Sabtu bersama mbah kakung part 2

Tahun 2017 mbah kakung saya berumur 90 tahun. Praktis menjadi orang tertua sedusun. Alhamdulillah mbah saya sudah 3 tahun ini tidak merokok. Akhirnya nasihat untuk tidak merokok sampai juga di kedalaman hatinya. 3 tahun lalu mbah saya merasa paru parunya tidak nyaman. Akhirnya berobat kepada cucunya, adik hasan, yang kini telah menjadi seorang dokter. Entah nasihat macam apa membuat mbah kakung saya berhenti total dari aktivitas merokok.

Bapak saya telah meninggal 10 tahun lalu. Disebabkan karena komplikasi paru paru. Salah satunya disebabkan oleh rokok. Banyak orang bilang, mengapa mbahmu yang menjadi perokok aktif malah bapakmu yang dipanggil duluan menghadap ilahi. Padhal rentang lama merokok bapakmu tidak selama rentang mbahmu merokok yang hampir tiga perempat abad. Begitu kata orang orang. Itu kematian bukan karena ajtivitas merokok. Kesimpulan yang sangat sesat. Bapak saya malah menasehati anak anaknya agar tidak merokok karena ketika paru parumu sakit, itu telah mengurangi sedikit kenikamatan hidup. Jangan lalaikan sehatmu, jangan lalaikan usia mudamu. Sungguh rokok itu temannya setan. Cukup bapakmu saja yang menanggung sakitnya paru paru ini karena rokok.

Terkadang Tuhan itu lucu. Ada orang yang tidak merokok tetapi tidak hidup lama di dunia. Ada yang merokok, tapi masih sehat saja di usia senjanya. Tidak..Tuhan tidak sebercanda itu. Yang ada dalam genggamanNya terkadang masih luput dicerna oleh akal kita. Banyak orang mengira bahwa di dunia ia telah melakukan banyak kebaikan, ia melakukan hal hal yang baik, tidak memberi mudharat kepada orang lain tetapi ketika dibuka amal catatannya, justru kosong. Ujian terberat seseorang itu adalah ketika dia merasa dirinya tidak diuji. Seolah itu sebuah anugerah atau rezeki. Pada hakikatnya, ketika manusia bertambah nikmatnya, sejatinya bertambah pula ujiannya. Nikmat umur, nikmat harta. Bahkan sahabat nabi kita, abu bakar mengatakan “aku sering menjadi tidak sabar ketika diberi keberlimpahan”. Sahabat Umar pun selalu menangis bila dia mendapat rampasan hasil perang yang berlimpah. Ghanimah. Kita tahu zaman sahabat umar wilayah islam begitu luas. Mencapai kejayaannya. “Seandainya ini adalah limpahan keberkahan, harusnya kelimpahan ini ada di zaman sahabat abu bakar. Ia lebih mulia daripada aku”. Begitu umar berkata sebakda melihat rampasan perang yang melimpah ruah ketika menaklukan kerajaan persia.

Di usia yang 90 tahun, saya masih melihat mbah saya bisa berdiri tegak. Masih bisa salat tanpa dibantu kursi. Shalawat tarawih 20 rakaat pun dijalaninya bersama imam yang super kilat bacaan dan gerakannya. Kalau jalan kaki tidak membungkuk seolah tidak mengalami osteoporosis. Entah bagaimana tulang punggung itu masih tampak padat. Bukankah semakin menua, semakin berkurang kadar kalsiumnya. 10 tahun yang lalu, saya masih melihat mbah saya menurunkan karung hasil panen padinya dari sepeda ontelnya. MasyaAllah, itu sepeda ontel yang dulu masa kecil saya-mbah saya pernah memboncengi saya dibelakangnya, tentu dengan kaki dililit tali. Masih ada itu sepeda. Tampak karat dimana mana dimakan usia, sama seperti tubuh mbah dimakan keriput di usianya yang semakin senja. 10 tahun lalu, mbah saya dsuruh berhenti kerja di sawah, tetapi dia tetap tidak mau. Padahal saat itu usianya sdh mencapai 80 tahun dan anak anaknya telah bisa bekerja secara mandiri dan bisa memberikan kebutuhan pangan mbah. Mbah putri sudah meninggalkannya sejak tahun 1996, praktis selama 20 tahun ia hidup tanpa pasangan kecuali masih ditemani anak dan cucunya yang imut2.

Sekilas melihat tampilan mbah saya yang secara fisik masih bugar, saya teringat sebuah artikel kesehatan, bahwa orang yang rajin berolahraga secara teratur mampu membentuk tulang yang kuat dan mencegah kerapuhan tulang atau perlambatan pengeroposan. Mungkin kekuatan tulang ini diperoleh mbah saya ketika selagi muda dan tuanya masih mencangkul di sawah.

Sekarang mbah kakung tidak memiliki sawah lagi sebab dijualnya. Fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi. Kalau badannya lagi tidak enak, mbah minta tolong dibelikan sup kepala kambing. Saya saja kaget obat mujarab sakitnya si mbah itu sup kepala kambing. Menu makanan yang berkolesterol dan tentu tidak baik bagi kesehatan. Sekali santap sup kepala kambing, sirna sudah segala sakitnya. Saya yang melihat mbak menyantap sup kepala kambing berasa melihat seorang kannibal hehehe. Saya yang diajaknya makan jadi jijik, meski saya mencoba seicip demi seicip terasa enak tapi tetap menjijjkkan.

Sehat terus mbak. Dari cucumu yang menyayangimu

Tuban, 2 syawal

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sabtu Bersama Mbah Kakung

Alhamdulillah, ramadhan 2017 saya masih bisa bertemu dengan mbah kakung saya dari pihak ayah. Saya sangat senang Indonesia memiliki tradisi mudik. Tak ada yang mengalahkan kefanatikan orang Indonesia dalam hal mudik bahkan ketika mereka dihadapkan sebuah tiket transportasi yang melonjak naik. Bahkan ketika setiap tahun menjumpai terjebak macet antrean panjang di jalanan berjam jam hanya ingin pulang kampung. Gak ada kata kapok dalam kamus untuk orang yang hendak mudik. Yang penting pulang, nak. Sungkem karo wong tua, sungkem karo pak poh, bukpo dan sedulur sedulur. Tiket mahal di tangan seolah tak ada harga ketika tangan berjabat, ketika mbahmu dengan senyun sumringah menyambut cucunya, memeluk penuh kesayangan,  ketika kamu hanya menjawab sekedar “baik baik saja”, ketika tante, budemu hanya menanyakan piye kabare, le?? “.Saya bersyukur bahwa sampai hari ini Allah masih memberi dengan kelebihan rizki sehingga saya bisa melakukan mudik tahun ini. Alhamdulillah. Karena mbah mbah saya masih ada, saya yang sudah berdomisili di madura, harus melakukan mudik ke mojokerto bersama ibu dan adik saya. Perjalanan lancar jaya dari sumenep tanpa halangan apapun ke mojokerto.

Saya tak memahami arti mudik. Waktu saya SD, setiap mau mudik Ortu saya bilang “ndra kita liburan di rumah mbah. ortu saya akan membuat surat ke sekolah bahwa saya izin beberapa hari tidak masuk sekolah dari jatah libur resmi karena alasan mudik. Senang waktu itu karena saya bisa bolos beberapa hari. Zaman saya SD, kita tidak dikasih liburan banyak. Beda sama zaman gusdur yang sekolah sudah libur sejak puasa ramadhan sampai selesai idul fitri.  Kalo main ke rumah mbah, yang terbayang pertama kali di benak saya, pasti besok paginya saya selalu dibawa mbah putri ke pasar. Mbah putri saya dulu jualan di pasar. Disitu mbah saya memamerkan saya ke teman teman pedagang, seolah saya makhluk tuhan paling imut. Dielus elus pipinya macam boneka. Beuh. Tak jarang saya suka lempar bawang bawang karena saya anggap mainan xixiixixi. Tapi mbah saya ga pernah marah. Mbah putri saya mengerti bagaimana cucunya bisa senang. Kalau berangkat ke pasar naik sepeda ontel dengan mbah kakung, pulangnya naik dokar. Senang sekali saya waktu itu, karena saya bisa melihat kelucuan sang kuda dan pak delman.

Mudik menempa saya kelak, bahwa saya orang yg hobi menikmati jalan jalan. Menempa hidung saya menjadi sebuah organ yang memiliki antibodi terhadap segala rasa dan bau keringat yang bersenyawa dengan bau ketek.  Sering juga itu membuat saya pusing kepala. Dalam kondisi itu saya sering tanya, “berapa jam lama lagi pa, ma sampe”?. Biar dua orang tua saya PNS, yang di jaman itu dibilang berkecukupan, toh ortu saya selalu naiknya bus ekonomi. Jarang jarang naik bus patas. Entahlah apa dua gaji itu tidak mampu membayar tiket premium buat 4 orang(papa, mama, kakak dan saya sendiri). Pikiran anak kecil saya belum pernah memikirkan sejauh itu. Yang saya tahu, “adek naik bus yang ini”. Kadang juga saya sendiri pernah nanyain, “ma kenapa ga naik bus yang itu saja. Itu di dalam ada tv nya ma. Terus itu apa ma di atas atap bus, kok tampilan busnya beda”. Ibu saya langsung menimpali “itu bus AC dik. Mahal”. Jadi teringat dulu pernah merengek naik bus bus yang bagus karena tampilan dari luarnya bagus. Kadang tiba tiba saya masuk ke dalam bus yang saya sukai dan ortu saya terpaksa ngeluarin lagi ke luar bus.ckckcckck. 

Saya suka sekali menikmati pemandangan yang berbeda di luar kaca jendela bus. Berebutan dengan kakak saya dihadapan jendela. Melihat bangunan tua, Melihat bangunan unik sesekali bertanya tanya ke mama, itu bangunan apa. Anak anak menyukai hal hal apa yang dianggap baru. Ketika bus sampai di kamal dan menyeberangi laut, saya menikmati perjalanan dengan fery dari pelabuhan kamal menuju perak. Bermain di buritan kapal, menikmati  rambut saya semilir disibak angin laut. Mendengarkan gemuruh gelombang. Menatap ngeri ketika memandang kedalaman laut. Takut tenggelam. Karena sering naik fery, saya sampai hafal nama nama ferry berlayar di sepanjang perariran ini.  Ketika sampai di perak, saya bisa melihat patung seorang tentara berdiri gagah dalam monumen jalesveva jayamahe. Di laut kita berjaya. Di surabaya saya melihat bangunan dengan arsitektur berbeda, gedung pencakar langit, jalan melayang layang, asap hitam di udara bahkan sudut sudut kota yang tampak kumuh. Pikiran kecil saya, itu surabaya seperti kota mengerikan. Tak pernah istirahat. Asap asap mikrolet, bemo, bus membumbung hitam. orang orang berjalan cepat. Seolah tak menikmati hidup. Kalau sudah sampai bungurasih, energi saya menjadi bertambah karena sejam lagi bakal sampe. Usai sudah segala keletihan, usai sudah hidung ini menghirup bau tak mengenakkan, usai sudah pipi ini terasa panas gara gara suasana yang  gerah. Seolah neraka sebentar lagi usai. Arghh.

Mudik juga itu bisa mengenal kuliner jajanan khas atau makanan yang saya anggap baru. Sepanjang jalan dari sumenep mojokerto tuban, sering abang penjaja makanan di dalam bus nawarin mulai dari permen jahe(ini permen sampe sekarang masih awet jualannya), onde onde, dodol, wingko, legen, manisan buah, kacang telur, air minum dll. Jualan jualan abang abang ini yang membuat kebete-an jadi sirna. Apalagi kalau langsung minum air mineral es..beuh..langsung segar dan mau bobok.

Itulah Sedikit cerita kenangan mudik masa kecil yang bisa saya rekam. Sebenarnya masih banyak lagi seperti Mulai dari hilang kardus, kebalik sama kardus orang, ketinggalan barang di bus dan lain lain.. Anyway Saya akhiri tulisan saya ini dan akan berlanjut di tulisan kedua nanti, juga tentang mudik. Namaste.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Masjid Namira

Setelah menempuh kurang lebih 45 menit dari mojokerto menuju lamongan, melewati lebatnya alas jati, saya singgah dahulu di masjid namira di daerah tikung, kab. lamongan. Masjid ini rekomendasi dari teman kerja saya, mas bangun. Jadi ceritanya sebelum sampai tuban dalam rangka mudik, saya ingin mampir ke beberapa tempat wisata. Awalnya mau berziarah ke makam sunan drajat. Berhubung situs makam sunan drajat berada di garis pantai utara yang masih 30 km dari kota lamongan, saya skip tempat tersebut. Setelah tanya teman saya yang domisili di lamongan, akhirnya kepilih masjid namira. Kebetulan masjid ini bakal dilewati selama perjalanan darat dari mojokerto lamongan via jalan raya mantup. Jam 1 siang kami tiba disana.

Dari tampak luar, masjid ini penampakannya biasa saja. Terkesan minimalis malah. Baru setelah masuk ke dalam, masjid ini baru kelihatan keindahannya. Dalam bagian mihrabnya terletak gambar kakbah dengan penampakan pintu kakbah  atau kiswah. Saya yang baru umrah 4 bulan lalu berasa nostalgia lagi ketika memasuki masjid ini. Pengunjung yang shalat bisa merasakan seolah seolah sedang shalat menghadap kakbah. Subhanallah. 


Ya Allah, jika Kau izinkan, berilah hambamu ini yang papa, kelapangan rezeki, sehingga hamba bisa kembali menginjak ke Tanah SuciMu. Tak bisa kulupakan getar rindu itu. Getar karena iman bahwa kau tak hanya sebuah kubus biasa. Dan Kau sebaik baiknya pemberi Rizki. Perkenan doaku Ya Allah. Amin. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Coret2 saja

Lama sudah tidak ngeblog lagi. kisah perjalanan banyak, tapi belum bisa semua ditampung dalam sebuah tulisan. lagi males. lupa jalan cerita. Padahal menulis itu penting. Jika seseorang lupa sebuah episode kisah perjalanan, maka Tulisan dan foto yang kamu abadikan, bisa … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

Galeri | Meninggalkan komentar

Candi Sukuh, Candi Ceto and Tea Plantation at Gunung Lawu : Melipir Solo (Part 4)

Galeri ini berisi 21 foto.

Tea Plantation In Gunung Lawu Candi Sukuh       Candi Cetho              

Beri peringkat:

Galeri | Meninggalkan komentar

Mangkunegaraan Palace dan Dalim Kalitan : Melipir ke Solo (Part 3)

Galeri ini berisi 48 foto.

DALEM KALITAN PURA MANGKUNEGARAAN      

Beri peringkat:

Galeri | 1 Komentar

Sawasdee Thailand (Jalan Jalan hemat dan Tetap “Wangi” ke thailand)

Galeri ini berisi 22 foto.

Kemarin dapat message dari fb. “Mas punya itinerary ke bangkok” “punya” “minta dong mas” “iya” “kalo bisa yg jalan jalan hemat dan tetap wangi” “wangi?” “iya wakakaka” prett. Mendadak Hening. mak mak rempong neh.beuh. Wangi??saya pun susah untuk mendefinisikannya. harum?aroma?odor?entahlah. … Baca lebih lanjut

Beri peringkat:

Galeri | 1 Komentar