Pura Parahyangan : Kedamaian Tingkat Dewa (Jalan-Jalan ke Puncak Part 3)

IMG_1905  IMG_1914

Hari minggu pagi saya balik ke bogor dari jakarta. Awalnya saya berencana ke Pekan raya Jakarta (PRJ). Tapi berhubung saya sudah beli hape di roxy hari sabtunya, sepertinya shoping di PRJ bakal membuat kantong dompet saya semakin menipis. Apalagi teman2 diklat di bogor yang awalnya hari minggu mau nonton PRJ justru membatalkan acaranya dengan beragam alasan.

Akhirnya minggu pagi itu saya putuskan balik ke bogor naik KRL dari stasiun karet-Bogor. Beragam planning berkelebat di kepala saya ketika duduk di bangku KRL. Rasanya saya tidak mungkin balik saja ke asrama diklat. Masih banyak wisata bogor yang belum saya kunjungi. Salah satunya Pura Terbesar di Jawa dan kedua di Indonesia. Lokasinya berada di Gunung Salak. Inipun hasil tak sengaja searching google tadi malam. Keberadaan Pura ini saya infokan kepada teman asrama saya yaitu Tegdi, Samuel dan Nuzul. Sayangnya  minggu pagi mereka harus ke gereja. So, it’s OK if I try to be Solo backpacker.

Jam 10 pagi ketika sampai di stasiun cilebut, hape saya berdering. Panggilan masuk dari bang samuel. Rupanya mereka telah selesai misa pagi di gereja. Bang samuel dan tegdi rupanya tidak langsung balik ke asrama juga. Dia malah menawari saya bagaimana kalo kita jalan bareng-bareng ke pura. OMG…finally heaven knows..

“Dra cepat balik ke bogor. Aku sama tegdi pengen ke pura yang kamu kasih tau tadi malam”.

Rupanya bang samuel tidak tahu kalau saat itu juga saya sebenarnya sedang balik menuju bogor.

“Saya sudah di dekat bogor. 10 menit lagi sampe stasiun bogor kok. Ketemuan dimana?”

“Ekalosari mall gimana”

“Oke. Tunggu saya disana”.

Sampai di stasiun bogor, saya segera menuju pasar yang berada di dekat stasiun. Saya menuju gerai hape untuk beli kartu memori buat kamera digital. Kartu memori kamera saya ketinggalan di kosan. Setelah memperoleh kartu memori, saya langsung menuju pangkalan angkot. Setelah tanya sana sini akhirnya saya naik angkot yang akan membawa saya ke Ekalosari Mall.

Akhirnya tepat jam setengah 12 saya ketemu bang samuel dan tegdi. Berhubung waktu kita sudah sangat mepet, kita langsung menuju pangkalan angkot yang akan membawa kami ke Ciapus, tempat Pura itu bersemayam.

Karena tanggung dengan waktu dhuhur dan mereka juga belum makan siang, akhirnya kami memutuskan makan soto betawi dulu di salah satu stand PKL di trotoar dekat ekalosari mall. Sambil menunggu hidangan soto, saya meminta izin untuk salat dulu di sebuah masjid yang tak jauh dari tempat kami makan. Selesai makan, Tegdi pengen beli sandal. Sepertinya dia tidak pede traveling dengan sepatu pantovel.

Untuk menuju Pura Parahyangan Agung , Anda bisa naik angkot 13 jurusan Bantar Kemang-Ramayana atau 06 jurusan Ciheuleut-Ramayana dari terminal Baranang Siang. Kemudian turun di Bogor Trade Mall dan disambung dengan angkot 03 jurusan Ciapus-Ramayana arah Warung Loa. Jika Anda naik kereta, dari Stasiun Bogor, naik angkot 02 jurusan Terminal Bubulak/Laladon-Sukasari, turun di Bogor Trade Mall dan disambung dengan angkot 03 jurusan Ciapus-Ramayana arah Warung Loa. (sumber:http://travel.detik.com/readfoto/2012/02/22/081100/1848434/1026/1/rasakan-damai-di-pura-parahyangan-agung-jagatkartta-bogor)

Sesampai di bogor trade mall, kami membeli sandal. s Setelah mendapat sandal di BTM, kami langsung cari angkot jurusan ciapus. Tidak semua angkot berhenti ke ciapus. Karena itu mesti tanya2 apakah angkotnya lewat pura atau gak.

Bogor tampak mendung. Sementara Siluet Gunung salak tampak menawàn dari kejauhan. Disana. Membius siapapun yang memandangnya.

“Mas Indra, Puranya mungkin di Gunung situ yah mas”. Tegdi bertanya kepada saya di sela-sela waktu menanti angkot. Saya mengangguk saja meski saya sebenarnya tidak tahu apakah itu benar-benar gunung salak. Tetapi yang jelas di dalam hati saya berderai kegirangan. Mimpi melihat pura akhirnya kesampaian. Belum pernah ke bali akhirnya mendarat disini juga. Akhirnya setelah menunggu 10 menit, kami dapat angkot menuju kesana. Diperkirakan sejam bakal sampe kesana. Kemudian perlahan Angkot yang kami tumpangi membawa kami ke daerah pelosok bogor. Dimana jaringan selular putus nyambung. Saya menghela nafas. it shall be a remote area there hmm. Menanti lama di dalam angkot terasa begitu membosankan. Entah sudah berapa kalinya saya memandang jam tangan saya. Hingga akhirnya saya menangkap papan penunjuk jalan air terjun di suatu desa. Hm, Ternyata objek wisata pura ini berdekatan sekali dengan wisata curug-curug di bogor sepérti curug nangka, curug luhur dan curug cigamea. Kita tahu bahwa bogor terkenal dengan kekayaan air terjunnya yang begitu melimpah. Karena itu tidak salah bila warga jakarta banyak berlibur kesini. Akhirnya setelah nunggu sejam. kami tiba di Pos jalan menuju pura. Segerombolan tukang ojek menyerbu kami. Pengennya jalan kaki. Tapi begutu dikasih tahu oleh warga sekitar bahwa jaraknya 2 km menuju puranya, akhirnya kami menyerah dan memutuskan naik ojek. Cukup 10 ribu, beuh.

Di Sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan yang eksotis dan memanjakan mata. Persawahan, bukit, pepohonan serta jalanan yang lengang dan heiyaaa…suasananya benar-benar terasa bali banget. Itulah yang saya rasakan. Sejuk dan sedikit windy. Begitu damai dalam hati. Yeah it is innerpeace within here. Sepertinya membangun pura disini sangat tepat. Sebab menurut saya begitu susah mencari daerah yang mirip-mirip dengan suasana desa seperti di bali.

Begitu sampai di pintu masuk pura, kami melewati jalan menanjak dan akhirnya saya tiba di pos bale-bale/joglo dimana disitu banyak wisatawan berjubel. Tak sedikit pula diantara mereka adalah orang-orang yang akan melakukan sembahyang disini. Pakaiannya begitu khas bali. Pakai peci, baju putih, selendang yang dililitkan di perut dan sarung. Bagi wisatawan wanita yang sedang haid dilarang masuk kompleks pura. Begitu juga wisatawan yang mengenakan rok mini atau hotpant juga dilarang masuk (Ya iyalah masa tempat sembahyang jadi ajang pamer paha hehe). Untuk memasuki puranya kita wajib minta izin dahulu dengan penjaganya. Nanti disana kita diberi selendang kuning atau putih untuk dililitkan di perut. Terus nanti kita dikasih tahu area mana saja wisatawan dilarang masuk. Sebab beberapa area merupakan pusat sembahyang orang hindu. Sehingga hanya orang yang hendak bersembahyang yang boleh memasuki area tersebut.

Camera 360

Camera 360
the Two Bataknese. My dormitory friends
Camera 360
Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak.

Camera 360

Seperti yang kita ketahui, di jaman dulu sedikit sekali umat hindu sunda di Jawa barat yang meninggalkan warisan dalam bentuk bangunan seperti candi atau Pura. Terlebih lagi,  Kita selalu mengenal bahwa hindu selalu identik dengan bali. Berangkat dari masalah itu pemeluk hindu sunda bergotong royong membangun pura tersebut. Selain itu, Pembangunan Pura yang tingginya hampir 5 meter ini juga sebagai sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran terakhir yang memeluk agama hindu. Konon katanya area Parahyangan ini juga adalah tempat Petilasan dan menghilangnya Prabu Siliwangi dan pengikutnya

Camera 360

Adapun penamaan pura ini telah melewati berbagai proses diskusi panjang yang melibatkan seluruh umat hindu Indonesia. Parahyangan adalah tempat Sanghyang Widhi. Agung adalah Mulia. Jagat adalah Bumi dan Kartyya artinya Muncul atau lahir. Jadi kalo digabung, kurang lebih Pura Parahyangan agung jagatkarttya artinya Pura tempat bersemayam Sanghyang Widhi yang Indah dan cantik yang ada di bumi 🙂

Camera 360

Wasiat Prabu Siliwangi :

”Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

Artinya :
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”

Jalan-Jalan ke Puncak Part 1

Dulu waktu esde kalo baca buku cerita petualangan, piknik di perpus hampir kata Puncak sering muncul dalam buku bacaan selain cibubur. Cibubur memang dari dulu terkenal menjadi tempat bumi berkemah anak-anak pramuka dan perayaan Jambore nasional. kalo musim liburan panjang, hampir dah semua presenter stasiun televisi pada mewartakan macetnya jalan menuju puncak. Sampe saya bingung sendiri emang puncak ada apanya ya??Bagus ga sih dsana? Apa puncak tuh daerah yang bener2 berada di puncak pegunungan.

Aniweiii beidewey..ternyata puncak tuh kata temen gua, ga beda jauh sama Batu di Malang. Banyak villa, kolam air hangat, air terjun dan wisata panorama pegunungan yang memanjakan mata. Kalo jawa barat punya bogor, maka di jawa timur punya malang. Kata temen gua, di puncak banyak yang namanya kebun teh. trus kalo kalian nonton FTV di sctv, banyak setting filmnya yang ngambil di daerah puncak. Dari film itu gw jadi tahu keindahan alam priangan jawa barat. Kalo buka peta, kita bisa liat kalo Jawa barat merupakan salah satu provinsi yang lebih dari separuh daerahnya memiliki kontur khas pegunungan.

Dan tara…. Jumat kemaren pas saya lagi  selesain tugas di kantor, gua tiba-tiba dapat telpon entah darimana.

“Selamat sore. Dengan bapak Indra??” Dengan menjawab setengah males gua jawab iya. Sebenarnya Saya sudah agak bosen terima telepon dari rekanan yang ngajuin tagihan, menawarkan pengadaan dll. Padahal itu bukan urusan gw.

“Apakah bapak bisa datang di acara diklat bendahara pengeluaran”eh ga salah denger yah gua tiba-tiba dipanggil acara diklat. Dalam hati berdoa, semoga tempat acaranya di BDK Manado, Medan kalo ga makasar. Secara gua belum pernah kesana. Panggilan diklat bagi gua adalah alternatif untuk melakukan kegiatan traveling. Udah lama kaki ini gatel pengen backpackeran lagi.

“emang acaranya dimana pak?”
“Gadog”
“Hah?? daerah mana itu?” Suer gw langsung jleb denger nama daerah antah berantah itu. Gua pikir tuh tempat terpencil di suatu pulau ga terkenal and gua bersama makhluk lainnya disekap disana. Jadi teringat film battle royale.

“Itu daerah di Puncak, Pak. Pusdiklat Anggaran”
“What…… Oke pak insyaAllah bisa datang”.

Akhirnya….setelah berumur sekitar dua puluhan, gua bisa merasakan hawa dingin puncak. Lama juga gua ga pernah merasakan naik gunung lagi. Dua tahun kuliah di Jakarta gua belum pernah nyempatin wisata ke Puncak. Cuma baru ke kota bogor aja. itupun cuma ke kebun raya bogor yang bikin gua jadi songong karena ga melihat bunga bangkai disana. Jelas aja panggilan diklat ke puncak adalah berita baik buat gua. Secara gua baru diangkat seminggu jadi bendahara. Dan gua baru menyadari kalo pekerjaan bendahara tuh bener-bner menguras tenaga. So I need some fresh air. Pengen rasanya menghilang dulu di suatu tempat dimana gua ga dicari-cariin orang sebelum gua balik lagi ke wujud asli gua sebagai bendahara. what the fuck nya, kerjaan kantor belum banyak gua selesain. Baru aja tutup bulan dan tanggal 2 Juni gw tiba-tiba sudah harus mendarat di Puncak. Langsung aja gw kebut kerjaan kantor. Dan pas pulang kantor, di kosan gw bingung sendiri. Secara di lemari gua ga punya celana training. Baju juga numpuk di ember kotor. Jaket ketinggalan di rumah. Wah mesti pulkam neh ke sumenep besok sebelum berangkat ke puncak. Secara gua orangnya ga tahan dingin apalagi kalo  sudah dingin hawanya, badan ini bawaannya mau pilek dan asma. Pas besok sampe rumah. Gua langsung bergegas nyiapin kaos, celana pendek dan celana panjang berjumlah 6 biji ke dalam koper saking takutnya gua sama hawa dingin puncak. Di  bromo saja pas nginap di motel aja gua ga bisa tidur sampe subuh gara-gara cuma menahan dingin. So, ini merupakan antisipasi gua untuk melawan semua ketidakmungkinan cuaca. Tiba-tiba sms masuk ke handphone gua.

Indra, kamu kapan berangkat ke bogor. Aku sama bang samuel janjian di cengkareng  gmna? kebetulan kita bertiga dipanggil diklat juga

gua baru ngeh kalo diantara 34 peserta diklat itu ada dua temen kuliah gua. Aku bales iya. Dan anyway kita bikin planning sampe Cengkareng maksimal jam 12 siang hari minggu. terus sewa taksi ke bogor. Karena kata kasubag gua, jalanan puncak sering buka tutup karena banyaknya kendaraan umum yang melintasi jalanan puncak. Dan biasanya Jam 3 sore, jalanan menuju puncak sudah ditutup untuk kendaraan yang berangkat dari Jakarta. Gua langsung ngebayangin seramai itukah puncak?? Padahal gw ngarepnya di Puncak tuh bener-bener sepi, jauh dari kebisingan. Biar gua sejenak bisa melupakan pekerjaan kantor.

Akhirnya jam 3 sore kita sampe di Puncak. Saya dibangunin teman gua di mobil. Kaget gua pas ngeliat keluar jendela. Ternyata Puncak tidak sama dengan bayangan gua. Puncak sudah cukup rame dengan pertokoan, hotel, villa dan restoran di pinggir jalan. Kebun teh pun gua tidak melihatnya. Kata teman gua, Gadog Puncak masih termasuk bagian lerengnya. So wajarlah kalo gua ga nemuin namanya kebun teh. Akhirnya setelah muter dan sempat kesasar nyari Kantor Pusdiklat Anggaran, akhirnya kita sampe juga disana. Kesan pertama gw dengan tempat diklatnya, hmm so hommy. Banyak fasilitas olahraga dan sarana outbound disana. Terus Rindang dengan pepohonan khas pegunungan. Banyak warga sekitar yang menghabiskan sore disini. Ibu-ibu bergerombol dengan menggelar tikar. Muda-mudi remaja berlarian memutari kompleks pusdiklat. Hal yang berbeda dengan Balai Diklat Keuangan Palembang pas diklat prajabatan kemaren. Gua baru nemu yang namanya tempat diklat tapi suasananya benar-benar rumahan. Tidak seperti sedang berada di sekolah. Dan akhirnya saya dapat Kamar F Asrama Dahlia. Terpisah dengan teman-teman gua. Dari balkon asrama, gua bisa melihat Puncak Gunung Salak dan Gunung Gede Pangarango. Pengen rasanya besok weekend liat curug-curug di balik gunung itu. Di asrama ini Gua bakal seasrama dengan Rama anak pematang siantar, Riski dari Tanjung Balai Karimun, Agiel dari entikong dan Hamid dari Sorong. Kebetulan saya datang pertama kali di Asrama. Jadi tidak sabar melihat kawan baru gua dan berbagi cerita dengan mereka ketika mereka datang nanti.

Suasana di Pusdiklat Anggaran
Suasana di Pusdiklat Anggaran

Temple Of Heaven Surabaya

397862_10201084603547973_1718281105_n

Pengen ke cina?? tp bujet minim. Tidak perlu risau. Di Surabaya, kalo kamu mau ngeksplor, banyak lho tempat wisata yang membuat kamu serasa bertualang ke negeri China. Mungkin sensasinya beda. Tidak seperti berasa di negeri panda. Tetapi Setidaknya bisa memuaskan dahaga kamu yang suka dengan dunia yang berbau oriental. Di kenpark alias Kenjeran Park ada salah satu site kloningan temple Of Heaven.  Itu lho temple yang paling terkenal di negeri cina sonoo. Kalo boleh saya bilang namanya, temple ini bisa dibilang Temple Of kenpark. Sebenarnya di kenpark sendiri tidak ada papan informasi mengenai nama keberadaan temple ini.

Pas pertama kali datang kesini, saya serasa bo-bo-ho yang terdampar di negeri kuil shaolin. Apalagi kesini saya juga ditemani uncle Tat alias Paman yanto, suami tante saya. Sayangnya kemegahan temple ini masih dijadikan tempat mesum. Banyak sekali pasangan muda-mudi yang sembunyi dan mojok di temple ini. Gak tanggung2. Mau lihat orang  pacaran sambil ciuman bibir , disini kamu bisa memergokinya.  Mau lihat orang pacaran sampe cium-cium leher and pelukan segala kayak di film porno, nah yang ini langka. saya cuma lihat satu pasangan aja hehe. Itu mengapa kenpark jarang didatangi oleh warga surabaya itu sendiri. Di waktu weekend pun tempat ini sepi pengunjung. Saya yakin beberapa warga surabaya mungkin tidak ngeh kalo di kotanya sendiri ada temple megah berdiri. Dengan luas lahan yang ada, Kenpark memiliki potensi untuk dijadikan semacam taman impian Jaya Ancol. Malah lebih luas daripada Ancol. Untung saya bawa Sepeda Motor. Kalo gak, kaki saya bakal gempoorrr

03.29-templeofheavenbeijing-2
Temple Of Heaven di Beijing

Berkunjung Ke Makam Bung Hatta

IMG_0781

Tidak pernah terpikirkan dari diri saya bahwa makam bung hatta terletak di TPU Tanah Kusir. Hingga sebuah penemuan tak sengaja ketika mata saya menangkap dari luar jendela metromini yang saya tumpangi-sebuah bangunan bergaya minang tampak mencolok di antara padatnya makam-makam umum.

“Eh itu bangunan apa?Kok unik” celetuk saya kepada teman yang duduk di sebelah saya. Hingga akhirnya saya bisa membaca jelas sebuah tulisan yang melekat pada bangunan itu yang intinya memberitahu pelancong bahwa bangunan itu tempat disemayamkan almarhum Bung Hatta.

“Kita besok kalau ada waktu kesana yuk” ajak saya kepada teman yang duduk di bangku sebelah saya.

2 tahun kemudian …….

Saya melihat buku-buku di rak lemari. Yah hanya melihat. Akhir-akhir ini saya malas menyentuh buku. Dulu ketika masa sekolah, saya seminggu bisa menyelesaikan 3-4 buku, kini sebulan bisa 1-2 buku baru bisa selesai dibaca. Sepertinya kejenuhan membaca buku saya sudah mencapai titik nadirnya. Tiba-tiba tanpa sengaja mata saya tertuju pada buku “Untuk Negeriku” karangan bung Hatta. Sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh pengarangnya.

“Astaga, saya belum pernah mengunjungi makam beliau”

IMG_0761

IMG_0759

IMG_0777

Benak saya memutar kembali memori lama seperti rol film. Entah sudah terhitung berapa kali saya melewati jalan di tanah kusir setiap pengen jalan ke blok M, PIM atau jalan-jalan ke arah utara jakarta dari bintaro. Di antara kesempatan itu, belum pernah sekalipun saya mencoba mengunjungi makam bung hatta. Padahal saya sudah berjanji dalam diri bahwa saya akan mengunjungi makam beliau.

Ada banyak alasan mengapa saya sangat mengagumi sosok bung Hatta, salah satu founding fathers negara kita. Banyak hal dari sosok beliau yang kurang terekspos ke media. Sangat kontras dengan bung karno yang memiliki banyak sisi untuk diceritakan mengenai kehidupan pribadinya. Tidak perlu saya cerita lagi, karena kalian pasti sudah tahu dari buku sejarah/majalah mengenai sosok bung karno.

Saya mengagumi bung hatta karena beliau seorang diplomat ulung. Bisa 3 bahasa asing kalau ga salah. Kalau kita buka kembali buku sejarah keLas 6 SD, beliau salah satu orang yang dipercaya sebagai perwakilan delegasi indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Saya rasa tidak sembarangan orang yang menjadi perwakilan negeri ini ketika melakukan diplomasi dengan negara lain apalagi dengan negara penjajah. Butuh kelihaian dalam bernegosiasi. Padahal saat itu banyak tokoh-tokoh Indonesia yang menurut saya jago vokal, lantang menentang kolonialisme serta memiliki ilmu berdiplomasi dalam konteks bilateral.

Membaca buku bung hatta yang berjudul Untuk Negeriku, saya diajak mengarungi kenangan Hatta dari Masa kecilnya hingga Masa Kemerdekaan. Buku yang menurut saya memang benar-benar buku persembahan untuk generasi atau anak bangsa yang hidup di negeri ini. Banyak sekali sikap teladan yang dapat kita ambil dari beliau. Apalagi ketika kita membaca buku biografi tentang bung hatta dari sudut pandang pihak ketiga karangan Dr. Delias noor. Ada beberapa kisah unik dari beliau. Bagi saya, Bung Hatta adalah sosok yang hidupnya “lurus” saja. Religius iya, intelek apalagi, dan tentu adalah orang yang meletakkan dasar perekonomian kita. Gagasan beliau yang paling terkenal adalah Koperasi. Tidak pernah saya mendengar berita negatif sedikitpun tentangnya. Ada satu cerita yang membekas dalam ingatan saya mengenai sosok hatta yaitu Ketika beliau melakukan pembelaan di hadapan hakim di pengadilan belanda. Waktu itu hatta hanya seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di negara penjajahnya, belanda. Hatta ditangkap karena dianggap melakukan perlawanan terhadap pemerintah belanda melalui pergerakan perhimpunan mahasiswa Indonesia. Dengan posisi beliau yang tentu menjadi orang asing di tanah orang, sikap beliau dianggap terlalu berani.  Dia bisa dihukum mati atau dibunuh secara diam-diam oleh aparat disana. Toh dia hanya orang asing. Sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di negeri orang, tentu harapan kita adalah bisa kembali ke tanah air deñgan selamat dengan bekal ilmu yang kita miliki.

IMG_0768

Kolonialisme menjadi isu sensitif di masa itu. Hatta memanfaatkan momentum tersebut. Pembelaannya yang tertuang dalam tulisan “Indonesia Merdeka” yang bila dibaca bisa sampai 3 jam. Lewat pembelaannya akhirnya beliau dibebaskan dan mampu meyakinkan hakim. Hatta adalah sosok yang selalu menilai segala sesuatu berdasarkan hukum. Bila bertentangan dengan hukum, ia akan menolak. Hal inilah yang membuat dia terkadang berseberangan dengan bung Kàrno.

Berkaca dari pengalaman Hatta, Pengadilan Den Haag, bisa dibilang pengadilan yang mungkin bisa dipercaya di dunia. Separatis pun berhak mengemukakan dan didengar pendapatnya. Itu mengapa masalah konflik internasional selalu diselesaikan disini. Kalau ga salah Mahkamah Internasional dulunya berpusat di sini. Kenangan hatta di masa lalu ini pernah membuat Presiden SBY membatalkan perjalanannya ke Belanda. Waktu itu anggota RMS di belanda melayangkan tuntutan hukum kepada Negara Indonesia Jdi Den Haag.

IMG_0782

IMG_0788
bocah-bocah ini punya bukunya bung hatta lho. Setiap mingu biasa main UNO sambil baca2 disini

Jam 8 pagi saya berangkat dari kosan di bintaro. Tidak sampai 15 menit saya sudah tiba di Tanah Kusir. Pas sampe di Gerbang Masuk Makam Bung Hatta, saya memarkirkan sepeda motor. Masuk kesini tidak dipungut biaya lho. Gratis. Pemeliharaan makam sang proklamator ini berada dalam pengawasan Sekretariat Negara. Juru Kunci makamnya sendiri adalah bapak yang sudah uzur berumur 58 tahun dan masih tercatat sebagai pegawai honorer. Lupa namanya. Kalo ga salah dia berasal dari Bangko, Jambi. Disana saya ajak ngobrol beliau dengan pengetahuan geografi saya yang masih terbatas tentang kabupaten Bangko. Saya sebut kerinci, sungai penuh, kuala tungkal, sinjai dan lain-lain. Tampaknya dia senang sekali saya sedikit mengetahui banyak daerah di Jambi.

Ketika saya hendak masuk ke rumah makam bung Hatta, didalam sudah penuh dengan orang yang sedang berziarah. Semua berdiri di samping pusara dengan posisi telapak tangan hormat di kepala, seperti halnya kita hormat kepada Bendera Merah putih. Sejenak pun saya seperti larut ke dalam suatu dimensi yang penuh aroma perjuangan dan heroisme. Naluri darah indonesia saya seperti serasa mendidih. Dalam hati saya merefleksi diri bahwa seberapa banyak bhakti yang saya beri untuk ibu pertiwi. Bung Hatta dengan segala kerendahan hatinya, Jasa beliau akan selalu dikenang oleh putra-putri bangsa ini di masa mendatang. Perenungan ini berujung pada suatu titik kesadaran bahwa siapapun yang berbuat baik di dunia ini, dia akan selalu didoakan dan dikenang sepanjang masa. Dia telah menembus garis batas umur itu sendiri sejauh orang masih mengingatnya.

Taman Eden Jakarta : Situlembang – Menteng – Suropati

Berhubung tinggal sehari lagi gw di jakarta, gw sama teman2 coba puas-puasin dulu sebelum hengkang dari jakarta. Dan kali ini destinasi yang gw tuju adalah taman kota. Kenapa taman kota? gw juga gak ngerti kenapa pilih ini hihi. Padahal seumur-umur tinggal di jakarta, banyak lho destinasi yang belum gw kunjungi. pulau seribu aja belum pernah. Mau pergi kesana sudah mepet sekali. Kota tua dah sering, museum, nih apalagi. Terus gw gak sengaja baca blog teman gw tentang pengalamannya menjelajah taman kota di ibukota Jakarta yang super zuper padat ini hehe.

60645_10200982120025949_1837012502_n

Taman kota? hm jarang orang indonesia yang menjadikan tempat publik ini sebagai tujuan wisata. Itu mengapa kehadiran taman kota di jakarta tidak seantusias di kota paris. Di paris, taman adalah sebuah nyawa yang terus berdenyut dalam kehidupan warganya. Taman memegang peranan penting dalam menopang sektor pariwisata di kota mode itu. Makanya tidak jarang kalo paris disebut-sebut kota romantis sedunia. Keindahan tamannya bak sebuah taman eden, surga pencari cinta. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemerintah Prancis sudah bikin konsep kota dengan banyak tamannya. Bahkan untuk membangun taman kota sampe diadain lomba desain antar arsitek/seniman.

Hal yang berkebalikan bila dibandingkan dengan kota jakarta. Disini Banyak lahan hijau yang sudah beralih fungsi menjadi mall, apartemen, dan hotel, dimana semua pembangunannya banyak menyalahi tata kota yang baik. Makanya gak heran semakin hari jakarta semakin panas dan kerap menjadi langganan banjir karena kurangnya daerah resapan air. Sementara itu di suatu tempat yang jauh dari ibukota,  kita malah cukup beruntung. Terutama untuk daerah di luar jakarta. Dengan pengaruh islam yang masuk ke indonesia, hampir di dekat masjid agung selalu ada alun-alun yang berwujud taman kota. Di malang, sumenep, Pamekasan, Tuban hampir masjid agungnya berdekatan dengan alun-alun taman kota. Keberadaan alun-alun kota ini biasa dijadikan tempat mangkal orang yang ngabuburit. Menghabiskan senja sambil menunggu bedug magrib. Bahkan di negara asalnya yaitu arab, alun-alun biasa dijadikan tempat berbuka puasa bersama keluarga atau sesama komunitas  muslim. Mereka menggelar tikar dan bercengkerama dengan keluarga sambil menanti detik detik berbuka puasa.

Dari surfing di internet, akhirnya gw memilih 3 taman yang bakal gw datangi. Tempat pertama yang gw sambangi adalah Taman Situlembang. Tempat ini sengaja saya pilih sebagai tempat pertama karena dekat dengan stasiun cikini. Berhubung gw naik KRL dari bintaro, makanya gw nyari stasiun yang terdekat dengan Taman Situlembang dan stasiun ini adalah stasiun Cikini. Jam 10 pagi, saya sampe di Stasiun Cikini. Gw bareng 2 teman kampus gw yaitu arie, anak pontianak dan husni, arek purworejo. Sebenarnya gw pengen solo trip mengingat medan menuju 3 taman tersebut cukup berjauhan. Kalo ngajak teman, gw takutnya mereka capek di jalan dan rencana menjelajah 3 taman kota takut tidak terselesaikan semua. Tapi si arie dan husni sudah bikin promise duluan ke gw kalo nanti capek atau ga capek, 3 taman itu harus dijelajahi.

Sampe di Cikini, kita makan dulu di sebuah warung padang. setelah makan, kita keluar dan  mulai tanya orang2 yang kita temui di pinggir jalan mengenai jalan menuju taman Situlembang. Setelah mendengar rutenya, akhirnya kita mulai perjalanan trip ini. Rata-rata dari mereka bilang, “wah itu jauh mas”. gw yang malam sebelumnya sudah buka jakarta map di google tidak serta merta mempercayai hal tersebut. Jarak stasiun cikini sampe Taman Situlembang cuma sekilo. Bener2 dekat. Coba saja deh kalo tidak percaya.

552848_10200982111945747_235622678_n

Sebelum sampe ke Taman Situlembang, kita melewati kios-kios di pinggir jalan yang menjual aneka barang antik. Ada juga handicraft Indonesia hand made. Pokoknya yang segala berbau kuno dapat ditemukan disini. Jam antik, Radio Kuno, dan Sepeda ontel kuno dapat dengan mudah dibeli disini. Gw sampe curiga jangan2 barang-barang antik milik eyang subur semua beli disini hehe. Sepanjang perjalanan, kita juga melewati banyak Kantor Kedutaan Besar Asing. Semuanya siaga dengan satpam lokal di depan halaman Kedutaan. Rata-rata dengan pagar yang terkunci dan mata “awas” dari sang satpam.

Dari cikini menuju Situlembang kita mesti rajin tanya orang di jalan. soalnya letaknya cukup tersembunyi di tengah hunian rumah warga menteng. Gw ada tanya sebanyak 4 kali, untuk menemukan Taman Situlembang. Setelah lewat jalan raya, kita masuk ke kompleks Perumahan Menteng. Menurut gw, rumah di sekitar menteng sudah cukup memenuhi standar hunian untuk iklim tropis. Rumah-rumah di sekitar menteng meski terkesan kuno tapi menurut gw lebih go green. Terus pohon-pohon di depan rumah yang banyak berkanopi meneduhkan perjalanan kami sehingga gw tidak merasa kehausan karena terik matahari. Pas sampe di Situlembang, gw dan teman-teman langsung ternganga seperti pengembara yang menemukan oase di tengah gurun. Tempatnya begitu rindang dengan kolam air mancurnya. Feel like at village. Teratai-teratai tampak menggantung di permukaan kolam semakin menasbihkan pesona danau situlembang. Pas gw sampe kesana, banyak orang yang sedang memancing. Ada juga pegawai kantoran yang mungkin sengaja melakukan meeting disini. Setelah dipikir-pikir, meeting kantor yang dilakukan di taman bisa menghemat anggaran kantor juga lho. Selain suasananya yang sejuk, hommy tentu memberi sensasi yang berbeda ketika rapat diadakan di sebuah taman.

553991_10200982111745742_1189801761_n

Setelah dari Taman Situlembang, kita menuju Taman Menteng. Disini kita melewati Kedubes Mesir, Slovakia, Brunei dan Ingggris Diplomat Residence. Ga sampe 10 menit kita sudah mendarat di Taman Menteng. Kesan pertama, tamannya biasa saja. Gak ada yang spesial. Masih bagus Taman Situlembang. Cuma disini banyak sarana olahraga seperti futsal, Taekwondo dan Taman bermain anak-anak. Salah satu keunikan lainnya di Taman menteng, yaitu terdapat bangunan yang semua full kaca. gw pikir ini sebuah bangunan green house. Pas gw melongok ke dalam bangunan kaca, eh malah ga ada apa2nya di dalamnya. Sayang sekali bangunan dengan kaca futuristik ini hanya sebuah pajangan tanpa ada manfaat yang bisa kita petik.

547513_10200982115425834_407358535_n

555817_10200982117905896_1572030001_n

150480_10200982117425884_1046692951_n

534285_10200982122626014_2094909264_n

529433_10200982117065875_1077555480_n

546004_10200982120225954_225556493_n
ada yang tau gak ini bunga apa?

Langit masih mendung. Kita bertiga cukup lama leyeh-leyeh di bangku taman sambil ngobrol ngalor ngidul. Sedih rasanya mengetahui besok kita semua bakal meninggalkan kota jakarta, entah untuk berapa tahun. Oh ya pas gw lagi leyeh-leyeh, ga jauh dari tempat kami, ada presenter tv one lho lagi bikin liputan disini. Kita bertiga udah siap-siap kalo di antara kita bertiga bakal diwawancarai. dan eeeaaaaaaa, ternyata mbak presenter tak juga mendatangi bangku kita. Sejam di Taman menteng, kita berangkat lagi menuju Taman Suropati. Sebelum sampe Taman Suropati, kita melewati dahulu Taman Kodok. Taman ini beneran banyak kodoknya lho. Tapi gak usah takut. kodok disini sudah dikutuk oleh bandung bandawasa jadi patung. Kalo ga salah hitung, ada 6 patung kodok yang berjaga di depan taman ini.

625476_10200982122106001_1338135386_n

549759_10200982123706041_187936667_n

Tidak jauh dari Taman Menteng, sekitar 500 meter jalan kaki ke sisi selatan, akhirnya kita menemukan Taman Suropati. Kalo di Taman Situlembang terkenal dengan danau, Taman menteng dengan bangunan kacanya, di Suropati ini cuma hanya ada deretan pohon-pohon yang sudah ratusan umurnya. Kanopinya merindangi seluruh area taman. Disini juga banyak merpati jinak berkeliaran. Berhubung gw sudah browsing duluan di internet kalo disini banyak merpati, maka gw sudah membeli selembar roti  di jalan pas ketemu tukang roti. Di Taman Suropati ada 2 kandang merpati. Sayang merpati disini gak sejinak merpati-merpati yang biasa gw liat di film2 eropa. Begitu ada orang yang mendekat ke arah merpati yang lagi merumput, merpati itu terbang lagi balik ke kandangnya. Padahal gw pengen foto dengan gaya berdiri terus merpati2 tersebut menari di sekitar kaki-kaki gw. Untung si merpati ini mudah dirayu. Begitu gw melempar butir-butiran roti, baru deh merpati ini hinggap di dekat kaki gw. Itupun mereka masih setengah ketakutan mendekati arah gw.

Setiap hari sabtu dan minggu disini biasanya tempat ngumpulnya komunitas pecinta biola. Buat orang tua yang ingin anaknya belajar biola, cukup saja gabung dengan komunitas tersebut. Kalo ga salah denger, pelatihannya gak dipungut biaya sepeser pun. Mereka bakal diajari kakak-kakak di komunitas ini. Taman memang pas buat sarana belajar bermain biola. Coba kalo gw datangnya kesana dan ada bocah-bocah  lagi memainkan biola , pasti syahdu suasananya. Ikut hanyut dalam melodinya.

  480178_10200982124626064_1948540213_n     551511_10200982127666140_531117891_n      563667_10200982257069375_466333887_n

73193_10200982126946122_2107571097_n
Patung Lesbianisme

Spot selanjutnya kita menuju Masjid Sunda Kelapa. Ketika gw mau nyebrang ke arah bappenas, eh di tengah jalan ada taman bunga berwarna warni. Mirip taman bunga tulip di belanda. Feel like spring here. Dan gw pun nyangkut disini meski cuma sekedar berfoto ria. Di taman ini juga ada Patung Diponegoro lengkap dengan kudanya yang lagi berdiri merangkak.

561881_10200982154386808_1289370962_n

Jam 1 siang akhirnya kita sampe di Masjid Sunda kelapa. Gw sudah kehausan banget. Eh ga sengaja pas di dalam masjid nemu dispenser yang telah diisi air segalon. Dan sialnya, pas masukin air ke dalam botol, airnya justru panas. Padahal gw sudah tekan tombol biru. Terus air itu gw buang lagi, dan sekarang pake tombol merah. Dan iya saudara saudara, ternyata meski udah pencet tombol lain, tetep air panas yang masuk ke dalam botol. Dispensernya lagi out of order. Untung masih ada satu dispenser lagi disini yang masih berfungsi. Di dalam masjid sunda kelapa ini kita bisa leyeh-leyeh sambil tidur siang. Suasananya adem seperti hawa gunung karena ber AC. Meski ada larangan dilarang tidur di dalam masjid, toh masih banyak jamaah yang selesai salat lohor langsung tidur ngorok di masjid.

561237_10200982258189403_363621000_n

The Grand Mosque of Singkawang

When I looked back and recalled my memories in few years ago, my mind went around to “The Grand Mosque” In singkawang town. So, What the heck is this? Yeah, You know with Fully loaded of local with chinese descent and take it as a majority, it become a difficult thing in search of a mosque for moslem like me. an area with numerous moslem people, of course we can easily find mosques, whereas Singkawang even is on opposite condition. In coverage distance as far about 100 metres from one place to another place, you can see clearly a “Kelenteng”, shrine of Confucianism.

16370_1250010661120_1368411_n 16370_1250010741122_5149696_n 16370_1250010781123_5527146_n

 The Grand Mosque of singkawang located at ….oh Gosh I forget what the hell  name of street where it stand on 🙂 . But definitely, it is behind my boarding house and if  I go to there by on foot from my residence, it will take times approximately 10 minutes. Mostly, I took my Friday prayer on this mosque. Although the preaching (Moslem mention it with the word of Khotbah) was running very very very slowly, but I enjoyed it. Here is one pride of Singkawang residents, notably moslems lived here. I looked clearly into  local people faces that they had been learning so fast over past mistakes. In the middle of 1990s,  One town is nearby with singkawang had experienced a turbulence in cultural term. Not a religious violence, it is purely cultural violence. I heard from my tenant that formerly there was a massacre over Maduranese people whom was being a minority in singkawang. It is caused by impact of escalating the turbulence from sambas town. On Hearing it, I felt scared and all my hairs on hand stood on. My body got numb. But gratefully, it was a long long ago, not recent.

 16370_1250010901126_4274244_n

We know that conflicts in any term would give a deep wound in heart. People died, injured people, babies lost their parent and crippled economy etc. It would be linking worse to many aspect of life. My mother always said to me in anytime “if you do a good common, none will hurt you”. And she added with straight fiery face, “It is a principle which shouldn’t be violated. Get it”. Truthfully, I saw a sorrow overwhelming  her face when I am prepared to go out home and headed to Bandara.

Religious-based violence has been a growing concern among Indonesians of all walks of life over the past few years. Conflicts between followers of a religion or different religions have marked the country’s history.We had Poso Tragedy and Ambon Tragedy. These problem noted that a lack of government leadership and effective law enforcement to save the minority communities that is vulnerable to attack. But we couldn’t wait any longer to our government dealing with these problem. We can start from ourselves to make live in peace for communities around us. Just mantain a religious harmony. If harmony is always built into the social life in the community, it can guarantee there will be no various events such as inter-religious clashes. Harmony on different group impact on tolerance and vice versa. In this case, tolerance can  be framed by doing small things like mutual respect, mutual help and love each other which those must have taught in every religion. It will not be hard to do if we understand the importance of moderation and tolerance in order to create harmony both in the society and the nation. Tolerant attitude should not discard or ignore religious principles are believed by each of us as individuals who are, but strengthen the principle of life and religion that we believe.

Lately, I heard news that Christianity get complicated to worship in church. How it could be. As form of protest to our leader, they would pray in front of Istana Merdeka, The official Palace of Indonesia President. If all parties obey and understand the prevailing law,  absolutely, it will be no problem. Many of the problems of constructing churches, for example, are related to building permits, which such establishments have yet to acquire before starting their worshipping activities. But above all, there are big part we must concern. It is about to uphold law enforcement in our country. Our leader’s response and action has  been weak against this problem. If it is left unattended, it will become serious threaten to the existence of our country. At last I want to cite a interesting quote of a once most poweful person, Gusdur, our late president.

All religions insist on peace. From this we might think that the religious struggle for peace is simple… but it is not.  The deep problem is that people use religion wrongly in pursuit of victory and triumph. This sad fact then leads to conflict with people who have different beliefs.
-KH Abdurrahman Wahid-

Jadwal KRL Jakarta Kota – Kampung Bandan PP dan Kampung Bandan – Duri/Manggarai PP (Commuter Line ) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Jakarta Kota-Kampung Bandan Per Tanggal 1 Juni 2014 dan Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Kampung Bandan-Jakarta Kota Per Tanggal 1 Juni 2014,

Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Manggarai/Duri-Kampung Bandan Per Tanggal 1 Juni 2014 dan Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Kampung Bandan-Duri-Manggarai Per Tanggal 1 Juni 2014

Cara Membaca Jadwal : Klik Gambar dan kemudian di zooming (perbesar)

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-013

Jadwal KRL Tangerang – Duri PP (Commuter Line) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Tangerang-Stasiun Duri Per Tanggal 1 Juni 2014

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-012

 

Jadwal KRL Tanah Abang – Serpong – Parung Panjang – Maja (Commuter Line) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Tanah Abang – Serpong – Parung panjang – Maja Per Tanggal 1 Juni 2014

Cara Membaca Jadwal : Klik Gambar dan kemudian di zooming (perbesar)

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-010JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-011

Jadwal KRL Maja-Parung Panjang-Serpong-Tanah Abang (Commuter Line) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Stasiun Maja-Parung Panjang-Serpong-Stasiun Tanah Abang Per Tanggal 1 Juni 2014

Cara Membaca Jadwal : Klik Gambar dan kemudian di zooming (perbesar)

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-008 JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-009

Jadwal KRL Jakarta Kota – Bekasi (Commuter Line) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Jakarta Kota – BEKASI Per Tanggal 1 Juni 2014

Cara Membaca Jadwal : Klik Gambar dan kemudian di zooming (perbesar)

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-005

Jadwal KRL Bekasi – Jakarta Kota (Commuter Line) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Bekasi – Jakarta Kota Per Tanggal 1 Juni 2014

Cara Membaca Jadwal : Klik Gambar dan kemudian di zooming (perbesar)

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-006 JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-007

Jadwal KRL Jatinegara/Jakarta Kota – Depok/Bogor ( Commuter Line ) Per 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Jatinegara/Jakarta Kota – Depok/Bogor Per Tanggal 1 Juni 2014

 

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-001JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-002

 

Jadwal KRL Bogor/Depok – Jakarta Kota/Jatinegara (Commuter Line ) 1 Juni 2014

Jadwal KRL Commuter Line Bogor/Depok – Jakarta Kota/Jatinegara Per Tanggal 1 Juni 2014

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-003

JADWAL KRL GAPEKA 2014 REVISI-page-004

A mighty Wonderful Volcano, Mount Merapi

The Sizzle-tone of an outmoded radio made me wake up. I got a dizzy and rather a bit disturbed by that noise. I tried to recall what come about to me last night. I arrived a bit late to Yogyakarta. My friend, Dwi picked me up at 11 pm o’clock at train station of Tugu. Night grow colder. We was heading to Sleman, to the northen of yogya, by motorcycle.

“Indra, my grandfather’s house is quite nearby from Mount Merapi. In early morning, we’ll have a stroll to location that quite close with slope of Mt. Merapi. We can see clearly the face of the dusty Merapi”. He said while riding on motorcycle

“Great. I have been waiting for this moment” I replied so excited

223016_2251860386737_952888_n

Dwi is my colleagues in my college. He is a Javanese descent. But his childhood has been spent and raised in Banjarmasin, the capital city of South Borneo. His father has a duty job there. During on campus holiday, Dwi decided to stay at his grandpa’s house for a while instead of going back home to banjarmasin. He told me that he rarely visited his grandpa during his life time. They are separated away by the distance and ocean for a long time. Grandpa is in Java Island and dwi is in Borneo Island. Well, I think it is a reasonable excuses. So when he get on vacation, he attempts to give his quality time by visiting and spoiling his grandpa.

About thirty minutes on the road, we arrived His grandfther’s home. So dark. I felt like surrounded by scary atmosphere. the lights had been extinguished. His grandpa’s house look like a such old traditional house of Javanese, Joglo. Rather vintage. When I came into the inner of the house, All family members had been sleeping in early two hours before, maybe. This house hasn’t enough room so I inevitably must share a bed with his grandpa. Yeah, I , dwi and his grandpa were united in one bed. His grandpa didn’t realize if I was next him. He snored together with a still switched on-radio. The program was broadcasting an old style drama that is accompanied by scary sound. Sometimes it was similiar with the giggling-voice of Kuntilanak. Once in a while, a roaring owl-sound hit rolling in the deep  my ears. Although it seemed horror, I could sleep easily.

 The sizzle-tone of an old fashioned Radio made me wake up. I looked into my watches. It was on 4 o’clock. I turned off the radio. The broadcast had ended long time ago while I was on sleeping. I saw Dwi wasn’t besides me. not long after, Dwi entered room. His face looked wet. He told me that a night already changed into a dawn. I went to bathroom and flushing my some part of body and then drifted into a morning prayer. As he promised me, he brought me heading to the close of Mount Merapi’s slope. We went out home. The village-street visibly still flooded. It might be raining last night. After a 15 minutes-walk, I saw the summit of Mt Merapi from the distance. The peak appeared so hazy  a bit. Rather misty.

216661_2251861826773_7972860_n

Living in the shadow of Mt Merapi is like waiting for time bomb. The eruption of Mount Merapi always give a big attention in our national television broadcast. The once living Mbah Maridjan, at the end passed away because rushed by the hot ash of it. But his honour, of course, will never be forgotten by local people for protecting them from the anger of Mount Merapi. Due to its frequently erruption, The Sultan of Yogya recently try to convince the inhabitants that live quite close with Mount merapi for moving away their homes. The Sultan Of yogya has already built  hundreds of free of charge-houses . But they refuse this program at all. They have befriended with this mountain and consider the erruption as normal natural phenomena. After erruption, Mount Merapi spew lava to the slope and flooding farms. It will give essential nutrient to the soil and fertilize it. a miracle is behind the disaster. For appreciating the kindness of mount Merapi, the inhabitants give offerings annualy to make calm down the spirits guarding this mountain.

Dwi, accept my condolences for your lovely grandpa. RIP. Sorry for a long delayed-posting 🙂

The Origin of My Name

Hello isna, when you hold a quiz gifted a postcard in Indonesian postcrossing community forum, I am thinking about to take a part. Of course since I remember your previous postcard adrressed to my place, until now it hasnt reached to my house (nangis bombay. What this is a fact  that I live in a very remote area? Oh no!!).

403936_3570867281085_1735996272_n

Oke, isna My name is Indra Ardiansyah. Like all parents in over the world, surely my parents did not give my birth name in  vain. Name is a wish. Parent’s desire. Ok, The word “Indra” (not inder) comes from the Hindu mythology. Indra in the Holy Vedas is described as the leader of the gods (Pemimpin dewa dewa lho). By the wise men, He was given a various titles as the god of weather, the god of war, the god of rain, the king of Khayangan and many titles clinging to him based on his character. He is the God who led the eight deities that take responsibilities in controlling aspects of nature. That’s why my father want me in later, I will always treat the earth well and make it as a better place for its mortal or entire human race.

 When I went to the puppet museum in Old town of Jakarta, I saw a puppet of Batara Indra. He is depicted holding a lightning thunderbolt in his hand (cetar membahana kan pegang petir di tangannya) and ride on a white elephant. Because of that, He is also well-known as God of Thunderstorm. Join with other Gods, he was chosen being the leader to conquer againts giants. And they won. Based on this old puppetry story, My father craved on me in order I could take advantages of his characters. For examples, always to protect and speak up for the poor/weakness and defying againts all forms of tyrani.

Next  the word of “ardian”. Ardian is “Gunung” in Javanese language though I doubt it. Because I rarely hear this word from Javanese native people. When we say “Gunung”, the word of “Tinggi or Besar” might go around in our mind, right? My parents want me so damnly for being a notable person in this world. Being a notable person, it is should not be showed with a noted profession such as president and minister, but how we can benefit to others and respect them. In addition and enrich our knowledge, according to the holy Vedas, Batara indra situated in Mount Meru in heaven. And we know Mount Semeru, the highest mountain  in East Java, its origin name is influenced by this belief. My father  always told me that never stop to dream in my entire life. Keep your chin up to the summit of Mountain. Put your dream to the highest. Going to the extra miles. Besides that, my father want his last only beloved son someday would eager to adventurous activity such as hiking and hopping Island. At the end, their dream come true. I like traveling, visit a new places and encounter various race in my journey.

 252891_2040285417495_3693018_n

Last but not least, “Syah” originally comes from the word of “Raja” in Middle east language. It literally represent a king, captain or leader. Wow. Finally, all by means you find what image that my parents want to me. On briefly, the meaning of my name is “Pemimpin yang tegas, berhati tulus, tak pernah berhenti bermimpi dan selalu membela kaum yang lemah serta menyukai dunia petualangan hehe. Those characters is expected  eternally comes into my soul and give spirit in my daily activity. Shadow upon me where my feet step on 🙂

*this post is specially made for gaining a postcard from isna nugraha putra

Gunung Tangkuban Perahu, Eksotisme Alam Priangan

Bandung, kota menawan yang selalu merindu. Ketika pertama kali pergi kesana, ke kebun teh ciwidey, kawah putih dan jalanan kota bandung, saya langsung jatuh cinta. Kotanya yang eksotis penuh sejarah dengan balutan panorama pegunungan yang indah membuat saya selalu terbayang ketika sudah berada di Jakarta. Hingga kemudian ada ajakan dari teman satu kosan, bayu, dwi dan mahend untuk jalan jalan lagi ke bandung. saya langsung mengiyakan. Kita mencarter mobil di bintaro. Karena kita kurang pasukan, akhirnya saya mengajak teman yang lain. Saya hubungi teman-teman yang punya hobi traveling. Si subhe anak makasar yang obsesi banget dengan bandung, akhirnya mau ikutan juga. Kemudian saya hubungi dedy teman kelas saya yang anak bandung asli. Pas kutelpon, si dedy lagi mau pulkam bareng ambardi. Langsung saja saya ajak mereka bareng naik mobil carter daripada dia naik mobil travel. Sekalian dedy yang jadi guide petunjuk jalan kita di selama jalan jalan di bandung.

Jadilah kami bertujuh ke bandung. Berangkat jam 7 pagi. Sampe disana jam 9 pagi. Kita yang awalnya berencana mau nginap di hotel murahan, si dedy malah ngajakin nginep di rumahnya. Hoho makasih ya ded. Ntar kamu kalo mw jalan2 ke madura I’ll be the best partner as well as you served me.

Setelah istirahat bentar dan naruh barang bawaan di rumah dedy plus nunggu yoga teman saya anak bandung yang katanya mau ikutan jalan2 juga, kita berangkat ke Tangkuban Perahu. Kita lewat Lembang menuju bandung utara. Tiba-tiba saya teringat film petualangan sherina. Kalo ga salah ada tempat syuting sherina di lembang yang di pinggir jalan banyak hutan pinus berbaris-baris. Tetapi saya belum menemukannya di sepanjang pinggir jalan. Pas saya tanyakan hal ini ke dedy, dia malah bingung. Garuk garuk kepala.

“Aduh dimana itu ya. Ga tau in hehe”.

Raut muka saya menyusut. Masa orang bandung tidak tahu tempat pariwisatanya sendiri. Tiba-tiba yoga di bangku belakang mobil nyeletuk.

“Ini ndra pohon pinusnya”. Saya melongok keluar jendela. Hamparan pohon pinus menghiasi tepi sepanjang jalan. Yup bener sekali tempatnya disini. Persis. Sepi tempatñya. Saya seperti De javu banget. ulu pas nonton film itu pas kelas 6 sd, saya pengen banget ke tempat ini. Eh akhirnya kesampaian

427930_1985475051827_586631971_n

Akhirnya kita sampai juga di Puncak Gunung Tangkuban Perahu. Tempat cerita legenda Seorang anak yang jatuh cinta dengan ibunya sendiri. Ketika saya keluar dari mobil…wuissss angin sejuk pegunungan begitu gahar. Menyentuh lembut hingga terasa ke pori wajah. Suasananya sangat dingin di luar. Saya segera merapatkan resleting jaket yang belum tertutup sempurna. Pipi saya seperti daging sapi yang baru saja keluar dari kulkas. Terasa menyegarkan. Sejauh mata memandang, saya takjub dengan pemandangan di atas sana. Wonderful. Tidak ada kata lain yang bisa disematkan selain kata kata yàng bersaudara dengan keindahan. Sejenak gempuran beban mata kuliah kampus hilang tak berbekas disini. Cmon baby..it’s holiday

tangkuban-perahu-7

Kabut tipis memayungi sekitar kawah. Saya tidak merasakan panas disana. Mungkin begini rasanya musim gugur di belahan bumi utara. Tidak panas tetapi dingin dingin empuk. Seorang pedagang asongan menawarkan syal, topi rajut dan masker. Saya menolak. Jaket tebal musim dingin yang saya bawa dari bintaro, sepertinya sudah cukup bagi saya menahan dingin.

292508_1985475851847_1522302134_n

Gunung Tangkuban Perahu merupakan kawasan cagar alam yang berada di ketinggian 1870 meter dpl. Memiliki 17 kawah yang masih  aktif. Kawah Ratu sendiri adalah kawah yang paling populer di Gunung Tangkuban Perahu. Kawah Ratu dikelilingi pagar kayu untuk menghindari pengunjung nekad turun ke bawah kawah. Meski sudah ada tulisan peringatan, beberapa pengunjung ada yang nekad turun ke tepi kawah. Mereka duduk di dinding tebing yang permukaannya lebih padat. Terus foto foto narsis disana. Seakan tak mau kalah dengan mereka, Saya juga mengambil gambar diri disana. Terus update foto di blackberry dan fb. Alay hehe.

537339_3570865881050_1596145492_n

Untuk menikmati keindahan panorama kawah ratu, disini sudah disediakan beberapa gardu pandang. Ada empat titik sudut pandang untuk melihat panorama di sekitar kawah. Masing-masing sudutnya memiliki lansekap tersendiri yang menarik dan unik. Disana saya masuk ke sebuah gardu pandang bertingkat dua. Biasanya gardu ini digunakan pengunjung untuk beristirahat atau juga mengambil gambar disana. Mata saya jelalatan mencari dataran yang menyerupai perahu terbalik. Saya bingung. Perahu terbalik ini apakah sebuah gunung yang sekarang namanya Tangkuban Perahu atau sebuah daratan di Gunung Tangkuban Perahu itu sendiri?

548446_3570839160382_670355849_n

Well Tangkuban Perahu menurut saya wisata pegunungan yang mungkin sudah terlalu mainstream toh tetap cantik. Pesonanya masih anggun. Mungkin karena sedikit kawah gunung di Indonesia yang bisa diakses sehingga tempat wisata ini masih tetap diminati. Keindahan panoramanya menakjubkan. Benar benar memanjakan mata. Dari gardu pandang, ketika pandangan kita menuju ke arah seberang Gunung tangkuban perahu, kita akan melihat lembah cantik dan bukit bukit Hijàu dengan hutan pinusnya. Alam pegunungan khas tanah priangan. Eksotis seperti yang diceritakan di buku buku sekolah. Kontras dengan suasana di sekitar kawah yang begitu gersang. Andai di bandung bisa turun salju mungkin sekilas alam pegunungan ini akan tampak seperti hutan konifer di dataran siberia. Daun daun pinus dipenuhi bulir bulir salju. Beruang terlelap hibernasi dan kawanan serigala kutub dengan bulunya yang tebal sedang mencari makan. Amboi, so christmas-surrounding. Ah Sepertinya saya terlalu banyak berandai andai daritadi hehe.

Kita pindah ke gardu pandang yang lain. Eh disana saya bertemu dengan 3 biksu budha lagi menenteng Kamera DLSR. Mereka mengambil gambar panorama disana. Saya takjub. Saya pikir seorang biksu tidak terlalu tertarik dengan hal yang keduniawian. Ketika melihat pakaiannya, sepintas kok mirip pakaian ihram yah. Mungkin hanya perbedaan warnanya saja. Selebihnya hanya satu kain panjang yang meliliti tubuhnya. saya bilang ke teman-teman untuk ngajak foto bareng sama biksu, tapi teman-teman saya menolak. Sungkan katanya. Ya sudah akhirnya saya sendiri yang samperin biksu tersebut. Waktu itu biksunya dah selesai ngambil gambar dan hendak turun dari gardu pandang. Saya langsung mencegatnya.

“Maaf pak. Apa saya boleh foto dengan bapak?
“Oh boleh”

Akhirnya dapat juga foto sama biksu. Eh temanku yang lain malah pengen minta foto juga sama biksu. Padahal tadi gak mau, beuh. Somplak.

403936_3570867281085_1735996272_n

Kita turun lagi naik mobil menuju lereng. Pas lewat gerbang kawah domas, teman teman memutuskan tidak pergi kesana. Padahal saya pengen merasakan sensasi merebus telur disana. Yah beginilah kalo trip dengan banyak orang. Terkadang kita gak bisa memilih tempat wisata yang sesuai keinginan diri sendiri. Setiap orang punya passion berbeda. Anak anak dah ngebet pengen shopping di sekitaran jalan riau.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Trowulan : a misty Wonderland (Part8)

Setelah dari Candi Brahu, kita menyusuri jalanan kampung menuju Maha Vihara Majapahit. Selama perjalanan, kita akan melihat banyak sawah yang dijadikan lahan penambangan batu bata. Yeah semoga selama penggalian, siapa tahu bisa ditemukan benda benda bersejarah zaman majapahit.

IMG_0363
Akhirnya kami kena kutukan bandung bandawasa. Dikutuk jadi patung seksee hehe

Tidak sampai 5 menit kita sudah tiba di vihara. Sama seperti di situs candi sebelumnya, kita dipungut parkir sebesar 2000 rupiah. Disana pengunjung wajib mengisi buku tamu. Terus ada kotak sumbangan sukarela untuk pemeliharaan vihara ini. Di halaman vihara terdapat beberapa patung unik yang duduk di pelataran. Saya pun menjadi patung-patung jadian disana hehe. Di Maha Vihara Majapahit ini terdapat Patung Budha tidur raksasa (Sleeping Budha Statue). Letaknya berada di belakang vihara. Kalo gak salah, Patung ini terbesar ketiga di Asia setelah Thailand daan Nepal. Masuk Rekor muri tahun 2001. Kaget juga saya ternyata Patung Budha ini telah dibangun di tahun 1993. Saya saja baru tahu patung ini tahun 2011. Kenapa media gak terlalu menggembor-gemborkan ini ya? Orang mulai tahu situs ini ketika backpacking mulai menjadi gaya hidup anak muda Indonesia belakangan tahun ini. Dari tulisan blog travel, baru Patung budha ini mulai dikenal luas oleh publik.

IMG_0369

Tubuh patung Budha ini dibalut dengan warna keemasan. Semakin berkilau ketika sinar matahari memanggang badannya. Panjangnya mencapai 22 meter, Lebar 8 meter dan tinggi 4,5 meter. Melihat patung ini membuat saya merasa mendadak di Negeri Gajah Putih. Mendadak Thailand. Buat yang gak punya kocek banyak untuk backpackeran ke thailand, Wisata ini bisa menjadi alternatif untuk menghibur kamu termasuk saya yang memiliki dompet tipis 🙂

IMG_0365

Thank a lot to budi and Adi my colleagues in campus for accompanying me to travel around Trowulan Wonderland. I really enjoyed

Trowulan : a misty wonderland (Part 7)

IMG_0352

Setelah leyeh leyeh di Pendopo Agung selama 45 menit, kita berlanjut ke Candi Brahu. Dalam perjalanan menuju brahu, ada candi-candi di pinggir jalan. Sayangnya bangunan candinya sudah mirip reruntuhan dan tidak dikenali lagi bentuknya. Ketika teman mengajak mampir, saya bilang tidak karena harus mengejar waktu.  jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Jam stengah 12 lewat, kami harus sudah cari masjid buat jumatan. Tidak sampai 5 menit, akhirnya kita sampai di Candi Brahu. Disini kita Cuma dipungut biaya masuk sebesar 2000 rupiah sudah termasuk parkir.

IMG_0357

Dari struktur bangunannya, Candi brahu sepertinya candi budha. Dalam bayangan saya agak mirip candi mendut. Dan setelah googling ternyata benar Candi ini adalah Candi yang dipengaruhi budha. Belum dapat dipastikan fungsi candi ini. Berdasarkan penelitian arkeologis dan dongeng yang tumbuh di masyarakat trowulan, Candi ini merupakan tempat perdarmaan dan pembakaran jenazah raja-raja majapahit. Tempat abu raja disimpan di dalam sebuah lubang di bilik candi . Sayangnya di Candi brahu kita gak boleh naik ke bilik candi yang terletak di ketinggian candi ini. Takut Rapuh.

IMG_0358

Trowulan : a Misty Wonderland (Part 6)

IMG_0324

Setelah dari Candi tikus, kita berlanjut lagi ke Pendopo Agung. Ketika masuk ke pelataran parkir, aura bali begitu terasa. Gapura pintu masuk pendopo mirip gapura masuk ke dalam sebuah pura. Tetapi begitu masuk ke dalam, aura bali berganti nuansa jawa. Di dalam pendopo Agung ini terdapat bangunan menyerupai Joglo yang biasa digunakan pengunjung untuk beristirahat setelah capek menjelajah situs-situs trowulan.

IMG_0336
Patung raden Wijaya yang dinaungi payung akan tampak ketika kita akan memasuki halaman pendopo

Sebelum dibuat pendopo agung pada tahun 1964-1973, Dahulunya disini hanya terdapat deretan umpak batu atau dasar pilar penyangga untuk tiang bangunan. Dengan ditemukannya umpak batu disini, diperkirakan tempat ini merupakan pusat kerajaan/Keraton Majapahit. Tempat dimana Patih Gajah Mada mengangkat sumpah palapa. Sumpah dimana dia tidak akan berhenti berpuasa sebelum bisa menyatukan nusantara.

IMG_0328

Menurut Prapanca dalam kitab Negarakertagama; keraton Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Di dekatnya terdapat pos tempat para punggawa berjaga. Gerbang utama menuju keraton (kompleks istana) terletak di sisi utara tembok, berupa gapura agung dengan pintu besar terbuat dari besi
berukir. Di depan gapura utara terdapat bangunan panjang tempat rapat tahunan para pejabat negara, sebuah pasar, serta sebuah persimpangan jalan yang disucikan. Masuk ke dalam kompleks melalui gapura utara terdapat lapangan yang dikelilingi bangunan suci keagamaan. Pada sisi barat lapangan ini terdapat pendopo yang dikelilingi kanal dan kolam tempat orang mandi. Pada ujung selatan lapangan ini terdapat jajaran rumah yang dibangun diatas teras-teras berundak, rumah-rumah ini adalah tempat tinggal para abdi dalem keraton. Sebuah gerbang lain menuju ke lapangan ketiga yang dipenuhi bangunan dan balairung agung. Bangunan ini adalah ruang tunggu bagi para tamu yang akan menghadap raja. Kompleks istana tempat tinggal raja terletak di sisi timur lapangan ini, berupa beberapa paviliun atau pendopo yang dibangun di atas landasan bata berukir, dengan tiang kayu besar yang diukir sangat halus dan atap yang dihiasi ornamen dari tanah liat. Di luar istana terdapat kompleks tempat tinggal pendeta Shiwa, bhiksu Buddha, anggota keluarga kerajaan, serta pejabat dan ningrat (bangsawan). Lebih jauh lagi ke luar, dipisahkan oleh lapangan yang luas, terdapat banyak kompleks bangunan kerajaan lainnya, termasuk salah satunya kediaman Mahapatih Gajah Mada. Sampai disini penggambaran Prapanca mengenai ibu kota Majapahit berakhir.

IMG_0332
Sebuah catatan dari China abad ke-15 menggambarkan istana Majapahit sangat bersih dan terawat dengan baik. Disebutkan bahwa istana dikelilingi tembok bata merah setinggi lebih dari 10 meter serta gapura ganda. Bangunan yang ada dalam kompleks istana memiliki tiang kayu yang besar setinggi 10-13 meter, dengan
lantai kayu yang dilapisi tikar halus tempat orang duduk. Atap bangunan istana terbuat dari kepingan kayu (sirap), sedangkan atap untuk rumah rakyat kebanyakan terbuat dari ijuk atau jerami.

Sebuah kitab tentang etiket dan tata cara istana Majapahit menggambarkan ibu kota sebagai: “Sebuah tempat disitu kita tidak usah berjalan melalui sawah”. Relief candi dari zaman Majapahit tidak menggambarkan suasana perkotaan, akan tetapi menggambarkan kawasan permukiman yang dikelilingi tembok. Istilah ‘kuwu’ dalam Negarakertagama dimaksudkan sebagai unit permukiman yang dikelilingi tembok, tempat penduduk tinggal dan dipimpin oleh seorang bangsawan. Pola permukiman seperti ini merupakan ciri kota pesisir Jawa abad ke-16 menurut keterangan para penjelajah Eropa. Diperkirakan ibu kota Majapahit tersusun atas kumpulan banyak unit permukiman seperti ini.  (sumber : wikipedia)

Berdasarkan cerita dari literatur ini, tempat umpak batu ini lebih mendekati untuk dikatakan sebagai tempat keraton kerajaan. Atau bisa juga letak keraton berada di tempat lain yang berdekatan dengan letak pendopo agung ini. Karena berdasarkan deskripsi Mpu Prapanca dalam bukunya, bahwa sebelum masuk istana, kita akan melewati sebuah kolam dan kanal. Nah kebetulan letak kolam dengan tempat umpak batu ditemukan jaraknya tidak terlalu jauh yaitu sekitar 500 meter. Umpak batu ini juga ditemukan di tempat lain di trowulan. Karena itu arkeolog masih susah membuat peta arkeologi reruntuhan kota majapahit. Penggalian saat ini hanya dilakukan di sekitar situs situs yang telah ditemukan seperti candi. Belum lagi saat ini trowulan mulai dipadati rumah penduduk sehingga menyulitkan melakukan penemuan baru benda benda bersejarah.

IMG_0340

Struktur bangunan pendopo ini semuanya berasal dari kayu, hanya bagian dasar pilar yang terbuat dari batu yang tak lain umpak batu di zaman majapahit. Umpak batu yang tidak dipakai dalam kontruksi bangunan pendopo dapat kita temukan di halaman samping Pendopo agung.

IMG_0343
Deretan Umpak Batu

IMG_0349

IMG_0345
struktur atap..sori gambar belum digeser 90 derajat ke kiri

IMG_0341 IMG_0342  IMG_0344

Di bagian belakang pendopo kita akan menemukan relief-relief yang menceritakan keagungan Majapahit. Di relief ini juga terdapat daftar nama raja-raja majapahit dan juga nama nama Panglima Kodam brawijaya dari jaman kemerdekaan hingga sekarang. Jadi setiap ada Panglima Kodam Brawijaya yang diangkat, mereka akan diambil sumpah disini dan untuk selanjutnya namanya dipahat disini. wow

IMG_0325
Adi, mengaku hanya 30 menit perjalanan dari rumahnya ke trowulan, tapi baru kesini seumur hidupnya. Dia mengatakan ini satu hari yang mengubah sejarah hidupnya :p

%d blogger menyukai ini: