Hai bloggermate. Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari besar Umat Kristiani bagi yang merayakan. Untuk posting kali ini saya akan menceritakan beberapa pengalaman saya di bumi kalimantan. Daripada bingung mau ngapain di hari libur ini dan cuaca di luar ga mendukung buat jalan-jalan, mending saya nulis blog. Kalo kemaren-kemaren saya banyak cerita tentang travel saya di jawa, kali ini saya ajak jalan-jalan pembaca ke bumi borneo tepatnya di Singkawang, kota tempat saya pernah bekerja dulu disana.

16370_1243902308415_5300806_n

Sungai hangmui. Dengar namanya udah terasa seperti menggoda. Serasa nama-nama sungai di china. Dan  ekspetasi saya dalam hati, sungai ini pasti benar-benar indah. Pagi itu selesai malam tahun baru, tiba-tiba bapak kos saya yang seorang Chinese mengajak saya berenang ke sungai hangmui bersama keluarga dan para pembantunya di restorannya. Padahal tadi malam pas pergantian tahun baru kita baru selesai bakar bakar jagung sampe larut. Eh tiba-tiba paginya diajak berdarma wisata. Meski mata belum pulih dari rasa kantuk, saya senang gak ketulungan. Secara saat itu saya baru bekerja beberapa bulan di singkawang dan belum mampu beli motor, eh udah ada yang mau ngajakin saya jalan-jalan. Kita semua bersepuluh naik mobil jeep bapak kos.  Jadi temanya liburan kali itu adalah Family travel.

Sungai Hangmui ini terletak tidak jauh dari pusat kota. Hanya 15 km. Jadi ga sampe setengah jam kita sudah sampe di sungai hangmui. Dari kejauhan saja, bunyi kecipak sungainya sudah mengundang saya untuk mandi. Sungai Hangmui ini sebenarnya bukan tempat wisata komersil. Jadi gak ditarik karcis. Terletak di dalam hutan yang masih sangat alami. Dari pintu masuk, kita masih jalan jalan lagi sekitar 150 meter. Beberapa penduduk ada yang sedang mencuci di sungai. Meski masih bagian hilir, Sungainya cukup jernih gak coklat kayak di jawa sehingga saya tidak bakal ragu untuk nyemplung.  Kami sengaja memilih spot berenang yang letaknya agak ke dalam hutan dan jauh dari keramaian. Dimana sejauh mata memandang hanya ada pohon-pohon, kidung suara burung dan kecipak bunyi sungai yang terdengar syahdu. Benar-benar tempat yang cocok untuk menghilangkan sejenak dari kesibukan. Begitu hening dan damai. Akhirnya kita memilih tempat mandi yang agak rindang, dimana banyak dahan-dahan pohon yang menjorok ke badan sungai sehingga tampak merindangi. Nyari yang agak dangkal dan sedikit berbatu agar aliran sungainya tidak terlalu deras sehingga aman untuk berenang.

16370_1243902268414_111278_n

16370_1243898428318_1894862_n

Dan eaaa begitu turun sungai, kita sudah langsung main lempar-lempar air saking senangnya. Gebluk-geblukin air gak jelas seolah baru menemukan surga. Bapak kos yang umurnya sudah paruh baya toh belum hilang semangat darah mudanya. Berenang kesana-kemari. Saya benar-benar merasakan indahnya persahabatan bersama keluarga bapak kos dan pembantu-pembantunya. Saya waktu itu juga belum terlalu dekat dengan pembantu-pembantunya. Meski kos saya bersebelahan dengan restoran, kontak kita sangat jarang sekali. Paling-paling cuma pas pesen makanan. Pagi sampe sore saya berada di kantor, sedangkan mereka dari pagi sampe malem sibuk di dapur dan restoran. Well sebagian besar dari kami banyak berasal dari (maaf) suku yang berbeda-beda. Pembantu Bapak kos semuanya adalah anak asli Suku Dayak dari kabupaten sebelah yang mencoba peruntungan nasib di singkawang. Putih-putih euy kulitnya. Bapak Kos sendiri adalah seorang China Hokkian Palembang, ibu kos asli sunda dan saya sendiri adalah anak dari bumi madura. Toh semua perbedaan itu akhirnya melebur juga di sungai hangmui. Menjadi keceriaan kita yang menyatu bersama alam sungai hangmui.  Hai jose, it is What a joyful moment. Thank you all for sharing Happiness. Happy New Year.

16370_1243902388417_3682320_n

16370_1243957669799_3353865_n

16370_1243962229913_5807480_n 16370_1243962269914_7266717_n  16370_1243898468319_32039_n 16370_1243902228413_6706503_n   16370_1243902348416_8352314_n  16370_1243957629798_4524713_n

Pulau Gili labak : Sekepal Tanah Surga di Bumi Madura

Sedikit orang madura yang tahu kalo madura memiliki pulau cantik nan jelita. Nama pulau ini adalah pulau tikus. Karena dulunya tempat ini adalah sarang tikus. Karena keindahan pulau ini melebihi nama aslinya (baca tikus), Pulau ini diganti namanya menjadi Pulau Gili Labak, yang tentunya lebih enak dibaca dengan dialek bahasa madura. Pulau ini dapat ditempuh kurang lebih 2 jam dari pelabuhan kalianget, Pelabuhan paling ujung timur pulau madura. Letak Pulau ini cukup tersembunyi bahkan di atlas yang beli di toko pun tidak menampakkan pulau ini dí peta jawa timur. Luas Pulaunya yang hanya selapangan sepakbola sehingga membutuhkan skala lebih besar untuk muncul di peta. Saya sendiri baru tahu ada pulau ini ketika melihat peta kabupaten di kantor kecamatan. Waktu itu di peta nampak sebuah pulau yang namanya Pulau Tikus. Di madura sendiri juga ada pulau lain yang menyematkan nama fauna yaitu Pulau kambing yang terletak di kabupaten sampang.

  1392477_10202513474268848_627799322_n

Menginjakkan kaki di pulau gili labak ini adalah yang kali kedua. sebelumnya Saya pernah mengunjungi pulau gili labak ketika study tour waktu SMA. Well this island benar benar seperti sekeping surga yang jatuh di bumi Madura. Keindahan taman lautnya mempesonakan mata yang memandangnya. Dari jarak 50 meter sebelum benar-benar sampai ke tepi pulau, kita sudah bisa melihat terumbu karang berbaris rapi beserta anemonnya. Karena banyak terumbu karang, perahu yang saya tumpangi tidak bisa menepi karena bagian bawah kapal menyentuh terumbu karang. Sehingga saya harus turun dari kapal berjalan kaki di atas air sambil menginjak terumbu karang untuk menuju tepi pulaunya. Itu 10 tahun yang lalu.

Dulu sempat berpikir kalo nanti ada teman backpacker atau teman kuliah main ke madura pengennya diajak kesini. Biar persepsi mereka tentang madura gak melulu tentang kerapan sapi, penghasil garam ataupun juga budaya carok.  Bahwa di Madura juga memiliki sisi baik lain yang belum orang di luar sana tahu. Setahun belakangan ini pulau ini menjadi booming. Menjadi terkenal sebagai tempat tujuan wisata alternatif backpacker anak-anak jatim. blog-blog tentang keindahan pulau gili labak mulai menghiasi halaman google. Saya masih ingat dulu ketika saya masih kuliah di jakarta 3 tahun yang lalu, saya sering menerima banyak email, pesan di fb dari anak backpacker tentang akomodasi menuju kesana. Sebagai anak putra daerah saya dengan bangga mempromosikan wisata pulau ini beserta akomodasinya. Karena saya berpikir dengan banyaknya aktivitas wisata kesana akan mengurangi aktivitas nelayan menggunakan bom/pukat untuk menangkap ikan di perairan pulau gili labak. Bahkan yang saya dengar pulau ini juga diambil pasirnya. Miris. Belum ditambah perhatian pemda yang sangat sedikit tentang potensi wisata ini hanya gara-gara terkendala investor. Padahal bisa digarap secara swadaya dengan melibatkan masyarakat perairan pulau gili labak. Seperti halnya di kepulauan Seribu. Cara yang menurut saya paling efektif untuk menumbuhkan kesadaran warga tentang pentingnya menjaga ekosistem pantai. Karena dengan memiliki kesadaran bahwa pulaunya berpotensi, maka akan membuat masyarakat pulau disana akan menghalau siapapun yang merusak ekosistem pantai.

Akhirnya setelah 10 tahun tidak mengunjungi pulau gili labak, kesempatan ini bergayung sambut lagi dengan ajakan  mas ragil, teman sekantor saya Setelah ngumpulin teman2 sekantor akhirnya terkumpullah 8 orang. Jumlah yang jauh dari estimasi semula yaitu 15 orang. Sewa kapalnya saja 600 ribu muat untuk 15 orang. Untuk meminimalkan cost akhirnya saya ajak mbak iparku sekaligus ngajakin teman2 kantornya. Mas ragil pun juga ngajakin temannya komunitas backpackerannya di grup CS surabaya. Jumlahnya bengkak jadi 23 orang. Dan akhirnya kita sewa kapal yang lebih besar lagi yang bisa muat 25 orang. Karena saya adalah anak madura dan satu-satunya yang rumahnya paling dekat dengan pelabuhan, saya didapuk cari kapal. Akhirnya nemu kapal tetangga sebelah rumah. Ongkosnya 800 ribu PP. Beuh

Kali ini saya menjadi host. Semua teman-teman kumpul di rumah. Jadwal semula berangkat jam 8 pagi akhirnya harus molor jam 9 pagi karena banyak di antara mereka belum sarapan pagi ketika ngumpul di rumah. Bekal sarapan siang dan camilan juga belum beli. Oh ya yang mau jalan-jalan ke Pulau Gili Labak jangan lupa beli nasi bungkus dan air minum dekat pelabuhan karena di pulau tersebut tidak ada seorang pun yang menjual nasi.

1422474_10202513744755610_762778266_n
Dari Pelabuhan Kalianget, kami naik perahu
1459657_10202513666993666_851503466_n
Pulau Gili Labak dari kejauhan
1451389_10202513668593706_1384386939_n
Nelayan Pulau gili Labak menjaring ikan bersama

Jam 11 siang nyampe di Pulau Gili Labak. Ekspetasi bahwa Pulau ini tetap sama indahnya dengan 10 tahun lalu sepertinya semakin kabur di mata saya. sepanjang perjalanan menuju tepian pulau saya tidak menemukan terumbu karang. Sampah berserakan di mana-mana. Meracuni keindahan di mata. Mungkin yang tidak berubah adalah rumah penghuni pulau gili labak yang sepertinya tidak bertambah banyak dan tetap terasing.

Well, tidak dapat dipungkiri ketika sebuah tempat yang awalnya terasing dan tiba-tiba menjadi terkenal sebagai tempat wisata, pasti selalu ada dampak lingkungan atau budaya yang ditimbulkannya. Salah satunya SAMPAH. Gara-gara sampah, tempat wisata bisa berkurang keindahannya. Sudah semestinya seorang backpacker atau turis ketika mendatangi suatu tempat memiliki kewajiban moral bahwa tempat yang didatangi harus tampak sama seperti sedia kala sebelum tempat itu benar-benar ditinggalkan.

1422525_10202513480108994_881216204_n
Gradasi Warna air Pantainya benar memanjakan mata

Pulau Gili Labak tidak jauh berbeda dengan gili air, gili kondo di Pulau Lombok. Sama-sama memiliki pasir putih yang jelita. Gradasi warna airnya yang hijau turqoise sepertinya sudah memenuhi syarat untuk tergolong sebagai pantai cantik. Pantai Gili Labak yang berpasir putih halus ini semacam anomali karena sepanjang pantai di pinggir pulau madura pasirnya berwarna coklat khaki.

625585_10202513672673808_1195301455_n
aksi norak kayak ga pernah liat pantai

Tepi pantai Gili Labak sangat dangkal sejauh jarak 50 meter ke tengah laut. Perairannya yang dangkal sangat cocok jadi arena kolam berenang. Belum lagi ombaknya yang sangat landai sehingga tidak perlu khawatir dibawa ombak gede.

1459936_10202513462468553_1912006160_n
Beningnya air seolah tampak seperti pantai kaca
563703_10202513746475653_150613503_n
Nemu bintang Laut
1393501_10202513674553855_14990000_n
Catch Belut dan ikan by hand
1379531_10202513463708584_1955459905_n
Masang Life Vestnya pun terbalik 😀
1425708_10202513451108269_1970202984_n
Sudut Lain di Pulau Gili Labak
1003227_10202513479668983_272735246_n
what thing to do when you find a beutiful beach?? bermanja dengan air seperti ini rasanya cocok untuk mengusir stres

Di Pulau Gili Labak kamu bisa muterin pulaunya dengan jalan kaki. luas pulaunya yang hanya selapangan sepakbola, kamu hanya butuh 20 menit untuk mengelilingi pulaunya. Mungkin sambil berenang bisa menjadi ide yang baik.

DSC01017
Yang Lainnya asik berenang, ini malah ngelamun gak jelas :0
1450816_10202513480749010_2093576181_n
tidak lengkap bila tidak berenang muterin pulaunya
DSC01002
Welcome To Gili Labak. Plis Dont Litter.

Pantai Baron – Indrayanti : Jogja — Jewel of Asia

Setelah selesai main air di Gua Pindul dan Kali Oyo, destinasi selanjutnya adalah menjelajahi pantai-pantai di selatan Yogya. Dari dulu waktu SD sampe kuliah, saya tahunya cuma Pantai Parangtritis. Tiap kali nanya sama orang asli Jogja di madura, pas gw tanyain pantai lain selain pantai parangtritis, mereka ga ngeh. Pantai Parangtritis emang paling Populer di negeri kesultanan ini. 

Beruntungnya berkat jejaring sosial dan demamnya backpacking di kalangan anak muda Indonesia, membuka mata dunia ( mata elo kali ya…) bahwa Jogja memiliki pantai pantai cantik dan  menawan  selain Pantai Parangtritis. Jogja emang bener-bener The Never Ending Asia. Ga cuma wisata sejarah, budaya, religi, pendidikan, dan kuliner, tetapi juga memiliki wisata alam yang tersebar di balik bukit pantai selatan. belum lagi  lokasi semua pantainya cukup berdekatan dan mudah dijangkau sehingga kunjungan wisata ke Jogja akhir-akhir ini cukup marak.

Dari plang petunjuk jalan di jalanan, saya mendapati bahwa dari Gua Pindul ke Pantai Baron, kokop, Sundak masih sekitar 30-45 km lagi ke arah selatan. wew masih jauh juga yah. Tanpa membuang waktu teman saya yang memegang kemudi langsung tancap gas. Hari tampak sedikit cerah dengan mendung tipis setipis dompet saya hari itu. Sepertinya saya datang tidak di waktu yang tepat. Pas musim penghujan lagi lebat-lebatnya. Ini saja beruntung banget masih belum hujan.

akhirnya setengah jam kemudian saya tiba di Pantai baron. Setelah bayar karcis dan ongkos parkir saya segera beranjak menuju tepi pantai baron. Kumuh dan tidak terawat. begitu kesan yang tampak. Pantai Baron ini adalah pantai nelayan. Gak recommended buat jalan-jalan kesini. Kecuali kalo mau kulakan ikan segar karena disini tempatnya pelelangan ikan. Yang unik dari Pantai baron adalah pantai ini diapit dua buah bukit yang menjorok ke laut. Karena itu ombak disini tidak terlalu besar karena ombak sudah pecah di tengah pantai. So sangat aman untuk berenang disini. persewaan life vest dan ban karet juga tersedia disini. Kalo perut lagi lapar, di pinggir pantai sudah terdapat kios-kios makanan yang tampak berderet memanjang. Belum lengkap pergi ke pantai baron kalo tidak berenang disini. Sebab di pantai baron terdapat mata air tawar/sungai yang mengalir deras ke laut. Banyak wisatawan yang mandi di area ini karena selain alirannya yang landai juga panorama disini kelihatan eksotis. Sungai ini tersembunyi di sudut bukit.

IMG_9664

IMG_9665
Siap2 menyebrang laut untuk berjihad ke palestina

Pas pergi ke pantai baron, saya datengnya bersamaan dengan rombongan santriwati dari pesantren entah dari mana. Kaget juga tiba-tiba pantai ini diserbu segerombolan santriwati yang semuanya berjilbab hitam. untung gak bawa pedang hehehe. Kirain mau razia pasangan mesum. but entah kenapa kok mereka semua tiba-tiba kompakan berjilbab warna hitam. Anyway yang jelas mereka kece-kece apalagi dengan busana tertutup seperti itu. Semacam penegasan (bukan pemberontakan gender ya….) bahwa muslimah bahkan dengan jilbab pun tak menjadi halangan untuk berenang di lautan bebas. Setuju??

IMG_9680

Karena tidak banyak keindahan yang bisa saya nikmati disini, saya langsung bergegas menuju pantai kokop. cukup 5 menit pake motor dari pantai baron, kita sudah sampe di pantai Kukup. Untung waktu itu pantai ini lagi sepi pengunjung. Bibir pantainya tidak begitu luas tetapi butiran pasirnya sangat halus. Batu-batu karang memanjang di sepanjang pantai. Disini kamu dapat menemukan ikan atau binatang laut yang terperangkap di dalam karang.

IMG_9693

IMG_9720

Pantai Kukup ini duplikatnya Tanah Lot atau mirip pantai balekambang di malang. Terdapat sebuah gazebo yang dibangun di atas batu karang di tengah lautan. Untuk menuju gazebo ini kamu harus menaiki sebuah tangga menuju bukit dan kemudian melintasi sebuah jembatan menuju gazebo.

IMG_9727

Dari gazebo ini, kamu bisa melihat dengan jelas laut lepas pantai selatan. Keganasan ombak yang bergulung-gulung memecah tebing pantai seakan tampak nyata bahwa ini bukan di negeri dongeng. Untungnya Kengerian ini segera terbungkus dengan keindahan panorama pantai yang tampak menawan dan eksotis.

IMG_9732

Setelah dari pantai ini, kita menuju pantai Drani. Letaknya berdekatan dengan pantai Kukup. lagi-lagi ini pantai nelayan sehingga saya langsung beranjak lagi dari sini menuju pantai Sundak.

IMG_9741
Pantai Drini

Ketika menuju pantai sundak kamu akan dihadapi banyak belokan jalan ke tempat wisata pantai-pantai lainnya seperti Pantai SePanjang, Pantai Watu kodok. Well sebenarnya pantai pantai ini hanya dibatasi tebing pemisah yang menjorok ke laut. Seperti halnya pantai baron dan pantai kukup. Karena saya niatnya mau ke pantai krakal, sundak dan indrayanti — terpaksa pantai-pantai itu saya lewati.

Ketika masuk ke pantai krakal saya tidak ditarik karcis. Loket tampak tutup, mungkin karena sepi pengunjung. Pantai ini berpasir halus. Tetapi terlihat sampah dimana-mana dan Gersang. Gak recommended kesini kalo pas siang hari karena tidak memiliki pohon-pohon yang bisa buat tempat berteduh. Aktivitas di pantai ini seolah mati. Restoran di pinggir pantai tampak banyak yang tutup sejak lama. Terlihat dari debu yang menempel di meja dan kursi restoran. Lagi-lagi karena gak ada pemandangan yang catchy, saya langsung bergegas lagi menuju spot pantai berikutnya.

IMG_9745
Pantai Krakal

Tak sampai 10 menit dari pantai krakal akhirnya saya tiba di pantai Sundak. Pantai ini sih masih lumayanlah buat sekedar “kill time”. Pantainya juga bersih dari sampah. bibir pantainya tidak terlalu lebar karena langsung dibatasi dengan sebuah tebing di bagian sisi barat dan timurnya. But, Tebing-tebing inilah yang menjadi daya tarik wisata pantai ini. Terlihat banyak pasangan muda mudi mengabadikan kemesraannya dengan latar belakang tebing ini. karena masih capek dan bokong ini lumayan nyut-nyut, saya leyeh-leyeh dulu sembari menikamati semilir angin sore disini.

IMG_9759
Pantai Sundak

IMG_9770

IMG_9767

Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar pantai sundak, saya bergegas lagi menuju pantai Indrayanti. Pantai yang sekaligus mengakhiri perjalanan panjang saya menuju selatan yogya. Beruntungnya ending ini ditutup dengan sebuah klimaks keindahan Pantai indrayanti yang tampak cantik di  sore hari. Matahari belum terbenam saat saya tiba disana. Segerombol remaja asyik bergaya untuk diambil gambarnya di sebuah tebing yang tak jauh dari pantai. Beberapa orang tampak leyeh-leyeh di sebuah tenda berpayung. Sementara itu beberapa bule berenang menuju ke tengah laut seakan tak peduli dengan ombak pantai selatan yang datang menghempas.

IMG_9776
Pantai Indrayanti

IMG_9788

Btw di Pantai Indrayanti disini ada life guard juganya lho. Semacam baywatch gitu. Tapi sayangnya saya tidak melihat penjaga pantai disini. Pamela Anderson pun terlalu ngarep.com untuk ditemukan disini. Yang ada hanya seonggok jetski yang tergeletak malas di pos life guard.

IMG_9789

Tak henti saya mengagumi Pantai indrayanti yang tertata rapi ini dengan sentuhan gaya modern. Mirip seperti pantai kuta di bali. Saya seresa beneran holiday di pulau dewata. Pantainya tampak bersih dari sampah karena pengelola wisata ini begitu peduli dengan kebersihan pantai ini. Kalau buang sampah sembarangan bakal kena denda disini sebesar 10 ribu. Sudah seharusnya semua pantai di indonesia menerapakan peraturan seperti ini mengingat pengunjung terutama orang indonesia masih suka buang sampah sembarangan sehingga pantai tampak tak manusiawi lagi untuk dikunjungi. Agak sulit memang mengubah kebiasaan tetapi setidaknya ada perlindungan akan terjaganya keasrian pantai.

IMG_9777

IMG_9797

Terletak di sebelah timur Pantai Sundak, pantai yang dibatasi bukit karang ini menyajikan pemandangan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain yang ada di Gunungkidul. Tidak hanya berhiaskan pasir putih, bukit karang, dan air biru jernih , Pantai Indrayanti juga dilengkapi restoran dan cafe serta cottage-cottage yang bisa disewa pengunjung yang ingin bermalam disini. Jujur saja kalo melihat pantai ini, memang asyik kalo didatangi pas malam hari. Kerlap-kerlip lampu gazebo dan alunan syahdu ombak pantai selatan sepertinya bisa menjadi malam yang takkan terlupakan sambil makan sederetan seafood dan segarnya es buah kelapa muda. Apalagi kalo rame-rame kesini sama teman2 sambil bercengkrama di tepi pantai sambil main gitaran — membayangkannya saja sudah seperti suasana romantis. What a wonderful night. tetapi sayangnya sore itu sebelum beranjak petang, saya sudah harus angkat kaki dari Pantai Indrayanti karena saya harus segera balik ke kota Yogya agar tidak kemalaman. Belum lagi tanjakan dan tikungan mewarnai sepanjang jalan wonosari-gunung kidul so bergegas cepat-cepat di waktu itu adalah keputusan yang tepat. Tak apalah. well Aku akan selalu merindukan Pantai indrayanti seperti aku merindukan Jogja. Maybe one day I’ll be back here. thanks a lot stefanus for your hospitality accompanying me travel the Fabulous Jogja

IMG_9816
Indahnya Dunia Remaja

IMG_9787

Goa Pindul dan River Tubing di Kali oYo : Jogja — The Jewel of Asia

Kereta Ekonomi tiba pukul 07.35 di Stasiun Lempuyangan. Telat 5 menit dari jadwal kedatangan. Bismillahhirrahmanirrahim. Saya melangkah keluar dari gerbong kereta. Sambil menanti jemputan sahabat baik saya dari sleman, saya mencoba menyeruputi teh hangat di salah satu kedai kopi di luar stasiun. Alhamdulillah nikmatnya teh ini Tuhan” Ucap saya dalam hati sambil menghirup aroma teh. It feel like find oasis in the dessert . Benar-benar menyegarkan.

Yogya. Entah sudah berapa kali saya berkunjung kesini. Meski cukup sering, tapi saya tak pernah berhenti dan bosan mengunjungi Yogya. Seolah ada magnet yang menyedot saya untuk melangkahkan kaki disini. The Jewel of Asia. Begitulah julukan yang disematkan orang terhadap Yogya. Tidak hanya memiliki peninggalan budaya yang adi luhung tetapi juga “keadaban” dan kesederhanaan masyarakatnya membuat saya kagum dengan yogya. Dari dulu yogya, kotanya begitu-begitu saja. Meski zaman sudah modern, tetapi pembangunan gedung pencakar langit nyaris tidak ada. Malnya dikit tetapi pasar tradisionalnya banyak. Masyarakatnya bersahaja dan kreatif. Itu yang saya suka dari Yogya. Cukup Jakarta saja yang modern. Dulu teman saya yang asli Yogya sering bilang kalo pembangunan di jogja seolah jalan di tempat. Mal gak ada, tempat hiburan juga dikit dll. Tetapi saya lebih menyukai seperti ini. Saya tidak bisa membayangkan jika Yogya tidak mampu kokoh terhadap arus modernisasi, mungkin kultur masyarakatnya juga bisa ikut berubah. Ciri masyarakat modern yang saya temui dikota-kota besar di Indonesia adalah banyak yang tidak peduli lagi dengan bangunan cagar budaya, bahkan tidak mengenal akar budayanya sendiri sehingga cenderung menjadi masyarakat yang hedonis dan materialistis. Bagi saya ciri kota yang maju itu tercermin dari peradaban masyarakatnya.

10 menit kemudian, stefanus, teman saya datang menjemput. Kita sudah bikin plan kalo hari ini kita mau ke gua pindul dan Pantai Indrayanti. Tempat wisata yang lagi happening di Jogja. Dengan naik motor vixion, kita pergi kearah selatan Yogya. Kabupaten Gunung Kidul. Siapa yang mengira dibalik keringnya dan tandusnya Kabupaten Gunung Kidul, ternyata di balik bukit bukit kapurnya menyimpan gua gua cantik. Belum lagi keindahan pantainya. Sepertiorang bijak mengatakan “di balik kekurangan selalu ada kelebihan”.

Setelah 1,5 jam motoran akhirnya kita sampe di Gunung Kidul. Di salah satu sudut lampu merah, kita bertanya ke salah satu abang yang lagi berdiri malas di pinggir jalanan. Kagetnya ketika kita ingin bertanya dimana tempat wisata Gua Pindul, eh si abangnya malah mau nganterin kita ke tempat wisatanya. Saya menolak tawarannya dan cukup diberitahu petunjuk jalannya saja. Tetapi abangnya bersikeras mengantarkan saya. “wah bayar tip berapa yah nanti” pikir saya dalam hati

“Tenang. Anda tidak usah khawatir. Saya tidak akan menerima tip dari anda”. Kata si abangnya.

Dan 10 menit kemudian akhirnya kita sampe di tempat wisata gua pindul. Ini hari kamis tetapi kok banyak juga yah bus pariwisata berseliweran di parkiran. Segera saya menuju loket pembelian tiket wisata. Disana saya bertemu abang yang nganterin saya tadi.

“Ini pengunjung yang saya antarin” ucap si abang memberitahu ke penjaga loket. Dan sedetik kemudian uang ribuan beberapa lembar melayang di tangan abangnya. Owh rupanya tip nya dibayar oleh pengelola wisata. Baguslah kalo gitu. Ini terasa nyaman bagi pengunjung. Sering saya juga menghadapi di sebuah tempat wisata, seorang guide atau orang-orang di tempat wisata memaksa maksa untuk menggunakan jasa pandu dari mereka. Padahal saya tidak mau. Dan ujung-ujungnya mesti bayar tip. Kalo sistemnya dikelola seperti tempat wisata gunung pindul, mungkin bisa mengurangi budget dari sisi traveler. Dari pengelola wisata sudah ikut berpartisipasi mengurangi dampak pengangguran serta memberi nama baik atas tempat wisata tersebut. Dan bagusnya lagi, gua pindul ini dikelola oleh Karang Taruna masyarakat lokal. Jadi pemuda-pemuda setempat benar-benar diberdayakan bagaimana mengelola sebuah tempat wisata.

IMG_9654

Akhirnya setelah menaruh ransel di loker dan menggunakan life vest, kita dapat giliran bareng rombongan anak-anak sekolah MAN yang datang pake 2 bus. berasa rame beud. tapi Lumayan bisa cuci mata hehe. Dari pos wisata, kita masih jalan lagi sekitar 100 meter untuk menuju Gua Pindul. Disana saya menemukan sebuah kolam kecil yang tak lain adalah sumber air. Disebelahnya lagi terdapat Gua kapur yang mendapat aliran dari sumber air ini. Gua ini adalah Gua Pindul yang sebentar lagi bakal saya eksplor. Sebelum turun ke Gua Pindul, Pemandu mengadakan briefing sejenak mengenai keselamatan di air. Tak lupa juga kita berdoa sebelum merasakan gua pindul

IMG_9503

IMG_9522

Setelah duduk di atas ban karet, kita akan dibawa mas pemandunya ke dalam mulut gua. Di dalam gua tidak terdapat penerangan sama sekali, sehingga hanya mengandalkan lampu senter dari helm yang hanya dipakai pemandu. Kita akan menelusuri lorong gua sepanjang 100 meter. Di dalam gua, kita tidak hanya melihat keindahan Stalagtit dan stalagmit gua pindul tetapi juga pengetahuan mengenai gua-gua di yogya. Sambil gelap-gelapan, pemandu akan menjelaskan dari A sampai z dari penemuan gua ini hingga struktur dinding di dalam gua.

Goa Pindul terbagi menjadi 3 zona, zona terang, zona remang2 dan zona gelap abadi. Di dalam goa terdapat stalagmit yang dipercaya bila seorang laki2 memegang stalagmit ini dapat menambah keperkasaan pria. Gw ngakak pas liat bapak-bapak pada berebutan megang stalagmit ini. Selain itu terdapat juga stalagtit yang juga dipercaya jika seorang cewek melintas dibawah staligtit ini kemudian dia ketetesan air dari stalagtit ini dia bakalan awet muda. Kali ini giliran anak yang cewek-cewek pada berebutan megang

IMG_9545

Ternyata sebelum gua ini dijadikan tempat wisata, gua ini merupakan sarang wallet yang dikelola masyarakat. Melihat adanya potensi untuk dijadikan sebagai tempat wisata, maka karang taruna dan warga setempat bersama-sama menjadikan gua ini sebagai objek wisata dan karena jenis wisata ini belum pernah ada, maka bertualang dengan ban karet di dalam gua, menjadikan gua ini cepat populer di kalangan backpacker terutama mereka yang memiliki minat olahraga yang memacu adrenalin.

 IMG_9584

Setelah selesai menikmati wisata Goa Pindul, kami memutuskan untuk mengambil paket wisata oyo river tubing. sekitar 35 ribu kalo gak salah ingat. Setelah bayar tiket, kita naik pick up sekaligus membawa ban karet. Goa pindul dan oyo river tidak terletak dalam lokasi yang sama dan agak jauh shg harus naik pick up. Sebelum tiba di oyo river, kita melewati hutan pohon penghasil minyak kayu putih. begitu kata guidenya. Sekilas melihat pohonnya aneh banget.

IMG_9593

Tak butuh berapa menit, tiba-tiba kami sudah tiba saja di sungai oyo. Sungai oyo ini memilki Panjang sungai 1500m dg durasi 1 – 2 jam jika diarungi. Sepanjang aliran sungai terdapat tebing-tebing yg indah dan alami khas batuan karst Gunungkidul. Disana kita bisa menikmati keindahan aliran sungai Oyo dengan menggunakan ban karet, seperti halnya di goa Pindul. Dengan ditemani pemandu dan peralatan yang membuat kita aman dan nyaman maka tak perlu takut untuk mengarungi sungai dengan kedalaman 7 – 11 Meter ini. salah satu keindahan mengarungi oyo river selain tebing karstnya adalah air terjun mini yang hampir ditemukan di setiap kelokan tebing karst. Karena hari belum hujan, maka aliran sungai tidak begitu deras. terkadang guidenya yang mendorong ban karet kita.

IMG_9602

IMG_9604

IMG_9639

IMG_9625
beberapa pengunjung mencoba melompat dari tebing ke arah sungai

  IMG_9633

IMG_9650

Setelah mengarungi  oyo river kita akan dijemput lagi dengan pick up di dermaga perhentian. Hari mulai gerimis. saya mulai cemas jika perjalanan ke selatan akan tertunda. Pantai-pantai selatan belum saya jelajahi. Dengan sedikit galau saya naik ke atas bak belakang pick up sambil menenteng ban karet. Perjalanan sekitar 10 menit menuju tempat sekretariat. Sampai disekretariat saya langsung menuju kamar mandi.  sayangnya sudah penuh semua. Saya kemudian mencari rumah warga berharap semoga ada yang berbaik hati menumpangkan kamar mandinya. Akhirnya saya mendapat kamar mandi di sebuah rumah yang hanya ditinggali oleh pasangan lansia. Mereka welcome sekali dengan kunjungan saya.

Dingin-dingin di Masjid Atta awun (Jalan Jalan ke Puncak Part 5)

3 hari lagi diklat bendahara pengeluaran di bogor akan usai. Tapi saya belum pernah sampai daerah puncak bogor tepatnya daerah puncak pass. Apalagi tempat diklatku di Daerah Gadog dekat sekali dengan kawasan wisata puncak. Belum lagi angkot-angkot berseliweran di depan pusdiklat dengan trayek tujuan puncak atas. Akhirnya hari senin siang setelah selesai diklat, aku mengajak satu teman diklatku asal makassar. kebetulan dia hobi traveling juga. Setelah berhasil ngomporin anak satu asrama, akhirnya aku berhasil mengajak 4 orang lagi hehe. Jadi total kami berangkat sebanyak 6 orang. Untungnya diantara kami berenam, salah satu dari kami ada yang sudah pengaslaman ke Puncak Pass yaitu mbak lisa. Padahal hari minggu kemaren dia sudah jalan-jalan ke puncak pass. Hari seninnya malah dia mau ikut menemani kita gara-gara kemarennya dia ga terlalu menikmati liburannya di Puncak Pass. Salah satu tempat tujuan wisata kami adalah Masjid Attaawun. Masjid ini terkenal karena ada jam raksasanya.

Sayang hari itu mendung. belum dapat angkot tetapi bumi telah basah dengan rinai-rinai hujan. Gerimis. Rencananya kita mau nyewa angkot yang sekali langsung menuju masjidnya. Kalo diliat aturan trayek, sebenarnya kami harus ngangkot dua kali untuk menuju masjid Atta awun. Untung abang angkotnya mau nganterin sampai puncak pass. Dan anyway selama perjalanan, hujan begitu deras. Hawa Kawasan Puncak semakin menunjukkan dominasinya. Kami yang di dalam angkot merasa kedinginan. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai melihat kawasan puncak ketika hujan turun. Khayalanku akan kawasan puncak yang berkabut seakan tampak nyata di luar angkot. Ketika kita mengobrol di dalam angkot, mulut atau hidung kita tampak seperti mengeluarkan uap. Mirip seperti yang kusaksikan di film-film, ketika bule-bule ngobrol di  musim winter di negeri 4 musim sana.

941948_10201358704960337_1886964327_n

Kurang lebih sejam akhirnya kita melintasi perkebunan teh. Karena hari hujan, kabut tampak melapisi permukaan perkebunan teh. Begitu menawan bagi siapapun yang memandangnya. Luar biasa pemandangannya. Saya pernah melihat kebun teh di ciwidey Tapi gak seindah kawasan kebun teh puncak ketika hujan. Anyway when it’s rainy, scenery of raws of tea plantation seems more beautiful and great.

Perjalanan sekitar 1,5 jam ini untungnya tak terasa membosankan di dalam angkot. Seperti biasa, mbak lisa anak asli lampung yang bawel di kelas, jadi tukang ngeramein suasana.  Apalagi pas beliau sharing pengalaman hidup sehari-harinya dan kerjanya di Tual. Menyeramkan. Ada yang tahu tual?? Kalo liat dari peta, pulau ini terletak di selatan laut arafuru dan dekat dengan perbatasan australia. Mana lagi pulaunya sendirian. Yah termasuk pulau-pulau terluar Indonesia. Jadi penasaran sama Tual, secara Indonesia timur saja yang belum kujelajahi. Beruntungnya mbak lisa cepat menemukan jodohnya di Tual. Seorang perwira angkatan laut anak lampung yang sama bekerja di Tual. Mendengar kisah beliau, dalam hati saya tak berhenti bersyukur bahwa ternyata ada juga yang lebih jauh penempatan kerjanya daripada saya. Ada yang lebih tidak beruntung daripada saya. Bisa pulang ke kampung halaman.

Akhirnya kita sampe juga di masjid atta awun. Karena hujan masih deras, kami memutuskan  untuk istirahat sejenak di sebuah riung depan masjid. Kita memesan mie rebus dan segelas teh hangat. Makan dan minum yang anget-anget ketika hujan, apalagi di kawasan puncak yang begitu dingin seperti es benar-benar memberi sensasi tersendiri bagi saya. beban dan segala kepenatan dan rasa lelah tampak hilang begitu saja. Yah untuk sementara aku bisa melupakan sejenak apa yang sudah kulakukan selama dua minggu berkutat dengan angka, jurnal dan peraturan perbendaharaan. I feel more relaxing. Itu mengapa setiap manusia butuh liburan dan taking get away.

Setelah hujan reda dikit kita naik ke masjid Atta awun. Kupikir masjidnya megah sekali. Tetapi tidak. Meski begitu kesederhanaan ini justru membuat masjid ini tampak anggun di tengah kepungan bukit-bukit teh. Karena pemandangan disini benar-benar memanjakan mata, banyak pengunjung mengambil foto disini atau sekedar melihat-lihat. Saya melihat lokasi masjid ini strategis banget. Apalagi kawasan puncak terkenal dengan buka-tutup jalan untuk mengurai kemacetan. So masjid ini sering jadi tempat persinggahan sementara setelah orang-orang terjebak macet di kawasan puncak. Kalo kita melihat ke bukit di bagian atas masjid, kita akan mendapatkan sebuah spot yang biasa digunakan untuk paralayang. Orang sini biasanya menyebut Bukit Gantole.

945932_10201358722480775_1648409148_n

1013089_10201358720840734_1066237439_n

Masjid Atta’awun merupakan bangunan berlantai dua yang dibangun di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Bogor, pada 1997 atas prakarsa Gubernur Jawa Barat R. Nuriana, dan diresmikan pada 25 Maret 1999. Lantai bawah digunakan untuk jamaah pria, dan lantai atas dipakai untuk jamaah wanita.

994272_10201358720440724_1621615946_n

Masjid Atta’awun berada pada ketinggian 2000 mdpl. Tempat parkirnya luas, namun sebagian tersita oleh pedagang yang menjual makanan dan aneka suvenir. Untuk menuju masjid, pengunjung harus melalui 40 undakan. Ruangan utama Masjid Atta’awun tidak memiliki pilar, sehingga terkesan luas. Lantai, mihrab dan bagian bawah lantai atas berlapis kayu. Dinding Masjid Atta’awun berupa kaca tembus pandang, sehingga dari dalam masjid pengunjung bisa melihat pemandangan kebun teh yang menyejukkan.

996792_10201358725840859_1647599201_n

Masjid Atta’awun memiliki menara tunggal dengan bentuk kubah utama menyerupai sebuah payung jamur yang besar. Disekeliling Masjid Atta’awun terdapat kolam ikan yang dipenuhi ikan hias koi.  dan di bagian belakang Masjid kita akan menemukan sebuah curug mini (air terjun). Dan anyway salah satu bangunan ikonik di Masjid atta awun menurut saya adalah sebuah jam raksasa yang terletak di taman dekat pintu masuk masjid AttaAwun. Tapi sayangnya agak susah mengambil foto dengan jarak dekat dengan jam raksasa ini. huaaaaaaaaaa….aaa.a..

Pas kita lagi liat hasil display foto diri dengan latar belakang bukit teh, hasilnya seperti berada di tengah musim winter. Bukit-bukit teh serasa bersalju. Dan jujur saja, diantara kami berenam, kostum mbak lisa cucok banget. Jaket winter bergaya korean style. btw doi emang niat banget pas mau ke masjid attaawun. Secara kemaren pas hari minggu mbak lisa ga berhasil mengambil gambar karena masjid attaawun penuh dengan kerumunan manusia. So buat kamu yang pengen kesini kalo bisa jangan pas hari libur. dijamin ramai banget disini.

936119_10201358705040339_897307099_n
Biar lagi mengandung 7 bulan, mbak lisa ini ternyata cukup energik diajak jalan-jalan.

  931302_10201358706720381_1653597795_n       1001471_10201358722800783_498258335_n 1004597_10201358719320696_601477193_n 1004734_10201358720320721_1123414640_n 1010247_10201358705760357_1446965138_n 1011138_10201358719600703_405609375_n944713_10201358718680680_419588413_n

7258_10201358705080340_1387358247_n
We might forget the days but we always remember the Moments

Summer Scent In Pantai Luna : Sumenep Diamond in The Sky (Part 2)

Awan mendung sedang menggelayut di kaki langit. Saya yang sudah lebih sejam  motoran, belum sampe juga di pantai badur. Kalo sampe hujan, perjalanan mencari pantai-pantai cantik di madura bakal sirna. Tapi tak apalah kalo hujan. Bukankah hujan juga adalah karunia tuhan. Mungkin rumput di padang sabana yang tampak disekeliling samping saya — sudah merindu akan tarian hujan. Daun-daun siwalan pun tampak menguning di atas bukit. Menyanyikan lagu kekeringan. Kapankah kemarau akan segera berakhir? bukankah lebih baik hujan turun hari ini?

Stok bahan bakar mulai menipis. Sementara kios bensin  belum saya temukan juga. ah kenapa gak di pom bensin kota tadi ngisinya.  Saya merutuk dalam hati. Kulajukan kecepatan motorku. Tak kupedulikan lagi berapa gas yang akan terbuang sia-sia sebab harapan masih menggantung di langit — ada sebagian yang tidak tertutup mega mendung. Mungkin daerah yang tidak tertutup mendung itu adalah daerah kawasan pantai badur.  Semoga. Dan toh kalopun saya tiba-tiba di mogok didaerah remote seperti ini, saya masih bisa minta tolong warga lokal. Entah bagaimana bentuk bantuannya. Mungkin bisa saja tiba-tiba motorku diangkut dalam truk terbuka — Bergumul satu dengan sayur-sayuran ataupun hewan ternak. Sudah lama sekali saya merindukan sebuah momen-momen seperti itu. Atau yang lebih sederhana mungkin sekedar bercengkerama ataupun menyeruput kopi pahit di gubuk-gubuk sederhana warga setempat. Hm…what a wonderful life. Kalo ayah masih ada, mungkin ia orang yang pertama kali senang melihat anaknya yang manis ini tersesat disini. 17 tahun lalu saya pernah diajak ayah menyuluh di daerah terpencil ini. Ketika Musim liburan sekolah. Sayang hanya sedikit ingatan yang masih tersimpan di memori otak saya. Selebihnya yang saya ingat adalah saya merengek sepanjang jalan karena waktu pulang tidak kunjung2 sampe rumah. Jalanan dulu tidak sebagus ini–meski sebenarnya jalanan ini tampak tidak banyak yang berubah. Setidaknya masih lebih baik dibanding 17 tahun silam.

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita Yang mestinya kau saksikan

Motor terus melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Tak kupedulikan lagi rasa sakit di perut yang terasa seperti dililit sesuatu. Terseok-seok di lubang jalanan. Entah berapa km lagi saya akan menemukan jalan beraspal mulus. Hawa panas menyerang pipi. Terasa seperti terbakar. Untung ini masih belum api neraka. Ah kenapa pulak neraka berada di pikiranku sekarang??Bukankah aku akan mencari surga?

Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap kering rerumputan
Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi

Akhirnya perjalanan yang melelahkan ini terbayar juga begitu melihat bentangan garis pantai yang memanjang. Begitu menyejukkan. Melihat dari ketinggian, laut tampak membiru. Indah. Ingin sekali kaki ini turun ke pantai.  Setelah menemukan daratan yang agak landai kuputuskan untuk singgah di sebuah tepi pantai. Entah apa nama pantainya. Meski tidak begitu luas tapi pemandangan di sekitar cukup mengendorkan syaraf dan ototku yang menegang selama berkendara.

995784_10201813619572918_1481613319_n
What an amazing beach!!
1000584_10201813588652145_1270511595_n
Mendung di atas pantai

Karena tak bisa kutemukan seseorang disini dan bisa kutanyai nama pantai ini, aku menamakan sendiri pantai ini dengan sebutan pantai Luna. Meski tidak terlalu luas pantainya tetapi pantai ini cocok sekali buat family camp atau gathering sambil bakar-bakar ikan dan duduk di atas lesehan tikar. Masyarakat madura biasanya suka gathering makan-makan di pantai ketika lebaran ketupat. Itu mengapa kalo lebaran ketupat pantai tampak rame sekali. Oh ya penanggalan lebaran ketupat di madura berbeda dengan lebaran di jawa. Kalo di jawa, hari lebaran idul fitri langsung makan ketupatan, di madura justru hari ke 7  baru makan ketupatan.

IMG-20141013-WA003

1098537_10201813583732022_1726354947_n
Pasirnya halus berwarna krem dengan taburan polesan warna kuning

1146655_10201813597132357_1339193147_n

994866_10201813624653045_678842722_n
Kalo pantai lagi sepi, pekerjaan apa coba yang paling enak?? kalo saya memilih lari-lari di tepi pantai..kayak pemeran baywatch

pantai ini kuberikan nama pantai Luna sesuai dengan nama keponakanku. Lagian juga kan jarang warga kota yang tahu pantai ini selain warga lokal. di blog-blog juga gak ada yang bahas pantai ini. Jadi bisa dipastikan pantai ini adalah pantai tidak bernama. maksa mode on haha. hai luna manis. ini om hadiahkan kamu sebuah pantai. seperti nama indahmu. nanti kalo luna sudah gede, om akan ajak luna kesini. Katanya luna penasaran dengan burung camar hehe.

Well Kalo lihat pantai ini, saya jadi teringat film night at rodanthe. itu lho film romantis yang dibintangi Richard Gere. Ah besok klo sudah tua, coba beli sejengkal tanah di pantai-pantai kayak gini aja deh di utara pulau madura. terus Pengennya bangun rumah kayak rumahnya Adrienne Willis (Diane Lane) di film night at rodanthe. Pasti happy forever hehe

Rodanthe_house
contoh rumah yang pengen saya bangun. Mimpi mode on 🙂
rodanthe
Feel Cozy and Romantic

images2

trus di pinggir pantai dibangun jembatan kayak gini. Di madura utara hanya bisa lihat sunset seperti halnya pantai kuta. Jadi pas sekali. Kalo abis petang bisa bikin beach party kecil-kecilan seperti barbeque party dan ngajak warga lokal atau lansia yang berpasangan. Maenin musik biola, dentingan gitar country atau reggae. Ngedance kayak orang Carribbean atau Jamaica. Pasti seru suasananya. Well semoga anak-anakku kelak suka dengan kehidupan seperti ini. Everyday is always be summer 🙂

images

Killing Time Kayak gini serasa Forever Young
Killing Time Kayak gini serasa Forever Young

 

Pantai Badur : Sumenep Diamond in the Sky (Part 1)

Mungkin tak banyak yang tahu kalo orang sumenep memiliki pantai cantik dan menawan. When you ask to local what the best beach sumenep has, may it will lead to Pantai Lombang. Tidak salah lagi pantai Lombang memang lebih mengindonesia seperti halnya pantai parangtritis. Orang sepulau madura yang terdiri 4 kabupaten, pun tidak bakal menyangkal bahwa pantai tercantik di madura adalah pantai lombang. Tetapi bagi saya ada pantai yang tak kalah menang menarik daripada Pantai Lombang yaitu Pantai badur.

Sebenarnya saya agak malas menulis pantai-pantai cantik di sumenep karena kekhawatiran saya bahwa apabila pantai di Indonesia telah banyak dikunjungi orang, bakal mengurangi kejelitaan pantai itu sendiri. Sampah dimana-mana. kios-kios pedagang yang tidak tertata rapi sehingga mengusik keindahan pantai. Belum lagi ditambah potensi rusaknya ekosistem di sekitar pantai etc. Tetapi karena teman saya maksa untuk nulis blog tentang keunikan pulau madura, it’s okay lah.

Pantai badur. Keberadaan pantai ini saya dapatkan dari teman SMA saya yang asli dari kecamatan batu putih. tepatnya di Desa Badur. terletak 50 km dari kota sumenep dan utara pulau madura. Dia bilang bahwa Pantai badur ini lebih cantik daripada pantai lombang. Meski sudah SMA saya dikasih tahunya, tetapi saya baru mengunjungi pantai ini 7 tahun kemudian. wew lama juga yah. Yup daerah bagian utara pulau madura memang aksesnya tidak semudah jalur pantai selatan madura. Jalan-jalan rusak. Sehingga minat masyarakat sumenep lebih cenderung berdamawisata ke pantai Lombang atau salopeng yang aksesnya lebih mudah dilalui. Karena keterbatasan aksesnya ini, juga berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Sedikit sekali angkutan umum yang menuju kesana. Semua kebutuhan seperti beras dan sembako lainnya masih ditopang dari kecamatan sebelahnya yang lebih ramai atau pergi ke kota. Mungkin ini mengapa saya lebih banyak menyaksikan kendaraan pick up berlalu lalang daripada kendaraan penumpang lainnya. Anyway sepanjang jalan menuju ke pantai ini, saya belum pernah melihat kendaraan penumpang sama sekali sejenis L300, metromini, elf selain pick up. Sebuah pemandangan langka ketika saya melihat gerombolan penduduk desa bergumul jadi satu di dalam bak terbuka. Dari cara berpakaian mereka, modernisasi seolah tak membendung gaya fashion mereka yang tetap jadul. Ndeso. Kepadatan penduduk disini pun juga sedikit, karena konsentrasi hunian masyarakat madura lebih cenderung ke daerah2 pantai selatan. Sedikit ngeri apabila sepeda motor saya tiba-tiba mogok di tengah jalan. Bengkel seolah menjadi barang mahal disana. Karena sedikit rumah yang saya temukan di pinggir jalan. Keramaian pasar pun mungkin pemandangan yang tak bakal ditemukan disana. Penduduk disini lebih menyukai bertempat tinggal jauh dari jalan desa dan bersembunyi jauh 1 km dari jalan desa. Di balik perbukitan. Setiap petak lahan berisi 4-5 rumah yang berkumpul jadi satu. umumnya masih satu kerabat. Dan antara satu petak lahan rumah dengan petak lainnya cukup terpisah jauhnya. Mungkin karena kondisi geografis seperti inilah yang membuat orang madura memiliki suara yang lantang ketika berbicara. Bayangin aja bila orang hendak memanggil orang yang berada di rumah petak sebelah yang jaraknya terpaut jauh. Sudah pasti mereka bakal tereak-tereak. Kondisi alam yang tandus dan bentangan pegunungan kapur mungkin sedikit berpengaruh terhadap logat atau watak orang madura.

1005341_10201813720895451_1487403037_n
Desa tak terjamah. Imajinasi saya mirip ketika baca bukunya laskar pelangi. Tandus
998071_10201813729815674_1432698399_n
Sepanjang jalan desa, Sepanjang itu pemandangan pantai selalu terlihat. menyejukkan, right!!!

Di sepanjang jalan menuju pantai badur ketika kepala ini menoleh ke arah ke kanan, terhampar ladang dan padang sabana. Mirip seperti pemandangan di flores. Kalo dibuat ranch-ranch kayaknya cocok banget suasananya. Ketika kepala menoleh ke arah kiri, pantai laut jawa kelihatan tampak nyata dengan ombaknya. Butiran pasir halus di sepanjang bibir pantai benar-benar mengundang kaki ini sejenak untuk rehat di tepi pantai. Saya akan selalu merindukan momen seperti ini. Ah, kalo jalanan desa ini dipake buat lari-lari sore atau bersepeda mungkin lebih mantap suasananya. Semilir angin sore,  barisan bukit kelapa, bukit sabana dan sepi, kurang apalagi coba. Ah andai di tepi pantai ada sebuah bangku, mungkin buat kamu-kamu yang melankolis cocok banget buat merenung diri. Menghabiskan waktu senja sambil duduk di bangku kosong adalah kesukaan saya. Menikmati semilir angin laut dalam keheningan. Mendengarkan syahdunya melodi ombak. Menatap burung-burung laut berterbangan di kaki langit-pulang ke peraduannya. Just like a heaven. Pantai bukan lagi hanya tempat bermain, tetapi lebih dari itu. Tempat bertapa. Kalau lagi jenuh dan stress, pantai adalah tempat terbaik mengasingkan diri. Tempat menyalakan kembali api semangat. Mengusik spiritualitas dalam kedamaian. mirip Elizabet dalam film eat pray love, jauh-jauh datang ke bali cuma ingin mencari ketenangan hati.

993334_10201813851098706_201410641_n
Pantai badur
1016961_10201814129905676_1595678301_n
Tidak ada jejak kaki disini
1098486_10201814132505741_1184845202_n
Jejak ban dari sepeda motor warga lokal dan bentangan cemara udang sepanjang pantai
946312_10201814134585793_1123518441_n(1)
Pantai di Pulau madura memiliki pasir coklat krem bukan pasir berwarna putih
1098497_10201814027343112_1791974391_n
Sisi lain dari pantai badur

       625475_10201814002702496_598028448_n

1098372_10201814094544792_1615772013_n
sign my name
944599_10201814126625594_940283485_n
Happy beaching

Setelah hampir 1,5 jam berada di atas jok motor akhirnya sampai juga di pantai badur. Takjub. Tersihir dengan keindahan pantai badur. Mulut hanya bisa menganga melihat bentangan surga di hadapan saya (lebay hahaha). Tapi anyway pantai ini termasuk cantik lho. Sampe saya lupa mematikan starter sepeda motor saya. Karena begitu mendarat di pantai, saya langsung lari kesana kemari lompat-lompat gak jelas di atas hamparan pasir. Seolah pantai ini adalah pantai pribadi. Ketika saya ke Jogja melihat pantai indrayanti, Sarwana, papuma dll toh masih cantik pantai ini. Yang saya suka dengan pantai ini adalah sepi. ketika kesana saya cuma lihat 3 pengunjung warga lokal. Itupun anak-anak yang masih ingusan lagi belajar naek motor di tepi pantai. Jejak-jejak kaki tampak sedikit menandakan bahwa pantai ini jarang dikunjungi. Bersih. Tidak ada kios-kios pedagang. Bibir pantainya lebar, panjang dan luas. Dan seperti pantai lombang, pantai ini juga memiliki gugusan pohon cemara udang. Cemara Udang ini memang vegetasi endemik dan terlihat di sepanjang pantai utara madura. Mamaku yang 20 tahun silam menginjak pulau madura, dari dulu pantai-pantai utara sudah ada pohon cemaranya. Seperti kanada terkenal dengan daun maplenya, maka sumenep terkenal dengan cemara udangnya. Biar kelihatan ikonik, di beberapa bagian kota sumenep telah banyak ditanami pohon cemara udang sebagai hutan kota.

1006307_10201814041423464_1275250855_n
Salah satu sungai yang mengalir ke pantai dan deretan pohon cemara. Coba kalo ada winter, salju di pucuk pucuk cemara. it sound nice 🙂

78326_1608639467429_1579487025_31449607_7398365_o1

Notes : Buat yang mau kesini..jangan kotorin pantainya yah!!! a Great man comes from great attitude

Sore di Curug Luhur (Jalan-jalan ke Puncak part 4)

Abis dari Pura Parahyangan, kita pengen ngelanjutin lagi jalan jalannya ke curug-curug yang berdekatan dengan pura ini. Kata temen saya ada curug yang dekat pura yaitu curug cigamea, curug nangka dan curug luhur. Dan yang recomended adalah curug nangka dan curug cigamea. Tapi sayangnya dari Pura menuju jalan raya utk mencari angkot harus mesti naik ojek lagi. pengen ke curug nangka, tapi ojeknya ga bs nganter sampe ke dalam. harus jalan kaki lagi 1 km (entah apa gwnya dibohongi sama bang ojeknya). mau ke cigamea, tapi teman2 takut kemaleman. secara sudah jam 3 sore lewat. Mana katanya ke cigamea harus naik tangga yang anak tangganya banyak sekali untuk menuju puncaknya. setelah proses tawar menawar kita sepakat bayar 20 ribu ke curug luhur.

Camera 360

Sampe di curug luhur kita langsung menuju loket curug luhur. Waktu itu seorang bule yang sedang jaga loketnya. kemungkinan pemilik curug luhur ini. Pas tanya berapa tiket masuknya.

“30 ribu” wew mahal amat kata gw dalam hati.

“Pak mahal banget tiket masuknya”

si bule nyeletuk. ” Murah mana sama dufan? lo disini ga cuma dapat air terjun tapi juga waterpark. Mahal mana?? si bule ketus sekali jawabnya. gw dan 2 teman gw batal masuk. Agak malas kalo air terjunnya sudah gak alami apalagi pake pemandian buatan di dalamnya. Sebenarnya alasan utamanya sih qta gak bawa baju salinan. Sayang banget 30 ribu kalo qta disana cuma liat-liat air terjun, tapi gak mandi.

IMG_1946Untung di depan curug luhur ada sungai dan air terjun mini. qta pergi kesana. apalagi pemandangan di sekitar sungai indah dan udaranya sejuk sekali. Khas pegunungan. Waktu itu hari sedang mendung sehingga kabut tampak nyata menguap di pepohonan. sebenarnya qta ga ngeh kalo ini juga tempat wisata. Pas jalan-jalan di pinggir sungainya, qta ditarik retribusi 5000 rupiah. beuh. Disini ada bale-bale buat beristirahat. Disana qta makan gorengan cilok, tahu isi dan pisang goreng. Makan-makan yang anget memang cocok apalagi suasananya dingin banget di sekitar. Sore yang indah.

 

Camera 360

Secuil Cerita dari Ngawi

Akhirnya setelah penantian selama 25 tahun, gw jadi tahu juga kota ngawi #terharu 🙂 . Itu lho kota paling barat jawa timur dan paling timur jawa tengah. Yah letaknya di border 2 propinsi itu. Kenapa sih kok bisa terharu hehe. Aniwei beidewei kota ngawi itu kelahiran eyang dan mamaku lho. Tapi sayang sejak meletus G 30 S PKI semua keluarga mamaku berpencar-pencar. Tau sendiri kan, kalo ngawi tuh dkat banget sama madiun, kota dimana PKI sering bergolak disana dulunya. Makanya keluarga mamaku cari perlindungan dmana-mana. Pernah tinggal di jember, situbondo, manado, malang dan terakhir di Tuban. Dan sekarang eyangku sudah menetap tetap di Tuban setelah berkali-kali ganti kota domisili. Maklum eyang laki adalah seorang tentara dan saudara eyang juga ada yang jadi korban salah tangkap pas abis datang dari Rusia. haisss kok jadi beber aib keluarga hehe. oke lanjut. Nah ceritanya sebulan sebelum idul adha, gw dapat surat undangan dari teman gw di ngawi. Undangannya jatoh pas berbarengan liburan 5 hari idul adha..huaaaaa..pdhal gw dah bikin plan mw ke bali. Akhirnya setelah dipikir-pikir, yah gw datang ke undangan mahend saja di ngawi. Dan liburan ke bali pun gw pendam jauh2 di bawah kolong bumi. Sambil seraya mengingat petuah dosen pak nyoman “seseorang yang bisa menunda keinginannya, dia akan sukses”. Maksud menghibur diri malah tambah kepikiran haha. Gak pa pa yah in, someday you’ll bridge the island…owh someday…someday someday sampe kapan 🙂

Mahend ini teman satu kosan gw pas kuliah di bintaro dan balikpapañ. Teman bareng dari kosan kalo berangkat atau pulang kuliah. Dan di antara bersepuluh anak kosan yang ngekos di Pak Sukoco, dia yang pertama pecah telor duluan pasca lulus. Haha. Semoga teman qta yang lain ikut ketularan cepat nikahnya yeee amin… ketauan nih sudah berapa lama membujang hehe

Berangkat jam 2 siang dari pamekasan. Perjalanan yang seharusnya cuma memakan 4 jam untuk sampe di terminal bungurasih surabaya, ternyata baru jam setengah 8 malam baru mendarat di bungur. terjebak macet 1,5 jam di tol gara2 long weekend ini, beuh. Saya gak langsung melanjutkan naik bus lagi ke ngawi. Bungur malam itu penuh lautan manusia. Mau masuk bus yang patas ataupun ekonomi mesti berjibaku masuk ke dalam busnya. Saya makan dulu di sebuah kedai soto sambil liat timnas U-19 lawan korea. Meski suasana mudik, banyak lho mudikers yang menunda keberangkatannya demi cuma liat timnas maen. termasuk gw. Padahal gw juga gak gila bola. Just try kill time. Plan gw berangkat ke ngawi jam dini hari, karena gak enak sama teman gw yang jemput di ngawi karena kemalaman. gak enak juga sama keluarganya. Setelah rehat bentar sejaman di musalla, gw langsung menuju pool bus ekonomi yang menuju arah solo-jogja. Gila..masih banyak juga orang ngantri bus. Alhamdulillah pas busnya datang ke dalam pool dan hebatnya pintu busnya berhenti tepat di depan muka gw..hiat..dengan sekali ayun kaki, akhirnya gw bisa masuk ke dalam bus. Dapat tempat duduk juga. hufff. Kalo ke jalur selatan, saya selalu mencari bus yang ekonomi dan ber AC. Selain adem, murah, juga pas di kantong. Kebetulan gw dapat bus sugeng rahayu AC tarif ekonomi. Jam 5 subuh saya sampe di ngawi. Turun di perempatan terminal lama. Setelah salat bentar di pom bensin, saya di jemput teman saya yang asli ngawi. His name is Fian. And anyway Fian ini teman satu kuliah juga dulu pas di balikpapan. Doi bela2in dari samarinda ke ngawi untuk menghadiri pesta pernikahannya si mahend. fian ini memang teman baik si mempelai berdua, sekaligus ketua geng kami pas kuliah di balikpapan. Pas qta sedang motoran, fian ngasih tau “ini lho kantor kpp ngawi”. Pandangan saya menoleh ke sebuah kantor yang tidak begitu besar. Sekilas saya membandingkan dg kantorku kpp pamekasan. kpp ngawi ini ga ada apa2nya. Masih 2 kali gedean kantorku #bangga.

Ngawi ini biar terletak di perbatasan dua propinsi, masih tergolong kota kecil dan tidak ramai. Yah ga jauh beda dengan sumenep, kota kelahiran saya. Sama-sama panas lagi. Bayangan kota ngawi seperti kota tua seperti yang dipikirkan saya, justru keliatan nampak sebagai kota yang baru saja membangun. Beda sama madiun yang masih bnyak ditemukan gedung gedung bersejarah. Sampe di rumah fian ternyata sudah ada Johan dan Eko yang sudah bermalam disana sebelumnya. Sarapan pagi kita disuguhin pecel sama gudeg dan aneka jajanan khas ngawi. Banyak banget lagi. Sampe saya kenyang hehe..gudeg kayak gini susah ditemuin di madura. Orang madura biasa lebih suka nangka mudanya dijadiin lodeh. Akhirnya setelah mandi qta berangkat ke nikahannya si mahend. Kebetulan gedung resepsinya di sebelah alun-alun. Berseberangan dengan masjid agung. kata fian alun-alun ngawi ini adalah alun-alun terbesar di Jawa Timur. Tapi sumpah deh ini lebih seperti padang gersang ketimbang keliatan sebagai alun-alun. Jalur track pedestrian bnyak yang rusak. Pertamanannya tidak ditata rapi dan terkesan jorok. Taman bermain juga seadanya. Absurd.

Masjid Agung Ngawi

Masjid agung ngawi ini  menjadi tempat akad nikahnya si mahend dan istrinya. Masjid ngawi ini sama seperti hal masjid lainnya dengan arsitektur bergaya modern. Tidak ada ciri khas yang bisa ditemukan oleh saya.

“Sori yah in, kota ngawi memang bukan kota wisata. yah gini-gini doang” hibur fian ke gw

Untungnya gw sebelumnya sempat baca blognya mas halim, kalo di ngawi punya benteng bersejarah. Kata Fian benteng ini dekat sama sekolah esdenya. Setelah salat duhur, kita langsung berangkat ke benteng yang tidak jauh dari alun-alun. Benteng ini terletak di sebelah kompleks taman makam pahlawan. Dari gerbang pintu masuknya kelihatan sepi. Tapi pas masuk ke dalam, banyak sekali pengunjung yang mendatangi benteng ini. Mereka anak-anak muda yang mungkin sekedar nongkrong atau mengambil gambar disana dengan latar benteng yang tampak kuno.

???????????????????????????????

DSC00767
Van De Bosch pasti terinspirasi dengan colosseum di Italy

???????????????????????????????

DSC00795

Ongkos masuknya cuma 3000 rupiah. Rasanya iri melihat benteng kuno ini masih berdiri meski sudah tak tampak utuh lagi. Di kotaku sendiri benteng seluas 6 hektar dengan kantor dagang belanda penghasil garam pun rata dengan tanah. Semua batu bata dijarah dan diambil untuk membangun rumah. Besi-besi tua pun laku dijual pedagang loakan bekas. Tak ada yang mampu mencegah dampak krisis moneter 17 tahun silam yang berimbas pada penjarahan ini.

DSC00756

DSC00772Sayangnya di tempat bersejarah ini gak ada papan informasi yang menjelaskan seluk beluk keberadaan benteng ini. Alhasil disana gw googling di hape sambil baca blog tentang benteng ini. Seperti benteng peninggalan hindia belanda lainnya, Benteng Van Den Bosch juga memiliki banyak ruangan diantaranya: ruang kolonel, ruang komando, kamar mandi, bekas toilet jongkok, pintu gerbang utama dan ratusan kamar untuk para tentara. Orang ngawi biasa menyebut benteng ini dengan sebutan benteng pendem.  kalo diliat dari luar, benteng ini seperti ditutup oleh gundukan tanah yang tinggi. Lokasinya terletak di pertemuan dua sungai yaitu bengawan solo dan sungai madiun menjadikan benteng ini sebagai pusat pertahanan yang strategis dan mampu menghadang serangan dari luar. Nah disini gw jadi sadar, ternyata gundukan tanah tinggi itu adalah sebuah tanggul.

inder2

Benteng yang pembangunannya memakan waktu sekitar 6 tahun ini dibangun oleh jenderal Van De Bosch untuk menangkis serangan pasukan diponegoro. Disini juga ada makam salah satu anak buah diponegoro di dalam kantor utama  Benteng  bernama KH. Muhammad Nursalim. KH. Muhammad Nursalim ini adalah tokoh pejuang yang ditangkap belanda dan di bawa ke Benteng tersebut, karena kesaktiannya beliau tidak mempan ditembak akhirnya oleh tentara belanda dikubur hidup-hidup didalam benteng tersebut. Anda boleh tidak percaya legenda ini, tapi makam ini memang benar adanya. Di beberapa bagian benteng lainnya ada yang sudah rusak parah gara-gara dibom sama jepang. Atapnya ambrol semua. Gara-gara ada bangunan mirip pathernon seperti di Yunani, semua teman gw mendadak alay. Akhirnya foto ala anak sok boyband tidak dapat dicegah juga :p

inder3    DSC00783 DSC00759???????????????????????????????

setelah selesai lihat benteng, salah satu teman gw, wisnu pengen nyekar ke makam eyangnya di ngawi. Kebetulan eyangnya dimakamkan di TMP sebelah benteng. Setelah nyari-nyari makamnya akhirnya nemu juga. Kemudian selesai nyekar, si fifi pengen bernostalgia liat esdenya, tempat masa kecilnya dulu bersekolah. Ternyata esdenya masih bagusan esdeku. Tapi ada persamaannya lho. esdeku sama esdenya fian. sama2 terletak di samping benteng peninggalan belanda. What a coincidence!!!

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

%d blogger menyukai ini: